"Mari Naik Bareng Saya" (Selamat Jalan, Pak Taufik)

Tokoh

by Arif Budi Setyawan Editor by Redaksi

Hari itu tanggal 14 Maret 2018, saya datang ke hotel tempat CVE Communication Workshop yang diselenggarakan oleh Yayasan Prasasti Perdamaian.

Saya tidak langsung masuk ke ruang acara.

Ada perasaan canggung yang sulit dijelaskan. Bagaimanapun juga, saya bukan peserta resmi. Saya datang tanpa undangan. Saya hanya seseorang yang berharap bisa ikut mendengarkan dan belajar dari forum yang seharusnya tidak saya masuki. Satu-satunya modal saya adalah relasi dengan Mas Haris yang jadi panitia acara tersebut.

Saya pun memilih menunggu di area lobi hotel sambil sesekali melihat ponsel menunggu Mas Haris datang terlebih dahulu. Setidaknya saya punya "orang dalam" yang bisa mengantar masuk. Namun harapan itu buyar ketika Mas Haris mengabari bahwa ia baru akan datang agak siang. Saya diminta masuk saja karena kehadiran saya sudah dikoordinasikan dengan panitia.

Saat masih berdiri ragu-ragu di depan lift, seorang pria menghampiri saya. Wajahnya ramah. Ia menyapa lebih dulu dan menanyakan apakah saya peserta workshop yang datang terlambat. Beliau bertanya demikian mungkin karena melihat saya datang dengan ransel besar di punggung.

Saya tersenyum kaku.

"Bukan, Pak. Saya sebenarnya tamu tak diundang," jawab saya setengah bercanda. "Cuma ingin ikut belajar kalau diperbolehkan."

“Kalau begitu mari naik bareng saya. Kebetulan saya juga mau menghadiri acara itu,” ajak beliau ramah.

Sambil menunggu lift dan selama berada di dalamnya, alih-alih memandang aneh, beliau justru tertawa kecil. Tidak ada ekspresi keberatan. Sebaliknya, beliau memberikan dukungan dan mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan kehadiran saya.

Percakapan itu hanya berlangsung satu atau dua menit. Singkat. Ringan. Setelah itu kami berjalan menuju ruang acara.

Awalnya saya mengira beliau hanya salah satu tamu yang kebetulan hadir di workshop tersebut. Mungkin peserta, mungkin undangan lain. Tidak ada yang membuat saya berpikir lebih jauh.

Baru beberapa saat kemudian, ketika acara dimulai dan beliau dipanggil ke depan untuk memberikan sambutan, saya tersentak. Ternyata orang yang sejak tadi menemani obrolan santai saya di depan lift bukanlah peserta biasa.

Beliau adalah Bapak Taufik Andrie, Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian. Sebuah nama yang sudah cukup terkenal di dunia pendampingan napiter dan pemberdayaan eks-napiter.

***

Delapan tahun lebih telah berlalu sejak pertemuan singkat di depan lift itu.

Ketika siang hari tanggal 11 Juni 2026 kabar duka itu datang, saya sempat terdiam cukup lama di depan layar ponsel. Rasanya sulit percaya.

Pak Taufik Andrie telah berpulang.

Nama yang pertama kali saya dengar dari seorang sahabat eks-napiter alumni Lapas Tangerang 2011. Orang yang tanpa saya sadari menjadi salah satu sosok penting dalam perjalanan saya mengenal dunia reintegrasi sosial, perdamaian, dan pemberdayaan mantan narapidana terorisme.

Kabar itu terasa begitu mengejutkan karena kurang dari sebulan sebelumnya, tepatnya pada 19 Mei 2026, saya bersama Mas Noor Huda Ismail masih sempat menjenguk beliau di rumah sakit tempat beliau dirawat.

Saya masih mengingat suasana ruangan itu.

