Ada sebuah paradoks yang menarik di sudut kota Surabaya. Di satu sisi, nama Dokter David Andreasmito identik dengan kemewahan — Hedon Estate, kafe-kafe bergaya, properti eksklusif yang menjadi magnet kaum urban. Di sisi lain, di balik citra hedonis yang melekat pada merek bisnisnya, tersimpan sebuah misi yang jauh dari glamor: merangkul mantan narapidana terorisme, orang-orang yang pernah memilih jalan kekerasan sebagai bahasa perjuangan.
Inilah kisah seorang dokter gigi yang belajar bahwa menyembuhkan tidak selalu membutuhkan bor dan tambalan. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah secangkir kopi, sebuah meja, dan keberanian untuk duduk berhadapan dengan seseorang yang pernah bersumpah atas nama kematian.
Dari Mulut ke Jiwa: Perjalanan Seorang Dokter yang Melampaui Kliniknya
David Andreasmito memulai karirnya seperti kebanyakan dokter gigi lainnya — dengan stetoskop gigi, lampu sorot, dan pasien yang lebih banyak berkeringat daripada berbicara di kursi perawatan. Namun, David bukan tipe dokter yang puas hanya dengan membersihkan karang gigi dan mengobati karies.
Jawa Timur, khususnya Surabaya, adalah tanah yang subur bagi dualitas. Kota Pahlawan ini menyimpan energi perlawanan yang telah mengalir sejak 1945 — sebuah energi yang sayangnya, di era modern, kadang tersalurkan ke arah yang keliru. Surabaya pernah menjadi salah satu episentrum jaringan radikalisme di Indonesia. Tragedi bom Gereja di Surabaya tahun 2018 meninggalkan luka yang belum sepenuhnya kering di ingatan kolektif warga kota.
Di tengah konteks inilah David menemukan panggilan keduanya.
Sebagai sosok yang memiliki jaringan sosial luas — dari kalangan profesional medis hingga komunitas bisnis hospitality — David memiliki modal sosial yang justru langka di antara para pegiat deradikalisasi: ia tidak tampak seperti aparat, tidak berbicara seperti birokrat, dan tidak mendekati mantan napi teroris seperti seorang petugas.
Ia mendekati mereka sebagai manusia kepada manusia.
Hedon Estate: Panggung yang Tak Terduga
Siapa yang menyangka bahwa sebuah kafe bernuansa mewah bisa menjadi ruang rehabilitasi jiwa?
Hedon Estate — dengan estetikanya yang terinspirasi budaya modern, dengan kopi-kopinya yang diseduh dengan penuh presisi, dengan ruang-ruangnya yang memanjakan selera — menjadi semacam neutral ground yang tak ternilai. Di sinilah David sering menggelar pertemuan informal yang sesungguhnya menyimpan agenda yang jauh lebih dalam dari sekadar bincang santai.
Tidak ada seragam dinas. Tidak ada kamera pengawas yang mencolok. Tidak ada formulir yang harus diisi. Yang ada hanyalah percakapan, yang mengalir pelan seperti espresso pertama di pagi hari.
"Orang yang pernah melewati pengalaman ekstrem membutuhkan ruang yang normal terlebih dahulu," begitu kira-kira filosofi yang dipegang David. "Sebelum kita bicara tentang ideologi, tentang rekonsiliasi, tentang masa depan — mereka perlu merasakan bahwa dunia ini masih mau menerima mereka tanpa syarat yang menyulitkan."
Konsep ini sejalan dengan pendekatan deradikalisasi kontemporer yang menekankan pada reintegrasi sosial berbasis penerimaan komunitas, bukan semata pada indoktrinasi balik atau pengawasan ketat. David memahami ini secara intuitif, mungkin justru karena ia bukan berlatar belakang intelijen atau kriminologi — ia adalah dokter yang terbiasa membaca ekspresi wajah pasien yang kesakitan namun enggan berterus terang.
Saat David Duduk Bersama Umar Patek
Tidak banyak warga sipil Indonesia yang berani — atau diizinkan — untuk melakukan dialog langsung dengan figur sekelas Umar Patek, mantan anggota Jemaah Islamiyah yang namanya terpatri dalam sejarah kelam Bom Bali 2002. Namun David melakukannya.
Pertemuan itu bukan rekayasa media. Bukan pula agenda politik. Ini adalah cerminan dari pendekatan yang selama ini dibangun David secara organik: bahwa deradikalisasi sejati membutuhkan aktor-aktor sipil yang kredibel, yang tidak membawa agenda tersembunyi, yang datang bukan sebagai pemenang yang menghakimi pecundang, melainkan sebagai sesama manusia yang percaya pada kemungkinan perubahan.
Umar Patek, yang bebas bersyarat pada 2023 setelah menjalani sebagian hukumannya, adalah simbol dari kompleksitas program deradikalisasi Indonesia. Di satu sisi, pembebasannya memantik kontroversi internasional. Di sisi lain, dalam perspektif reintegrasi, ia adalah ujian nyata: apakah sistem — dan masyarakat — mampu menerima seseorang yang telah menyatakan tobat?
Dialog yang dilakukan David dengan Umar Patek bukan sekadar pertemuan seremonial. Dalam konteks program integrasi mantan napiter (narapidana teroris) di Jawa Timur, langkah semacam ini memiliki nilai strategis yang sangat signifikan. David, dengan latar belakangnya sebagai tokoh publik yang disegani di Surabaya, memberikan legitimasi sosial bahwa seorang mantan napiter bisa diterima dalam ekosistem masyarakat normal — bahwa pintu tidak selalu harus tertutup rapat.
