Hidup Berdampingan dengan Luka yang Belum Selesai

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Ketika Pengetahuan Membantuku Memahami Trauma

Hari-hari berjalan seperti biasa. Pagi berganti siang, siang berganti malam, lalu besoknya terulang dengan pola yang nyaris sama. Dari luar, hidupku tampak baik-baik saja. Aku kuliah, mengerjakan tugas, menjalankan amanah sebagai ibu muda, dan berusaha memenuhi tanggung jawab yang ada. Tidak ada yang tampak aneh. Tidak ada yang tampak berbeda.

Namun ada satu hal yang selalu kubawa ke mana pun aku pergi: trauma yang belum benar-benar selesai.

Banyak orang mengira ketertarikanku pada isu radikalisme muncul karena alasan akademik semata. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit. Aku mengenal dunia itu dari jarak yang terlalu dekat, terlalu dekat sampai sebagian jejaknya masih tertinggal dalam diriku hingga hari ini. Aku memahami bagaimana cara berpikir yang berkembang di dalamnya, pola-pola yang digunakan, dan bagaimana seseorang bisa perlahan berubah tanpa menyadari bahwa dirinya sedang berubah. Semua pemahaman itu tidak datang secara gratis. Ada harga yang harus dibayar, dan harga itu adalah luka yang sampai sekarang masih sesekali membuka dirinya sendiri.

Kadang aku merasa baik-baik saja. Aku bisa membaca jurnal, paper, atau berita tentang radikalisme selama berjam-jam. Aku bisa membuat catatan, mencari pola, membandingkan teori, dan menikmati proses belajar itu. Bahkan sering kali aku merasa menemukan semangat baru. Tetapi ada hari-hari tertentu ketika semuanya berubah dalam hitungan detik. Hanya karena melihat sebuah judul penelitian, tubuhku langsung bereaksi: tangan gemetar, kaki terasa dingin, dada sesak. Yang paling aneh, terkadang aroma udara dari masa lalu kembali hadir begitu jelas, seolah-olah ada bagian dari otakku yang tiba-tiba membuka pintu yang selama ini terkunci, lalu seluruh ingatan berhamburan keluar tanpa izin.

Saat itu aku sering bertanya kepada diriku sendiri. Apakah ini benar-benar jalan yang ingin kutempuh? Apakah aku memang ingin meneliti isu ini? Ataukah aku hanya terus kembali karena sebagian diriku masih tertinggal di sana? Aku tidak pernah benar-benar memiliki jawaban yang pasti.

Semester empat seharusnya membuatku merasa bangga. Setengah perjalanan kuliah sudah kulewati. Namun perasaan dalam diriku tidak selalu mengikuti logika. Masih ada rasa minder yang muncul tanpa alasan, perasaan tidak berharga yang datang tiba-tiba. Ada hari ketika aku mampu fokus menyelesaikan tugas berjam-jam—membaca, menulis, berdiskusi, mengerjakan semuanya dengan baik, tetapi setelah semuanya selesai, aku bisa menangis sendirian. Bukan karena tugasnya sulit, bukan karena nilainya buruk. Aku hanya merasa lelah. Lelah karena terus berusaha terlihat baik-baik saja.

Namun yang lebih melelahkan dari semua itu adalah pertengkaran yang terjadi di dalam kepalaku sendiri. Kadang aku bertanya, "Apa aku cuma berlebihan?" Bukankah yang terjadi hanya putus sekolah? Bukankah banyak orang mengalami hal jauh lebih buruk? Kehilangan keluarga, rumah, masa depan. Sementara aku masih bisa kuliah, membaca buku, mengejar cita-cita. Mungkin aku terlalu lemah. Mungkin orang lain yang mengalami hal yang sama akan baik-baik saja. Mereka tidak akan gemetar hanya karena sebuah judul penelitian. Mereka tidak akan menangis setelah menyelesaikan tugas. Pikiran-pikiran seperti itu sering datang tanpa diundang.

Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa aku seharusnya bersyukur, bahwa luka itu seharusnya sudah selesai sejak lama. Tetapi di saat yang sama, ada bagian lain dari diriku yang tahu bahwa tubuh tidak pernah benar-benar berbohong. Jika semuanya sudah selesai, mengapa tanganku masih gemetar? Jika hanya masalah kecil, mengapa ada hari-hari ketika aku tidak mampu melakukan apa pun selain menatap kosong ke dinding? Jika aku benar-benar sudah baik-baik saja, mengapa kenangan itu masih bisa datang dengan begitu hidup, seolah kejadian tersebut baru berlangsung kemarin?

Aku tidak tahu jawabannya. Yang kutahu, terkadang yang paling menyakitkan bukan hanya trauma itu sendiri, melainkan perasaan bersalah karena masih terluka oleh trauma tersebut.

Pikiranku sering bergerak maju mundur antara masa kini dan masa lalu. Sebagian diriku ingin fokus pada kehidupan yang sedang kubangun sekarang: belajar, meneliti, menulis, menjadi ibu yang baik, dan mengejar mimpi. Namun sebagian yang lain masih terjebak dalam kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Kadang aku merasa sudah berjalan sangat jauh, lalu sebuah ingatan kecil muncul dan membuatku merasa kembali ke titik awal. Yang paling membingungkan adalah aku tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. Bahkan sampai hari ini masih ada bagian dari diriku yang sulit menerima bahwa semua yang pernah terjadi benar-benar nyata. Kadang aku memandang perjalanan hidupku sendiri dan bertanya-tanya, mungkinkah semua ini hanya mimpi buruk yang terlalu panjang? Karena jika dipikir dengan tenang, semuanya terasa terlalu tragis untuk menjadi nyata.

Hari ini aku masih belajar hidup berdampingan dengan semua itu. Bukan untuk melupakan, karena mungkin ada hal-hal yang tidak akan pernah benar-benar hilang. Aku hanya ingin sampai pada titik di mana masa lalu tetap menjadi bagian dari hidupku, tetapi tidak lagi menentukan seluruh masa depanku. Mungkin aku belum sampai di sana hari ini. Mungkin besok juga belum. Namun setidaknya aku masih berjalan. Dengan segala gemetar yang kadang kembali datang, dengan segala kenangan yang sesekali muncul tanpa permisi, dan dengan segala luka yang masih berusaha kupahami. Aku masih berjalan.

Dan untuk saat ini, mungkin itu sudah lebih dari cukup.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar