GIANYAR, BALI – Kemasyhuran pariwisata Bali tidak terjadi dalam sekejap mata. Ada proses panjang yang melibatkan masyarakat untuk bahu-membahu membangunnya. Jalan yang dilalui pun tak selalu mulus. Berbagai ujian sempat memukul industri pariwisata Pulau Dewata, mulai dari Gempa Bumi tahun 1917, wabah penyakit, hingga tragedi kemanusiaan Bom Bali I (Oktober 2002) dan Bom Bali II (Oktober 2005).
Dua kali ledakan bom tersebut memberi pukulan telak bagi pariwisata Bali. Namun, alih-alih menyimpan dendam, masyarakat Bali memilih menempatkan insiden tersebut sebagai momen introspeksi diri kepada Tuhan, sekaligus pijakan untuk menata kembali kehidupan sosial-budayanya. Berkolaborasi dengan berbagai pihak—terutama aparat keamanan—pariwisata Bali berhasil bangkit hingga terus mendunia sampai saat ini.
Dinamika bangkitnya Bali diingat betul oleh Prof. Tjok Oka Sukawati. Mantan Wakil Gubernur Bali dan Bupati Gianyar yang kini menjabat sebagai Ketua PHRI Bali tersebut merupakan akademisi di Universitas Udayana. Beliau juga putra dari Tjokorda Gede Agung Sukawati, Raja Ubud sekaligus pelopor pariwisata budaya Bali.
Respons Dunia dan Ancaman Rasa Saling Curiga
"Saat terjadi Bom Bali I tahun 2002, respons masyarakat dunia adalah simpati. Mereka menempatkan Bali sebagai korban, sehingga dalam waktu 6 bulan kami bisa recovery. Namun, saat terjadi Bom Bali II, dunia tidak lagi melihat Bali sebagai objek yang dikasihani. Bali dinilai tidak belajar dari Bom Bali I, hingga negara-negara luar mengeluarkan travel warning," kenang Tjok Oka saat diwawancarai usai menjadi pemateri kegiatan Studi Tiru Pengelolaan Publikasi Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Hijau Melalui Jejaring Media Strategis pasilitasi Bank Indonesia Jateng di Gianyar, Bali, Kamis (30/7/2026).
Tjok Oka mengenang, dampak tragedi itu tidak hanya tercermin dari merosotnya angka kunjungan wisatawan secara drastis. Ada hal lain yang tak kalah menakutkan: munculnya rasa saling curiga di tengah masyarakat.
Untuk menepis potensi perpecahan tersebut, Kapolda Bali saat itu, I Mangku Pastika, mengambil langkah strategis dengan membentuk Honorary Police Officer (Polisi Kehormatan). Sekitar 32 ketua kelompok masyarakat di Bali diberi peran kepolisian kehormatan. Setiap kali muncul gesekan bernuansa SARA, para tokoh ini dengan cepat dikumpulkan untuk berdialog demi mendinginkan suasana.
"Pada waktu itu kita punya Kapolda yang cukup cekatan, Pak I Mangku Pastika. Jadi dari sekian kelompok waktu itu, rasa saling curiga bisa diredam. Kita bisa tetap fokus pada siapa yang sebenarnya melakukan kejahatan," lanjutnya.
Sudut Pandang Introspeksi: "Bukan Kesalahan Amrozi"
Dari sisi penegakan hukum, aparat keamanan berhasil mengurai dan menangkap jaringan di balik aksi teror tersebut. Kelompok teror Jamaah Islamiyah (JI) terbukti bertanggung jawab atas peristiwa yang menewaskan ratusan korban jiwa tersebut. Para pelaku utama hingga jejaringnya ditangkap dan dijatuhi hukuman.
Namun, bagi Tjok Oka, penanganan krisis tidak boleh berhenti pada aspek keamanan semata. Hal yang tak kalah penting adalah bagaimana memulihkan dan menata kembali akar sosial-budaya agar masyarakat bangkit lebih kuat.
"Sebelum tahun 2002, Bali sebenarnya sudah dua kali dicoba dibom—sekali meledak di kendaraan, dan sekali tidak berhasil meledak. Artinya, saat itu Tuhan belum menghendaki Bali dibom. Namun, kejadian tahun 2002 menginspirasi kami bahwa ada sesuatu yang tidak beres di internal Bali," ungkapnya.
"Bukan kesalahan Amrozi, bukan kesalahan Imam Samudra, tapi kita orang Bali yang tidak mampu menjaga Bali," ujar Tjok Oka tegas.
Ketika mendapat informasi bahwa kawasan Ubud diduga menjadi sasaran berikutnya, Tjok Oka memperketat penjagaan sekaligus mengajak masyarakat Ubud untuk berserah diri dan berdoa.
"Kami ajak masyarakat sembahyang, meminta maaf kepada Tuhan bahwa kami tidak becus menjaga pulau ini. Kami tetap terbuka (welcome) dengan suku apa saja. Kami yakin kelompok lain tidak bersalah; mereka yang bersalah adalah 'utusan Tuhan' untuk mengingatkan kami bahwa ada hal yang perlu diperbaiki di Bali. Kami percaya apa yang terjadi adalah atas kehendak-Nya," jelasnya.
Buah Introspeksi dan Kebangkitan Pariwisata
Alih-alih menyalahkan pihak luar, pemulihan pariwisata dan sosial-budaya Bali justru berakar dari introspeksi internal. Masyarakat Bali terus melakukan pembenahan diri sembari gencar mempromosikan kembali pariwisatanya. Media massa, baik lokal maupun internasional, dirangkul untuk mengabarkan bahwa Bali telah kembali aman dan kondusif.
Perlahan tapi pasti, pariwisata Bali bangkit pesat. Dengan jumlah penduduk lokal sekitar 4,8 juta jiwa, angka kunjungan wisatawan kini melonjak berkali-kali lipat. Data Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat, pada tahun 2025 jumlah wisatawan yang mengunjungi Bali berhasil menembus angka 16,3 juta orang.
"Itulah yang terjadi, sehingga tidak timbul konflik sosial berkelanjutan setelah peristiwa Bom Bali. Rasa saling curiga yang sempat ada di awal, alhamdulillah dapat teratasi," pungkas Prof. Tjok Oka. (Eka Setiawan)
*Foto:
Prof Tjok Oka Sukawati saat diwawancarai usai jadi pemateri kegiatan Studi Tiru Pengelolaan Publikasi Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Hijau Melalui Jejaring Media Strategis fasilitasi Bank Indonesia Jateng di Gianyar, Bali, Kamis (30/7/2026).[Eka Setiawan]
Komentar