Pertengahan bulan Juli 2026 ini, ruang publik kembali dikejutkan oleh rentetan pemberitaan yang mencemaskan. Kata "ledakan" dan "bom", dua kosakata yang selalu berhasil memicu trauma kolektif bangsa, kembali menghiasi lini masa. Kali ini, peristiwa tersebut terjadi di dua tempat yang sepenuhnya berbeda, baik secara geografis maupun latar belakang sosiologisnya: Dadaha di Tasikmalaya dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 di Kota Padang.
Meskipun sekilas tampak sebagai aksi teror yang matang, penelusuran lebih mendalam justru menyingkap realitas yang jauh lebih kompleks. Peristiwa-peristiwa ini bukan sekadar tentang bubuk mesiu dan detonator, melainkan sebuah alarm keras tentang rapuhnya manajemen emosi, dampak laten perundungan (bullying), dan betapa mengerikannya lanskap digital kita hari ini yang menyediakan tutorial serta cetak biru untuk melakukan aksi kekerasan secara cuma-cuma.
Tasikmalaya dan Ujian Berat Reintegrasi Mantan Narapidana Terorisme
Peristiwa pertama terjadi di kawasan Dadaha, Tasikmalaya. Insiden ini dipicu oleh persoalan yang sangat domestik dan sepele, cekcok mulut antarpedagang. Namun, eskalasi konflik melesat ke tahap yang membahayakan jiwa ketika salah satu pihak memutuskan untuk menggunakan bom rakitan berdaya ledak rendah (low explosive).
Ironisnya, setelah diselidiki, pelaku peledakan merupakan mantan narapidana terorisme (eks napiter) yang pernah tergabung dalam kelompok Jama’ah Anshar adDaulah (JAD). Pihak kepolisian menegaskan bahwa aksi nekat ini sama sekali tidak memiliki kaitan dengan motif ideologi, agama, ataupun gerakan jaringan terorisme global. Ini murni masalah personal, sebuah kegagalan fatal dalam mengontrol amarah dan diri sendiri.
Namun, dampak sosiologis dari ledakan di Dadaha ini jauh lebih besar dari daya ledak bom itu sendiri. Tindakan emosional sang pelaku secara langsung memberikan pukulan telak bagi proses reintegrasi sosial para eks napiter yang telah atau akan segera bebas kembali ke masyarakat. Yang mana selama ini, meyakinkan masyarakat untuk menerima kembali mantan pelaku teror adalah pekerjaan rumah yang sangat berat.
Dengan adanya kasus ini, publik seolah mendapatkan justifikasi atau alasan nyata untuk mempertebal stigma negatif dan penolakan mereka. Masyarakat akan dengan mudah menyimpulkan bahwa eks napiter adalah bom waktu yang mudah tersulut emosinya, tidak stabil secara psikologis, dan rentan melakukan tindakan di luar nalar hanya karena urusan sepele.
Tragedi MAN 3 Padang: Ketika Perundungan Melahirkan Copycat Violence
Hanya berselang beberapa hari, ledakan kedua mengguncang lingkungan MAN 3 Padang. Berbeda dengan kasus di Tasikmalaya yang melibatkan aktor dewasa dengan rekam jejak ekstremisme, pelaku di Padang adalah seorang siswa aktif yang masih berusia 17 tahun. Motif di balik tindakan nekat remaja ini pun sangat memilukan sekaligus mengiris hati, yaitu rasa sakit hati yang mendalam akibat perundungan (bullying) yang terus-menerus dilakukan oleh teman-teman di sekitarnya.
Dalam melancarkan aksinya, remaja ini ternyata terinspirasi oleh peristiwa serupa yang terjadi di SMAN 72 Jakarta pada November 2025 lalu. Fenomena ini dalam psikologi kriminal dikenal sebagai copycat violence, sebuah tindakan kekerasan yang meniru peristiwa sebelumnya karena merasa memiliki kesamaan nasib atau luapan emosi yang sama, yang dalam hal ini adalah lara akibat perundungan.
Dari tangan anak tersebut, aparat kepolisian berhasil menyita sejumlah barang bukti yang mengerikan untuk ukuran seorang pelajar. Selain beberapa bom rakitan yang belum sempat diledakkan, petugas mengamankan sebuah tas hitam, ponsel genggam, petasan, pisau, anak panah, ketapel, hingga kelereng.
