Ekstremisme Telah Berubah. Sudahkah Cara Kita Mencegahnya Ikut Berubah?

Analisa

by Arti Rahardjo Editor by Arif Budi Setyawan

Kalau beberapa tahun lalu ada yang bertanya bagaimana seseorang bisa terlibat dalam ekstremisme, mungkin jawaban saya sederhana: karena ideologi.

Namun, hari ini saya tidak lagi yakin jawabannya sesederhana itu. Semakin banyak orang yang saya temui, semakin banyak kisah yang saya dengar, dan semakin sering saya berdialog dengan anak-anak muda, saya justru merasa bahwa ideologi sering kali datang belakangan. Yang datang lebih dulu adalah kebutuhan manusia untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu.

Pernahkah kita bertanya, mengapa seseorang bisa merasa begitu dekat dengan orang asing di internet, tetapi justru semakin jauh dari keluarganya sendiri? Di layar ponsel yang hanya beberapa inci, seseorang dapat menemukan teman, pengakuan, bahkan tujuan hidup.

Sayangnya, ruang yang sama juga bisa menjadi tempat tumbuhnya gagasan-gagasan yang perlahan mengubah cara seseorang memandang dirinya, orang lain, dan dunia. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari ekstremisme di tempat yang jauh, padahal jejak awalnya justru sering berawal dari kebutuhan yang sangat manusiawi: ingin diterima, didengar, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu.

Ekstremisme setelah Zero Attack

Beberapa tahun terakhir, Indonesia patut bersyukur karena jumlah serangan teror berhasil ditekan hingga mencapai kondisi yang sering disebut zero attack. Namun, apakah itu berarti ancamannya benar-benar mengecil?

Belum tentu. Yang berubah mungkin bukan tingkat ancamannya, melainkan bentuk ekstremismenya. Selama bertahun-tahun, ekstremisme sering dipahami sebagai sesuatu yang lahir dari organisasi. Gambaran yang muncul adalah proses kaderisasi yang panjang, doktrin yang terstruktur, baiat kepada kelompok tertentu, lalu berujung pada aksi kekerasan.

Hari ini, dunia tempat ekstremisme tumbuh sudah jauh berbeda. Internet mengubah hampir semua cara manusia membangun identitas, termasuk cara seseorang bersinggungan dengan gagasan-gagasan ekstrem.

Jika dahulu seseorang masuk ke sebuah jaringan, lalu mempelajari ideologinya, kini proses itu sering berjalan sebaliknya. Banyak orang justru menemukan kepingan-kepingan ideologi di internet. Mereka mengambil simbol, slogan, meme, atau narasi yang terasa cocok dengan identitas yang sedang mereka bangun. Tidak selalu karena memahami ideologi tersebut secara utuh, tetapi karena merasa bahwa simbol-simbol itu mewakili siapa diri mereka.

Komunitas daring kemudian menjadi ruang baru tempat identitas dibentuk. Dari sana, sebagian orang mulai memungut gagasan dari berbagai tempat, mencampurkannya dengan keresahan pribadi, lalu menjadikannya bagian dari citra diri yang ingin mereka tampilkan.

Fenomena ini mengingatkan pada konsep fast-food terrorism yang diperkenalkan Thomas Renard dan Colin Clarke. Istilah ini menggambarkan ekstremisme yang dikonsumsi secara instan, dipilih sesuai selera tanpa perlu memahami keseluruhan

ideologi di baliknya. Yang dicari bukan selalu keyakinan politik atau agama yang utuh, melainkan sesuatu yang terasa mampu menjawab kebutuhan untuk diakui, merasa berbeda, atau menemukan tempat untuk menjadi bagian dari sesuatu.

Barangkali, pertanyaannya bukan lagi, "Bagaimana seseorang dipengaruhi oleh ideologi ekstrem?"

Tetapi, "Mengapa ruang digital menjadi tempat yang begitu efektif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang paling mendasar?"

Pertanyaan itu penting karena internet tidak menciptakan kebutuhan akan makna, penerimaan, atau rasa memiliki. Kebutuhan itu sudah selalu ada. Yang berubah adalah lingkungan tempat kebutuhan tersebut dipenuhi. Di ruang digital, semuanya berlangsung lebih cepat, lebih personal, dan sering kali tanpa pengawasan siapa pun. Jika demikian, strategi pencegahan pun semestinya ikut berubah.

Benteng Pertama Itu Bernama Keluarga

Terlalu lama perhatian kita tertuju pada organisasi, jaringan, atau narasi ideologi. Padahal, sebelum semua itu muncul, ada ruang yang jauh lebih dekat dengan kehidupan setiap orang, yaitu keluarga.

Tentu, keluarga tidak mungkin mengawasi setiap aktivitas digital anggotanya. Hal itu hampir mustahil. Namun, keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar tentang rasa memiliki, diterima apa adanya, berbeda pendapat tanpa kehilangan kasih sayang, dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidupnya. Ketika ruang itu tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut, ruang digital hampir selalu menawarkan alternatif. Persoalannya, tidak semua ruang digital menawarkan arah yang sehat.

Justru karena itu, kekuatan keluarga tidak terletak pada kemampuannya mengontrol. Keluarga tidak mungkin bersaing dengan algoritma yang bekerja dua puluh empat jam sehari. Yang dimiliki keluarga adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh algoritma, yaitu hubungan yang nyata, kepercayaan, ruang untuk berdialog, dan rasa aman untuk bertanya tanpa takut dihakimi.

Meyakini pentingnya keluarga bukan berarti menganggap keluarga sebagai jawaban atas semua persoalan ekstremisme. Namun, barangkali sudah terlalu lama kita melihat ekstremisme hanya dari ujungnya—ketika seseorang sudah menjadi pelaku. Padahal, prosesnya sering dimulai jauh lebih dekat, di dalam rumah, dalam relasi sehari-hari, dan dalam pencarian makna yang sangat manusiawi.

Karena itu, membangun ketahanan keluarga bukan sekadar memperkuat institusi keluarga, tetapi juga memperkuat kualitas relasi di dalamnya. Kemampuan untuk saling mendengar, berdialog, menghadapi perbedaan, dan tetap menjadi tempat pulang ketika seseorang sedang mencari jati dirinya, jauh lebih penting daripada yang selama ini kita bayangkan. Mungkin inilah saatnya mulai melihat ekstremisme dari sudut pandang yang berbeda. Bukan semata sebagai persoalan keamanan atau ideologi, tetapi juga sebagai persoalan relasi, identitas, dan ketahanan keluarga.

Rumah tidak pernah berhenti menjadi benteng pertama pencegahan ekstremisme. Hanya saja, ancaman yang datang ke dalamnya kini telah berubah. Dan ketika ancamannya berubah, cara kita memperkuat rumah pun perlu ikut berubah. Mungkin dari sanalah percakapan berikutnya perlu dimulai.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar