Ketukan di Pagi Buta

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Saat Keraguan Berubah Menjadi Ketakutan

Kabar penangkapan teman Farhan di Lampung tidak benar-benar berhenti sebagai sebuah berita. Setelah hari itu, suasana di antara kami berubah. Farhan terlihat jauh lebih gelisah dibanding biasanya.

Ia memang berusaha bersikap tenang di depanku, tetapi aku bisa melihat perubahan itu dari hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Ia lebih sering memegang ponselnya, beberapa kali keluar untuk menelepon tanpa banyak bicara, dan sesekali terlihat melamun cukup lama. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Setiap kali kutanya, jawabannya selalu sama, bahwa aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.

Tidak lama setelah itu, Farhan mengajakku pergi ke Jakarta. Alasannya sederhana. Setelah kami menikah secara resmi menurut negara, kami memang belum sempat berkunjung ke rumah orang tuanya. Ia mengatakan sudah waktunya memperkenalkanku sebagai istrinya kepada keluarga besarnya. Kalimat itu terdengar wajar, bahkan sempat membuatku berpikir bahwa mungkin perjalanan ini akan menjadi kesempatan bagi kami untuk memperbaiki hubungan yang selama beberapa waktu terakhir dipenuhi pertengkaran.

Namun di balik alasan tersebut, aku tetap melihat kegelisahan yang sulit ia sembunyikan. Cara bicaranya tidak setenang biasanya. Ada sesuatu yang membuatku merasa bahwa perjalanan ini bukan sekadar perjalanan keluarga.

Kami berangkat dari Lampung menuju Jakarta dengan perjalanan yang cukup melelahkan. Sepanjang jalan, kami tidak banyak berbicara. Sesekali Farhan membuka ponselnya, lalu kembali menyimpannya tanpa mengatakan apa pun.

Aku beberapa kali mencoba memulai percakapan, tetapi jawabannya singkat-singkat. Pikiranku kembali dipenuhi pertanyaan yang sejak beberapa hari terakhir tidak pernah benar-benar hilang. Aku masih teringat penangkapan temannya. Aku masih teringat e-book yang kutemukan di laptopnya. Dan aku masih berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa semua itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan kami.

Sesampainya di Jakarta, kami lebih dulu menuju rumah orang tua Farhan. Rumah itu sedang cukup ramai karena salah satu iparnya juga sedang menginap di sana. Semua kamar terpakai, sehingga akhirnya kami memutuskan mencari hotel untuk bermalam. Saat itu aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh. Aku justru merasa sedikit lega karena setelah perjalanan panjang, kami bisa beristirahat lebih tenang sebelum kembali ke rumah orang tuanya keesokan hari.

Malam itu, setelah meletakkan barang-barang di kamar hotel, Farhan keluar sebentar untuk membeli makan di depan hotel. Aku memilih tetap berada di kamar. Tubuhku terasa lelah setelah perjalanan berjam-jam, jadi aku hanya duduk di tepi tempat tidur sambil menyalakan televisi. Awalnya aku tidak benar-benar memperhatikan tayangan yang muncul. Aku hanya membiarkan televisi menyala sebagai teman di dalam kamar yang tiba-tiba terasa sunyi.

Namun beberapa menit kemudian, mataku langsung tertuju pada layar.

Breaking news.

Televisi sedang menayangkan proses penangkapan terduga terorisme di kawasan Tambun, Bekasi. Kamera memperlihatkan rumah yang dipenuhi aparat bersenjata, garis polisi, dan kerumunan warga yang berdiri di sekitar lokasi. Aku memperhatikan berita itu tanpa berkedip. Lalu penyiar mulai menyebutkan identitas singkat orang yang ditangkap. Ketika inisial namanya disebutkan, dadaku langsung terasa sesak. Inisial itu sama persis dengan salah satu teman Farhan yang juga pernah beberapa kali kudengar namanya.

Aku masih berusaha meyakinkan diriku bahwa mungkin hanya kebetulan. Tapi semakin lama berita itu berlangsung, semakin banyak informasi yang membuatku merasa tidak sedang melihat orang lain. Aku terus memandangi layar televisi sampai suara pintu kamar terbuka. Farhan masuk sambil membawa kantong makanan di tangannya dan aku langsung memanggilnya.

"Coba lihat ini."

Farhan menoleh ke arah televisi. Wajahnya yang semula terlihat biasa perlahan berubah pucat pasi. Ia tidak mengatakan apa pun selama beberapa detik. Matanya terus menatap layar, mengikuti setiap gambar yang ditampilkan. Ketika lokasi penangkapan disebutkan kembali, ia hanya berdiri diam. Aku menoleh ke arahnya.

"Bukannya... ini temen kamu?"

Ia tidak langsung menjawab. Baru setelah beberapa saat ia menganggukkan kepala pelan. Tanpa banyak bicara, ia duduk di tepi tempat tidur sambil terus memandangi berita itu sampai selesai. Suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat sunyi.

Untuk kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan, aku melihat seseorang yang pernah berada begitu dekat dengan kehidupan kami muncul dalam pemberitaan penangkapan terorisme. Rasanya sulit kujelaskan. Jika sebelumnya aku masih bisa menganggap semuanya sebagai kebetulan, kali ini aku mulai kehilangan alasan untuk meyakinkan diriku sendiri. Aku kembali mengajukan pertanyaan yang sama, mungkin untuk kesekian kalinya.

"Kamu benar-benar tidak terlibat, kan?"

Farhan mengangguk cepat.

"Iya. Aku tidak terlibat."

Jawaban itu terdengar tegas, tetapi entah mengapa tidak lagi mampu menenangkan pikiranku. Ada sesuatu pada raut wajahnya yang berbeda. Aku sudah cukup lama mengenalnya untuk mengetahui kapan ia sedang benar-benar tenang dan kapan ia sedang menyembunyikan sesuatu. Malam itu, aku melihat kegelisahan yang tidak bisa ia tutupi, meskipun ia terus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Kami tidak lagi membahas berita tersebut. Makanan yang tadi dibelinya hampir tidak kami sentuh. Tubuh kami sama-sama lelah setelah perjalanan panjang, dan malam semakin larut. Akhirnya kami memutuskan beristirahat. Aku tidak tahu jam berapa tepatnya aku terbangun. Yang kuingat, suasana kamar masih gelap. Aku terbangun karena ingin melaksanakan salat Subuh. Dalam keadaan setengah sadar, aku menoleh ke samping tempat tidur.

Kosong.

Awalnya aku mengira Farhan sedang berada di kamar mandi. Tapi setelah kutunggu beberapa saat, tidak terdengar suara apa pun. Aku memanggil namanya pelan. Tidak ada jawaban. Aku berdiri dan memeriksa seluruh sudut kamar.

Kamar mandi kosong.

Aku kembali melihat ke arah tempat tidur. Tas miliknya juga sudah tidak ada. Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Aku segera mengambil ponsel dan mencoba menghubunginya. Sekali. Tidak diangkat. Dua kali. Tetap tidak ada jawaban. Aku mencoba lagi beberapa kali, tetapi hasilnya sama. Panggilanku hanya berdering tanpa pernah dijawab.

Semakin lama, rasa panik itu semakin sulit kukendalikan. Aku berdiri sendirian di kamar hotel yang bahkan bukan berada di kotaku sendiri. Aku tidak tahu ke mana Farhan pergi. Aku tidak tahu kenapa ia pergi tanpa mengatakan apa pun. Semua kemungkinan buruk yang beberapa hari terakhir memenuhi kepalaku tiba-tiba datang bersamaan. Lalu, di tengah kepanikan itu, terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar.

Tok... tok... tok...

Aku terdiam.

Ketukan itu kembali terdengar, kali ini sedikit lebih keras. Dengan langkah ragu, aku mendekati pintu. Dari balik pintu terdengar suara seorang petugas hotel.

"Permisi kak... maaf di bawah ada yang mencari."

Aku membeku beberapa detik. Kepalaku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan. Siapa yang mencariku sepagi ini? Kenapa Farhan menghilang tanpa meninggalkan satu pesan pun? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?

Sejak mendengar kabar penangkapan teman-temannya, pikiranku memang tidak pernah benar-benar tenang. Ketakutan yang selama ini berusaha kutekan tiba-tiba muncul bersamaan. Apakah semua ini ada hubungannya dengan penangkapan itu? Apakah ada sesuatu yang selama ini tidak kuketahui? Atau... apakah ini awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kubayangkan?

Untuk sesaat, aku hanya berdiri mematung di depan pintu, berusaha mengatur napas yang mulai terasa sesak, sebelum akhirnya suara ketukan itu terdengar lagi.

Tok... tok... tok…!



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar