Ketika mendengar kata terorisme, kebanyakan orang langsung membayangkan bom, penembakan, atau berbagai aksi kekerasan yang menimbulkan korban jiwa. Pandangan itu tidak salah karena memang itulah bentuk terorisme yang paling terlihat. Namun, dari pengalaman hidup yang pernah saya jalani, saya memahami bahwa terorisme sebenarnya bukan hanya soal aksi. Yang lebih berbahaya adalah cara berpikir atau ideologi yang melatarbelakanginya.
Bom bisa meledak dalam hitungan detik. Pelakunya bisa ditangkap dalam hitungan jam atau hari. Tetapi paham yang melahirkan aksi tersebut dapat hidup bertahun-tahun dan menyebar kepada banyak orang tanpa disadari. Karena itu, ketika aksi teror menurun, bukan berarti ancamannya telah hilang sepenuhnya.
Indonesia patut bersyukur karena dalam beberapa tahun terakhir aksi teror berhasil ditekan secara signifikan. Banyak jaringan berhasil dibongkar dan berbagai rencana serangan dapat digagalkan oleh aparat keamanan. Namun menurut saya, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah penyebaran paham yang melahirkan terorisme juga sudah berhenti? Jawabannya belum tentu.
Saat ini penyebaran paham radikal justru semakin mudah karena didukung perkembangan teknologi dan media sosial. Seseorang tidak perlu lagi datang ke pertemuan tertutup untuk terpapar paham ekstrem. Cukup melalui video pendek, potongan ceramah, meme, atau narasi yang memainkan emosi, seseorang dapat terpengaruh tanpa menyadarinya. Apalagi jika informasi agama atau sosial yang diterimanya hanya dipahami secara sepotong-sepotong.
Dari pengalaman dan pengamatan saya, seseorang tidak pernah tiba-tiba menjadi teroris. Ada proses panjang yang dilalui. Hal ini sejalan dengan teori "Staircase to Terrorism" yang dikemukakan oleh Fathali M. Moghaddam. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang naik selangkah demi selangkah menuju ekstremisme. Awalnya mungkin merasa kecewa, marah, diperlakukan tidak adil, atau kehilangan harapan terhadap keadaan di sekitarnya. Ketika perasaan itu tidak menemukan solusi yang sehat, ia mulai mencari kelompok yang dianggap mampu memberikan jawaban.
Pada tahap berikutnya, cara pandangnya perlahan berubah. Dunia mulai dilihat secara hitam-putih. Kelompok sendiri dianggap paling benar, sementara pihak lain dipandang sebagai lawan. Jika proses ini terus berlangsung, seseorang dapat sampai pada titik di mana kekerasan dianggap sebagai sesuatu yang dibenarkan. Karena itulah aksi teror sebenarnya hanyalah ujung dari proses yang jauh lebih panjang.
Menurut saya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menangkap pelaku, tetapi mencegah lahirnya pelaku baru. Pendekatan keamanan tentu penting, tetapi tidak cukup. Pencegahan harus dilakukan dengan memperkuat pendidikan, membangun kemampuan berpikir kritis, serta menghadirkan pemahaman agama yang utuh dan moderat.
Kita juga perlu jujur melihat bahwa radikalisme tidak tumbuh di ruang kosong. Ketidakadilan, kesenjangan sosial, korupsi, diskriminasi, dan rendahnya kepercayaan terhadap institusi sering kali menjadi bahan yang dimanfaatkan kelompok ekstrem untuk menarik simpati. Selama persoalan-persoalan tersebut masih ada, propaganda radikal akan selalu menemukan celah untuk berkembang.
Sebagai mantan narapidana terorisme, saya juga melihat pentingnya memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang telah berubah. Banyak mantan napiter yang ingin kembali menjadi bagian dari masyarakat, tetapi masih menghadapi stigma dan kesulitan ekonomi. Padahal penerimaan sosial dan kesempatan hidup yang layak merupakan faktor penting untuk mencegah mereka kembali terhubung dengan jaringan lama.
Pada akhirnya, keberhasilan melawan terorisme tidak hanya diukur dari banyaknya pelaku yang ditangkap. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat memiliki daya tahan terhadap propaganda kebencian dan kekerasan. Pencegahan harus dimulai dari keluarga, sekolah, tempat ibadah, komunitas, hingga ruang digital yang kita gunakan setiap hari.
Dari perjalanan hidup yang pernah saya alami, saya belajar bahwa kekerasan tidak pernah menjadi solusi. Bom dapat dihancurkan oleh aparat keamanan, tetapi paham yang melahirkan bom hanya dapat dikalahkan melalui pendidikan, keadilan, dialog, dan kesadaran bersama. Jika kita ingin memenangkan perang melawan terorisme, maka yang harus dikalahkan bukan hanya pelakunya, melainkan juga cara berpikir yang membenarkan kekerasan itu sendiri.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar