Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Esai Pertamaku Setelah Semua yang Terjadi
Setelah menyelesaikan essay itu, apakah aku berhenti begitu saja? Tentu saja tidak. Justru dari situlah rasa penasaranku terhadap dunia kepenulisan ilmiah semakin besar. Aku mulai berpikir, mungkin memang ini jalanku. Aku terus meyakinkan diri bahwa meskipun berasal dari background Islamic Studies, aku tetap bisa berkontribusi di dunia penelitian. Selama ini banyak orang menganggap isu seperti radikalisme, konflik global, atau trauma perang lebih dekat dengan disiplin ilmu lain. Padahal menurutku, Islamic Studies juga punya ruang yang sangat besar untuk membahas isu-isu tersebut. Pemikiran itulah yang terus membuatku ingin belajar lebih jauh.
Suatu hari aku sedang iseng scroll Instagram. Tiba-tiba muncul sebuah postingan tentang program grant yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga pemerintah Australia yang bekerja sama dengan Indonesia. Aku buka informasi lengkapnya satu per satu. Saat membaca tema-temanya, mataku langsung tertuju pada topik agama dan generasi muda. Rasanya seperti, "Ini menarik."
Lucunya, saat itu aku sama sekali belum tahu apa itu grant. Benar-benar nol. Bedanya apa dengan lomba? Prosesnya bagaimana? Apa yang harus dipersiapkan? Aku bahkan belum pernah melihat contoh proposal grant sebelumnya. Tapi entah kenapa, bukannya mundur, aku malah nekat mencoba. Semua kupelajari sendiri. Aku membaca guideline berulang-ulang, mencari informasi dari internet, membuka berbagai contoh proposal, lalu mencoba memahami sedikit demi sedikit apa yang sebenarnya diminta oleh penyelenggara.
Baru setelah cukup jauh mempersiapkan semuanya, aku sadar kalau ternyata program yang kuikuti ini bukan grant biasa. Ini hibah internasional yang cukup bergengsi. Waktu melihat daftar penerima tahun-tahun sebelumnya, rasa percaya diriku langsung turun. Banyak yang berasal dari universitas ternama, lembaga riset, organisasi besar, bahkan orang-orang yang memang sudah lama berkecimpung di bidangnya. Sedangkan aku? Seorang mahasiswi Islamic Studies yang bahkan baru mengenal dunia grant.
Sempat minder? Sangat.
Tapi ya sudah, pikirku waktu itu, toh belum tentu juga gagal. Selama masih ada kesempatan untuk mencoba, kenapa harus menyerah duluan?
Akhirnya aku mulai menyusun proposal. Tema yang kupilih tentu tidak jauh dari hal yang memang sudah lama menarik perhatianku, yaitu radikalisme dan generasi muda. Proposal itu kuberi judul "Unity in Diversity: Empowering Australian Muslim Youth Against Radicalism." Sampai sekarang aku masih ingat judul itu, karena itulah proposal grant internasional pertama yang benar-benar kususun sendiri. Seluruh proposal harus kutulis dalam bahasa Inggris. Jujur, itu menjadi tantangan tersendiri. Berkali-kali aku membaca ulang setiap kalimat karena takut tata bahasanya kurang tepat atau ide yang ingin kusampaikan tidak tersampaikan dengan baik.
Belum selesai sampai di situ. Persyaratan berikutnya justru jauh lebih membuatku kaget. Aku diwajibkan memiliki project partner dari Australia. Selain itu, proposal juga harus dilengkapi dengan berbagai support letter dari sejumlah pihak di Indonesia. Saat membaca bagian itu, aku sempat diam cukup lama sambil berpikir, "Ini serius?"
Aku yang bahkan belum punya pengalaman mengikuti grant internasional, sekarang harus mencari partner lintas negara dan meminta surat dukungan dari berbagai pihak.
Tapi ya namanya sudah terlanjur mendaftar, masa berhenti di tengah jalan?
Akhirnya semua kenalan yang mungkin bisa dihubungi mulai kuhubungi satu per satu. Akademisi, relasi organisasi, dosen, sampai siapa pun yang sekiranya bisa memberikan arahan atau dukungan. Ada yang langsung membalas, ada yang membutuhkan waktu, ada juga yang tidak pernah merespons sama sekali. Setiap hari rasanya selalu ada hal baru yang harus diurus. Kadang setelah satu persyaratan selesai, muncul lagi persyaratan lain yang ternyata belum terpenuhi.
Kalau dipikir-pikir sekarang, aku sendiri heran, waktu itu dapat keberanian dari mana. Rasanya benar-benar modal nekat. Berkali-kali muncul rasa takut, minder, bahkan merasa mungkin aku sedang bermimpi terlalu tinggi. Tapi di sisi lain aku juga berpikir, kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali. Kalaupun nantinya gagal, setidaknya aku gagal setelah benar-benar mencoba, bukan karena menyerah bahkan sebelum memulai.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar