Mengulik Kisah Kontroversial dalam Epos Mahabharata (1): Poliandri

By

Mereka tidak bisa melanggar sumpah. Apalagi ibu mereka memberikan restu.

Apa yang ada di pikiran kalian jika mendengar kata Mahabharata? Cerita kuno, budaya India, filsafat Hindu, atau sebuah mahakarya dalam sastra?

Yep, semuanya benar. Mahabharata merupakan sebuah epos fenomenal. Kisah ini ditulis dalam Bahasa Sanskerta, secara garis besar, Mahabharata menceritakan kisah-kisah kepahlawanan yang di dalamnya memuat kisah perang antara Pandawa dan Korawa (Kurawa), memperebutkan takhta Hastinapura.

Namun di sini, saya tidak akan menjabarkan secara lengkap mengenai kisah dari Mahabharata. Melainkan salah satu kisah menarik dari epos Mahabharata yang bisa dibahas, yakni tentang Poliandri.

Kelima tokoh protagonis dalam kisah Mahabharata melakukan sebuah perbuatan yang tidak lazim untuk dilakukan. Mereka ber-poliandri terhadap seorang anak Raja Drupada bernama Draupadi.

Walaupun sempat ada sedikit pertentangan dari Ayah Draupadi, namun kelima pandawa tersebut memberikan alasan yang bisa diterima oleh Raja Drupada.

Alasannya adalah ketika mereka berlima hidup sengsara dan terlunta-lunta, mereka bersumpah bahwa akan membagi segala sesuatu yang mereka miliki, termasuk masalah pasangan. Mereka tidak bisa melanggar sumpah. Apalagi ibu mereka pun memberikan restu.

* * *

Pengertian dari Poliandri sendiri adalah sebuah bentuk poligami, yakni seorang wanita mengambil dua suami atau lebih dalam waktu bersamaan. Definisi lain tentang Poliandri secara sederhana juga memiliki arti seorang istri yang bersuami lebih dari satu orang.

Poliandri dibagi menjadi dua macam, yaitu: Poliandri fraternal, bila para suami beradik-kakak dan Poliandri non-fraternal, bila para suami bukan beradik-kakak.

Praktik poliandri, sebenarnya banyak terjadi di berbagai belahan dunia, pada umumnya secara terselubung, meski ada pula yang terbuka. Menurut Wikipedia, Poliandri antara lain terdapat pada orang Eskimo, Markesas (Oceania), Toda di India Selatan, beberapa bangsa di Afrika Timur, serta Tibet.

Seorang wanita di Inggris memiliki tiga suami dalam waktu bersamaan.

Di zaman post-modern, ada banyak kasus poliandri terjadi di berbagai belahan dunia. Contohnya seorang wanita di Inggris bisa memiliki tiga suami dalam waktu bersamaan. Seperti dilansir dari portal Vivanews.

Tak hanya di luar negeri, di Indonesia juga pernah dihebohkan kasus poliandri yang ada di Madura. Seperti yang dilansir VOA Islam: Suami Berpoligami, Istri Balas Menikahi Teman Suaminya. Selain di Madura, seperti ini juga terjadi beberapa wilayah lain yakni di Jambi dan Aceh.

Tanpa disadari, kasus poliandri sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita. Seorang wanita yang belum sah bercerai kemudian menikah lagi, perbuatan ini sama dengan poliandri, dan pihak perempuan tersebut dapat dituntut Pasal 279 KUHP.

Jika melihat dari kisah poliandri yang dilakukan Draupadi bersama kelima Pandawa, hal itu dilakukan bukan atas dasar untuk mendapatkan kesenangan nafsu seks dengan memiliki suami lima.

Melainkan merupakan takdir yang tidak bisa dihindari. Ini terlepas dari benar atau tidaknya kisah epos Mahabharata tersebut.

Dengan demikian, poliandri yang dilakukan Draupadi tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan poliandri, lebih-lebih hanya untuk mendapatkan kesenangan nafsu seks yang dapat menghantarkan seseorang pada penderitaan, baik pada kehidupan saat ini, maupun pada kehidupan setelah kematian, di akhirat.

Ada banyak alasan kenapa poliandri dilarang sedangkan poligami dibolehkan (walau menimbulkan kontra bagi beberapa kalangan, seperti kaum feminisme); Pertama, akan terjadi kerancuan garis keturunan. Kedua, akan sulit mengetahui siapa ayah dari si bayi (meskipun bisa dilakukan dengan tes DNA). Ketiga, bisa menyakiti istri dalam berhubungan intim.

Kisah seperti ini bisa kita jadikan gambaran betapa kompleksnya sudut pandang orang-orang dalam menanggapi sebuah hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan. Belum lagi jika membahas tentang pernikahan sesama jenis, satu darah (incest), poligini, serta kombinasi antara poliandri & poligami¹.

* * *

¹Untuk pembahasan mengenai kompleksitas poligami telah saya uraikan ke dalam
artikel "Poligami, Yakin Masih Mau?" yang rilis pada tanggal 02 April, 2021

BACA: Poligami, Yakin Masih Mau?

BACA JUGA: Poligami, Perselingkuhan dan Radikalisme

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like