Baca juga: Reintegrasi Konkret Umar Patek: Dari Racik Bom ke Racik Kopi
Anatomi Peran: Apa Sesungguhnya yang Dilakukan David?
Jika kita bedah peran Dokter David Andreasmito dalam ekosistem deradikalisasi dan reintegrasi mantan napiter di Surabaya dan Jawa Timur secara lebih sistematis, setidaknya ada tiga lapisan kontribusi yang bisa diidentifikasi.
Pertama, ia berfungsi sebagai jembatan kepercayaan.
Salah satu hambatan terbesar program deradikalisasi di Indonesia — bahkan secara global — adalah defisit kepercayaan. Mantan napiter sering kali memandang program pemerintah dengan skeptisisme yang telah mengeras menjadi tembok. Mereka tidak percaya pada janji reintegrasi, karena pengalaman lapangan sering berbicara lain: stigma sosial tetap melekat, akses ekonomi tetap tertutup, dan komunitas menolak kehadiran mereka. David, dengan kapasitasnya sebagai warga sipil yang independen, mampu memasuki celah kepercayaan yang sulit dijangkau oleh pendekatan resmi.
Kedua, ia menyediakan model alternatif identitas.
Salah satu faktor yang membuat ideologi ekstremis begitu kuat adalah kemampuannya menawarkan identitas yang kuat dan bermakna — rasa memiliki, tujuan hidup, bahkan "kehormatan" dalam perspektif kelompok. Deradikalisasi yang efektif harus mampu menawarkan narasi tandingan yang sama menariknya, bukan sekadar larangan dan hukuman. Lingkungan bisnis David — dengan ekosistem kafe, properti, dan hospitality yang ia bangun — secara tidak langsung membuka peluang bagi mantan napiter untuk melihat bahwa ada jalan lain menuju kehidupan yang bermartabat tanpa harus bersembunyi dalam sel ideologi.
Ketiga, ia membangun ekosistem penerimaan komunitas.
Reintegrasi tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja. David, dengan jaringan sosialnya yang luas di Surabaya hingga Banyuwangi, mampu menggerakkan komunitas yang lebih besar untuk membuka diri — setidaknya tidak menutup diri secara refleks terhadap mantan napiter yang ingin memulai lembaran baru. Dalam bahasa sosiologi, ini disebut sebagai community-based reintegration, dan David memainkan peran kunci sebagai gatekeeper yang membuka pintu komunitas.
Surabaya dan Beban Sejarah yang Harus Diselesaikan
Jawa Timur bukan sekadar wilayah administratif dalam peta deradikalisasi Indonesia. Ia adalah epicenter yang menyimpan jaringan historis gerakan ekstremisme — dari Pesantren Ngruki hingga sel-sel yang berkaitan dengan JI, dari peristiwa Bom Surabaya 2018 yang mengoyak nurani bangsa, hingga berbagai proses hukum yang kini memasuki fase kritis: reintegrasi.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Jawa Timur termasuk dalam provinsi dengan jumlah mantan napiter yang signifikan yang memerlukan pendampingan reintegrasi. Program yang berjalan secara formal memang ada, namun keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi aktor sipil — tokoh masyarakat, pengusaha, pemuka agama, profesional — yang bersedia turun tangan secara nyata, bukan hanya memberikan dukungan moral dari jauh.
Di titik inilah David mengisi ruang yang kosong itu.
Kritik dan Kompleksitas: Membaca Sosok David Secara Utuh
Tentu saja, narasi ini tidak bisa dibaca sepihak. Ada pertanyaan-pertanyaan kritis yang perlu dikemukakan secara jujur.
Seberapa jauh peran David terstruktur dan terkoordinasi dengan program resmi BNPT dan Densus 88? Apakah inisiatif-inisiatifnya berjalan secara sinergis dengan kebijakan negara, ataukah lebih bersifat personal dan episodik? Bagaimana efektivitasnya diukur, dan apakah ada mekanisme evaluasi yang memadai?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk meragukan niat baik David, melainkan untuk menekankan bahwa deradikalisasi adalah kerja sistemik yang tidak bisa sepenuhnya ditopang oleh heroisme individual, seberapa genuine pun motivasinya.
Yang jelas, David Andreasmito telah membuktikan satu hal penting: bahwa kepedulian terhadap reintegrasi mantan napiter tidak harus — dan tidak seharusnya — hanya menjadi domain negara dan aparat. Warga sipil, pengusaha, profesional — mereka semua memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membangun ekosistem penerimaan yang menjadi syarat mutlak keberhasilan deradikalisasi jangka panjang.
Pada akhirnya, mungkin itulah bentuk kepedulian yang paling sunyi: ketika seseorang memilih duduk berhadapan dengan mereka yang pernah dianggap musuh, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membuka kemungkinan baru bahwa perubahan memang bisa terjadi.
*Ditulis sebagai potret tokoh dalam konteks program reintegrasi dan deradikalisasi mantan narapidana terorisme di Jawa Timur.
**Foto utama: Dokter David berfoto bersama beberapa eks napiter asal Jawa Timur dalam satu kesempatan.(Dok. Pribadi M. Saifuddin Umar)
Komentar