Kasus di Padang dan Jakarta ini menjadi bukti empiris yang tidak terbantahkan bahwa manajemen emosi yang tidak terkontrol, jika bertemu dengan lingkungan sosial yang toksik dan abusif, dapat menjadi jembatan berbahaya yang mengubah korban perundungan menjadi pelaku kekerasan ekstrem.
Tutorial Teror yang Tercecer di Jagat Maya
Pertanyaan krusial yang kemudian muncul ke permukaan adalah: bagaimana bisa seorang pedagang pasar dan seorang remaja usia sekolah memiliki kemampuan untuk melakukan pembuatan bahan peledakan?
Jawabannya ada di dalam saku kita semua: internet. Data dan penanganan kasus oleh Densus 88 AT POLRI terhadap anak-anak yang terafiliasi dengan jaringan True Crime Community (TCC) maupun jaringan radikalisme agama seperti ISIS menunjukkan tren yang hampir sama. Mayoritas dari mereka memperoleh keahlian merakit bahan peledak skala kecil ini secara autodidak melalui internet. Panduan pembuatan senjata rakitan dan bom skala kecil maupun besar kini dapat diakses dengan tingkat kemudahan yang sangat mencemaskan.
Di ranah digital global, salah satu teks klasik yang masih ada adalah “The Anarchist Cookbook” karya William Powell. Buku ini berisi instruksi terperinci mengenai pembuatan bahan peledak dan senjata api rakitan, yang hingga hari ini banyak beredar di kalangan kelompok yang mengidentifikasi diri mereka sebagai kaum "Anarko".
Tidak hanya itu, kelompok teror global seperti ISIS juga secara masif mempublikasikan panduan militer serupa lewat kanal resmi maupun non-resmi mereka. Salah satunya adalah Yayasan As-Saqri, sebuah sayap militer-digital yang berfokus menyebarkan ilmu militer praktis, teknik pembuatan bom, hingga cetak biru pemanfaatan teknologi seperti drone untuk dijadikan sebagai sarana teror. Langkah ini setali tiga uang dengan jaringan Al-Qaeda yang sejak lama merilis majalah digital format PDF bertajuk “Inspire” dan “Inspire Guide”. Dokumen-dokumen ini memuat panduan cara membuat bom pipa sederhana hingga instruksi sabotase massal seperti cara membuat kereta agar tergelincir (derailment) dari perlintasannya.
Dan ancaman ini kian mengerikan ketika menyusup ke kelompok-kelompok yang menganut paham misantropis, sebuah cara pandang radikal yang membenci sifat alami manusia, tradisi, serta norma-norma sosial yang berlaku. Kelompok-kelompok subkultur ekstrem seperti No Lives Matter (NLM), TCC, 746, hingga The Com, secara aktif membagikan dokumen PDF berisi materi ekstrem di jaringan mereka.
Materi dokumen tersebut tidak hanya berisi gambar-gambar sadistis dan ekstrem, melainkan juga panduan mutakhir pembuatan bahan peledak, modifikasi senjata api, hingga cara pembuatan racun mematikan. Dokumen-dokumen ini selalu dibarengi dengan narasi hasutan yang memprovokasi pembacanya untuk melakukan pembunuhan, penculikan, dan pelecehan sebagai bentuk "pembersihan" ras manusia yang mereka anggap bermoral rendah.
Tantangan Bersama di Era Digitalisasi Ekstrem
Semua panduan-panduan ekstrem ini tersedia secara bebas di internet, berseliweran melalui kanal-kanal obrolan terenkripsi dan grup-grup tertutup milik lingkaran kaum ekstremis. Kenyataan ini membuktikan betapa tipisnya batas antara pemikiran agresif dan aksi teror nyata di zaman sekarang.
Digitalisasi juga ternyata telah memangkas jarak, biaya, dan proses panjang bagi siapa saja, baik itu eks-napiter yang sedang naik pitam maupun remaja yang hancur karena dirundung untuk mendapatkan akses materi berbahaya dengan tujuan melanggar hukum. Jika edukasi terkait literasi digital, penegakan hukum siber, dan kepekaan sosial kita terhadap isu perundungan tidak segera dibenahi, maka internet akan terus menjadi sekolah gratis bagi lahirnya para perakit bom amatir yang berpotensi memberi kerusakan dan kerugian di tengah-tengah masyarakat.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar