MY PRISON MY COLLEGE : Program Pembinaan Yang Diterima

Other

by Arif Budi Setyawan

Selama menjalani masa pidana dilapas, kami para napiter juga mendapatkan beberapa kali kegiatan yang merupakanbagian dari program pembinaan kami. Program pembinaan para napiter itumayoritas adalah kegiatan re-edukasi, baik yang diselenggarakan oleh BNPTmaupun dari para akademisi. Selain re-edukasi, selama saya menjalani pidana dilapas Salemba kami juga pernah mendapatkan dua kali pelatihan ketrampilan,yaitu pelatihan bercocok tanam dengan sistem hidroponik dari BNPT dan pelatihanperbaikan AC dari Pusat Riset Ilmu Kepoilisian dan Kajian Terorisme UniversitasIndonesia (PRIK-KT UI).


Untuk kegiatan re-edukasi, selamasaya di Lapas Salemba kami menerima sebanyak enam kali kegiatan re-edukasi.Tiga dari BNPT dan tiga lagi dari PRIK-KT UI. Oh iya, selain re-edukasi danpelatihan ketrampilan kami juga beberapa kali menjalani kegiatan ‘monitoring’dari BNPT. Yang dimaksud kegiatan monitoring itu adalah kami diminta untukmengisi form kuesioner/angket tentang pemikiran kami dan memainkan game untukmengetahui perkembangan pemikiran kami juga.


Dari ketiga jenis kegiatanpembinaan yang kami terima itu yang paling saya suka dan menurut saya palingbermanfaat bagi saya pribadi adalah kegiatan re-edukasi. Mengapa ?


Karena dalam kegiatan re-edukasiitu didatangkan para pakar dan ahli yang akan berdialog, berdiskusi, danmemaparkan materi-materi terkait wawasan keislaman yang lebih luas, wawasankebangsaan, dan bimbingan psikologi. Saya bisa bertemu dan berkonsultasi denganpara tokoh dan ahli sekelas Profesor, Doktor, atau minimal para lulusan S2secara gratis bahkan dapat uang pembinaan. Hehe..


Dari program re-edukasi itu pulasaya mendapatkan penjelasan mengapa para cendekiawan muslim bisa menerimaPancasila tetapi tetap meyakini bahwa Islam adalah yang terbaik. Saya juga jaditahu tentang sejarah kemuliaan dan kejayaan Islam di seluruh dunia yang diakuioleh semua pihak, di mana hal itu menginspirasi bangsa-bangsa lain untukmencapai kemajuan. Meskipun ada juga yang merasa terancam dengan kehadiranIslam lalu memeranginya.


Saya belajar memahami konsepperjanjian damai antara muslim dengan masyarakat atau bangsa-bangsa disekitarnya yang tentu saja memiliki beragam latar belakang. Saya belajartentang diplomasi. Saya belajar menempatkan urusan sesuai kondisi yang adatanpa harus kehilangan sebuah idealisme. Saya belajar mengatasi konflik yangmerupakan sebuah keniscayaan dalam hidup bermasyarakat.


Semua itu saya dapatkan darihasil perenungan di dalam lapas dan dibantu oleh arahan dan masukan dari paraahli yang datang.


Bagi sebagian kawan sesamanapiter hal itu dianggap hanya sebagai acara formalitas dan cenderungmeremehkan para ahli yang datang, sehingga bagi mereka kegiatan seperti itutidak ada manfaatnya.


Tetapi bagi yang mau mengambilmanfaat pasti akan mendapatkan manfaat dari kegiatan itu. Kebaradaan parakriminal di lapas saja bisa mendatangkan manfaat berupa hikmah dan pelajaranbagi diri ini, apalagi kehadiran orang-orang pinter itu.


Setiap mengikuti programre-edukasi saya selalu menanyakan kepada setiap narasumber apakah mereka siapmembantu atau bekerjasama dengan saya setelah saya bebas nanti ? Dari reaksimereka masing-masing, saya kemudian menentukan siapa saja yang berpotensi untukbenar-benar membantu karena memang tidak semuanya bisa (bersedia) membantu.


Dan setelah saya bebas punhubungan dengan beberapa ahli yang pernah datang masih terus terjaga. Mereka adalahorang-orang yang senang melihat perubahan positif dari orang yang pernah merekabina. Apalagi jika mau berkarya dan meminta bimbingan mereka dalam karya itu,mereka menyambutnya dengan senang hati.


Dari situlah saya kemudianberkesimpulan, bahwa jika mau berkarya, maka masyarakat akan menyambut baikkarya itu apa pun kualitasnya. Karena dengan berkarya masyarakat mendapat buktibahwa saya telah berubah.

Komentar

Tulis Komentar