Pak Taufik terbaring lemah. Jauh berbeda dengan sosok yang selama ini saya kenal. Energinya yang biasanya melimpah seolah terkuras habis oleh sakit yang dideritanya. Suaranya nyaris tak terdengar. Setiap kalimat keluar dalam bentuk bisikan pelan yang membuat kami harus mendekat untuk mendengarnya.

Namun di tengah kondisi fisiknya yang menurun, saya masih melihat sosok Pak Taufik yang sama. Tatapannya berusaha tetap hangat. Senyumnya masih berusaha hadir meski sangat berat. Saat meninggalkan rumah sakit hari itu, saya tahu kondisinya tidak baik.

Tetapi seperti kebanyakan orang yang sedang berharap, saya tetap menyimpan keyakinan kecil bahwa beliau akan pulih. Bahwa suatu hari nanti kami akan kembali bertemu dalam sebuah diskusi, sebuah rapat, atau sekadar obrolan santai sambil membahas berbagai rencana yang belum sempat dikerjakan.

Ternyata Allah memiliki rencana yang lain.

Ketika saya mencoba mengingat perjalanan delapan tahun lebih mengenal beliau, yang muncul di kepala justru bukan rapat-rapat besar atau acara-acara formal. Yang saya ingat adalah hal-hal kecil.

Pak Taufik punya kebiasaan yang unik. Hampir setiap kali ada agenda pertemuan dengan saya, beliau sering datang membawa hadiah. Kadang sederhana, kadang tidak terduga. Tetapi selalu membuat orang yang menerimanya merasa dihargai.

Saya juga teringat gaya berpikirnya yang khas. Ketika banyak orang berhenti setelah menemukan jawaban, Pak Taufik justru baru memulai pertanyaan berikutnya.

"What next?"

"What if?"

Dua pertanyaan itu hampir selalu muncul setiap kali kami mendiskusikan hasil riset, perkembangan sebuah kasus, atau fenomena menarik dalam dunia P/CVE.

Apa berikutnya? Bagaimana jika situasinya berubah? Apa kemungkinan yang belum kita lihat. Seolah beliau tidak pernah puas hanya memahami keadaan. Beliau selalu ingin melihat kemungkinan yang ada di balik keadaan itu.

Dan tentu saja saya teringat kunjungan beliau pada Idul Fitri tahun 2023.

Saat itu beliau datang ke rumah bersama keluarganya. Tidak ada agenda resmi. Hanya silaturahmi. Hanya pertemuan antarkeluarga yang membuat hubungan kami terasa lebih dari sekadar relasi pekerjaan atau jaringan profesional.

Pak Taufik Andrie ketika berkunjung ke rumah saya, 24 April 2023.(Dok. Pribadi)

Kini, ketika saya menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa pertemuan pertama kami berlangsung hanya satu atau dua menit di depan lift sebuah hotel. Begitu singkat. Namun ternyata pertemuan singkat itu membuka persahabatan yang bertahan lebih dari delapan tahun.

Ketika mengenang beliau hari ini, yang terlintas dalam pikiran saya bukanlah Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian, bukan pula sosok yang dikenal luas di dunia pendampingan napiter.

Yang saya kenang adalah seorang lelaki ramah yang pernah berdiri bersama saya di depan lift, melihat seorang tamu tak diundang yang gugup memasuki sebuah ruangan, lalu berkata dengan ramah dan tulus:

"Mari naik bareng saya."

Kalimat itu mungkin hanya berlangsung sesaat.

Tetapi bagi saya, pintu yang beliau bantu buka hari itu ternyata tidak pernah benar-benar tertutup sampai sekarang.

Selamat jalan, Pak Taufik.

Terima kasih telah membuka banyak pintu bagi banyak orang.

Termasuk pintu yang pernah saya masuki untuk pertama kalinya pada pagi itu, dengan ransel besar di punggung dan keraguan yang memenuhi kepala.

Komentar

Tulis Komentar