Gelar Doktor dan Pelajaran Tentang Perubahan

Tokoh

by Dr. Haris Amir Falah, M.A Editor by Arif Budi Setyawan

Jika ada seseorang yang mengatakan kepada saya bertahun-tahun lalu bahwa suatu hari saya akan mengenakan toga doktor dan berdiri di panggung wisuda, mungkin saya akan sulit mempercayainya. Bukan karena saya tidak menghargai pendidikan, tetapi karena perjalanan hidup yang saya lalui pernah membawa saya ke arah yang sangat berbeda.

Karena itu, ketika nama saya dipanggil dalam prosesi wisuda doktor di Gedung SABUGA ITB Bandung pada 13 Juni 2026, yang terlintas di benak saya bukanlah gelar akademik yang baru saya raih. Yang terlintas justru perjalanan panjang tentang perubahan, kesempatan kedua, dan orang-orang yang percaya bahwa manusia selalu memiliki peluang untuk menjadi lebih baik.

Pada 13 Juni 2026, saya berdiri di Gedung SABUGA ITB Bandung mengikuti prosesi wisuda doktor sebagai lulusan Program Doktor Universitas Pasundan. Bagi banyak orang, wisuda adalah puncak perjalanan akademik. Namun bagi saya, momen ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Gelar doktor yang saya sandang hari ini bukan sekadar simbol keberhasilan pendidikan, melainkan penanda perjalanan panjang perubahan diri yang penuh pelajaran, tantangan, dan harapan.

Jika melihat ke belakang, saya tidak pernah membayangkan akan sampai pada titik ini. Saya pernah menjalani masa sebagai narapidana terorisme. Masa itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat saya hapus, tetapi dapat saya jadikan pelajaran berharga. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah apabila diberikan ruang, kesempatan, dan kemauan untuk memperbaiki diri.

Pendidikan menjadi salah satu jalan terpenting dalam proses perubahan tersebut. Melalui pendidikan, cara pandang saya terhadap kehidupan, masyarakat, dan kebangsaan berkembang. Saya belajar melihat persoalan secara lebih luas, lebih kritis, dan lebih objektif. Pendidikan mengajarkan saya bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan, dan bahwa dialog jauh lebih bermanfaat daripada kekerasan.

Perjalanan menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral tentu tidak mudah. Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi, baik secara akademik maupun sosial. Namun setiap proses itu justru semakin menguatkan keyakinan saya bahwa ilmu pengetahuan memiliki kekuatan besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Karena itulah saya memilih meneliti isu yang dekat dengan pengalaman hidup saya, yaitu pencegahan radikalisme dan terorisme.

Disertasi yang saya susun berjudul “Model Collaborative Governance Program Desa Siapsiaga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia.” Penelitian ini dilakukan di 50 desa yang tersebar di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Penelitian tersebut berangkat dari keyakinan bahwa pencegahan terorisme tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi memerlukan kerja sama seluruh elemen masyarakat.

Dari penelitian tersebut, saya menawarkan tiga gagasan utama. Pertama, memperkuat koordinasi antar-pemangku kepentingan agar semua pihak dapat bekerja secara lebih terarah dan saling mendukung. Kedua, memperkuat ketahanan masyarakat melalui pelibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda dalam membangun budaya damai. Ketiga, memanfaatkan media sebagai sarana menyebarkan pesan-pesan positif dan menangkal penyebaran paham kekerasan.

Saya juga meyakini bahwa mantan narapidana terorisme dapat menjadi bagian dari solusi. Pengalaman yang pernah dijalani dapat menjadi pelajaran berharga untuk membantu masyarakat memahami bahaya radikalisme sekaligus pentingnya memilih jalan perdamaian.

Pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada keluarga yang selalu memberikan doa dan dukungan, kepada para dosen, promotor, ko-promotor, dan seluruh sivitas akademika Universitas Pasundan yang telah membimbing saya selama proses pendidikan. Saya juga menyampaikan apresiasi yang tulus kepada Densus 88 Antiteror Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan kesempatan bagi saya untuk terus belajar serta berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Wisuda doktor ini menjadi bukti bahwa perubahan adalah sesuatu yang mungkin. Saya berharap perjalanan hidup saya dapat menjadi pengingat bahwa masa lalu tidak harus menjadi batas bagi masa depan. Dengan pendidikan, kemauan untuk berubah, dan dukungan dari banyak pihak, setiap orang memiliki kesempatan untuk bangkit, berkontribusi, dan menjadi bagian dari upaya mewujudkan Indonesia yang lebih aman, damai, dan harmonis. 



Bandung, 13 Juni 2026

Dr. Abdul Haris, M.A a.k.a Haris Amir Falah

Komentar

Tulis Komentar