Ulasan Film The Odysseus (2026): Kesederhanaan Di Tengah Epic

Review

by Ari Vardhana Editor by Arif Budi Setyawan

The clearest view of a man is from below. (Pandangan paling jernih soal seseorang justru datang dari bawah)

Kalimat itu adalah salah satu dialog dalam The Odyssey (2026) yang menarik buat diriku. Begitu baca ulang kalimatnya, yang langsung kebayang di kepalaku adalah satu momen yang paling menempel: waktu Odysseus, masih menyamar jadi pengemis lusuh, berjalan bareng Telemachus yang belum tahu kalau orang di sebelahnya itu ayahnya sendiri, beberapa saat setelah dia menyelamatkan sang anak dari serangan mendadak di Kuil Apollo. Sebagai pengemis, sebagai orang dengan status paling rendah di antara semua yang ada di Kerajaan Ithaca, justru Odysseus bisa melihat siapa yang benar-benar setia dan siapa yang cuma menjilat setelah beberapa tahun tidak pulang. Ironisnya, itu juga jadi cermin buat kondisi sekarang: orang yang paling ribut soal kebenaran di media sosial biasanya justru yang paling jauh dari lapangan, sementara orang yang credible sebenarnya sering kali adalah orang yang selama ini dipandang sebelah mata.

Christopher Nolan menulis, menyutradarai, sekaligus memproduseri film 172 menit ini. Formulanya mirip film-film dia sebelumnya. Bedanya, kali ini dia mengadaptasi puisi epik karya Homer, penyair Yunani kuno yang menulis kisah Odysseus sekitar abad ke-8 SM. Jadi ini cerita yang sudah dibaca, ditonton ulang, dan dikutip orang jauh sebelum bioskop Odysseus 2026 ada.

Matt Damon jadi Odysseus, Anne Hathaway jadi Penelope (istrinya), Tom Holland jadi Telemachus (anaknya), dan Robert Pattinson jadi Antinous, salah satu kandidat pelamar paling menyebalkan yang kelakuannya bikin gregetan, mirip vibe menye-menye di Twilight padahal ganteng. Ironisnya, di sini juga sama, tapi karakternya cukup untuk digampar. Karakter Antinous benar-benar salah, bukan cuma karena dia pengkhianat sumpah kepada keluarga Sinon (Elliot Page), tapi karena dia melanggar xenia, semacam hukum keramahan tamu ala Yunani kuno yang katanya dijaga langsung oleh Zeus. Intinya, siapa pun yang numpang di rumah orang wajib dihormati, dan tuan rumah wajib menjamu. Antinous dan rombongan pelamar lain melanggar itu selama bertahun-tahun tidak ada raja. Jadi dia bukan jahat generik, dia jahat karena melanggar aturan yang di dunia itu dianggap suci.

Kru di belakang layar sudah beberapa kali ikut produksi dengan Christopher Nolan, seperti Hoyte van Hoytema (sinematografer langganan Nolan di Interstellar, Dunkirk, Tenet, sampai Oppenheimer), lalu Jennifer Lame (editor Oppenheimer dan Tenet), dan Ludwig Göransson (komposer Tenet, Oppenheimer).

Dari sisi angka, film ini nyaris nggak ada saingan: skor 95 persen dari kritikus dan 97 persen dari penonton di Rotten Tomatoes ini adalah rekor tertinggi sepanjang karier Nolan — dengan bujet 250 juta dolar AS dan pendapatan global sudah tembus 280 juta dolar cuma di akhir pekan pembukaan. Buat perbandingan, itu jauh lebih mahal dari Oppenheimer yang cuma 100 juta dolar, dan bahkan lebih mahal dari Tenet yang sekitar 205 juta dolar. Film-film yang secara struktur cerita jauh lebih berani dan rumit. Artinya, dana paling gede yang pernah dipegang Nolan sepanjang kariernya ini justru dipakai buat bikin film yang, menurutku, secara narasi paling ringan dibanding dua pendahulunya itu.

Film dibuka dari sudut pandang Telemachus, anak muda yang berusaha mempertahankan wibawa sebagai pangeran kerajaan sambil nunggu ayah yang mungkin sudah mati, sekaligus korban bully, karena itu jadi motivasi awal dia berangkat berlayar mencari sang ayah. Dari titik itu Nolan mulai main plot cerita lompat-lompat: ke ingatan Odysseus soal Perang Troya, terus ke pelayaran yang penuh Cyclops (raksasa satu mata), penyihir Circe, sampai dunia orang mati.

Adegan Cyclops dieksekusi dengan gaya film monster klasik: ada ketakutan manusia, riuh pas api menyala, tapi sedikit lucu waktu si Cyclops teriak minta tolong ke bapaknya, Poseidon (dewa laut yang jadi musuh nggak kelihatan sepanjang film, cuma nongol lewat dialog dan gelombang), "Ayah Poseidon, mereka membuatku buta!"

Kemudian adegan Circe justru kebalikannya: jauh lebih gelap dan sensual, salah satu momen paling aneh yang pernah dibuat Nolan. Pasukan Odysseus yang berubah jadi babi gara-gara keserakahan mereka sendiri. Jadi ingat pernah nonton Spirited Away-nya Studio Ghibli, ada nuansa serupa di sini: orang tamak yang berubah wujud jadi binatang sebagai hukuman, lalu datang penyelamat.

Fragmentasi ingatan kayak gini bukan hal baru buat penonton Nolan. Warren Buckland, akademisi yang menulis soal puzzle film — istilah buat film yang sengaja bikin penonton kerja keras menyusun ulang alur biar paham ceritanya — dia pernah bilang sutradara kayak Nolan bagian dari generasi yang sengaja menolak logika sebab-akibat yang linear, demi mengajak penonton ikut dalam cerita protagonis. Bedanya, di Odyssey ini lompatan waktu memperkuat memory karena Odysseus yang terlalu banyak makan Lotus, bukan teka-teki yang beneran perlu disusun ulang kayak pas nonton Memento atau Inception. Ada kemungkinan ini karena cerita Odysseus sendiri sudah dikenal luas duluan. Bahkan tahun 2024 kemarin ada juga film The Return yang lebih fokus nyeritain detail masa setelah Perang Troya. Jadi Nolan nggak perlu rumit-rumit terhadap detail, cukup nge-adjust dikit formulanya, mirip kayak dulu dia ngerjain Interstellar. Nolan membawa kita ke ingatan Odysseus, terus tarik balik ke masa kini, mirip ombak laut yang naik-turun, tapi nggak pernah bawa kita ke kedalaman baru buat ketemu Poseidon, yang cuma jadi ancaman via dialog, nggak pernah kelihatan wujudnya.

Tapi ada satu adegan yang justru menempel di kepala: Odysseus saat dia memenangkan perang dan menjadi pahlawan, tapi justru dia merasa di posisi yang tidak bahagia setelah melihat dan merasakan kekejaman Perang Troya. Bukan kemenangan, bukan kebanggaan — cuma rasa hampa yang panjang. Dan dia tahu tentang itu, setelah tujuan menyerang Troya yang awalnya kelihatan mulia berubah jadi kumpulan pasukan barbar dan melanggar hukum dewa-dewi.

Di titik inilah kalimat pembuka tadi jadi relevan lagi. Pandangan paling jernih soal manusia justru datang dari bawah. Kemenangan perang, siapa pun pemenangnya, selalu membuat efek butterfly effect yang jauh lebih sedih.

Jujur, sebagai orang yang selalu bilang "Apa pun film Nolan, aku bakal fucking watch it", aku pulang dengan perasaan, "Oh, ini Odyssey-nya Nolan." Ending-nya Odysseus milih mengasingkan diri, tapi kalah dramatis dibanding, misalnya, adegan kepergian di The Lord of the Rings. Dari sisi dramatic kolosal, masih kalah megah dibanding film 300. Karakter Telemachus juga masih kurang "klik" sebagai anak yang dibully, dibanding misalnya Tyrion di Game of Thrones yang penderitaannya jauh lebih sakit.

Momen nonton selalu menjadi refleksi bukan hanya dari film, tapi lingkungan sekitar, seperti bioskop sepi meski akhir pekan. Sesuatu yang aneh mengingat skornya nyaris sempurna dari banyak kritikus sebagai "pujian universal" — pintu masuk paling ramah ke beberapa film Nolan.

Film Odysseus layak masuk watchlist di tahun ini, apalagi buat yang belum pernah kenal Mas Christopher Nolan. Cobalah nonton film karya salah satu talenta terbaik ruang sinema. Buat penonton lama, pasti setuju Nolan jago bangun karakter lewat memori para karakter film, bikin kita percaya sama cerita "cakep" dari awal sampai akhir.

Terakhir, bayangan capek, rumit, dan teka-teki ternyata tidak ada. Mungkin realitas di dunia nyata sekarang sudah terlalu njelimet, jadi film Nolan itu simple, dan itu nggak apa-apa. Dari film Odysseus saya belajar, "Nggak semua kepulangan harus dramatik. Kadang, kayak Odysseus, kita cuma perlu belajar sabar sampai bisa di rumah."



*Foto: Poster Film Odysseus (2026).[https://www.odysseymovie.com/gallery/]

Komentar

Tulis Komentar