Pekan ini, ribuan ruang kelas di seluruh Indonesia sedang diisi ulang. Wajah-wajah baru duduk berdampingan, belum saling kenal, menunggu tahu di mana mereka akan berdiri dalam peta sosial yang belum terbentuk.
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah kerap dipandang hanya sebagai seremoni. Barisan yel-yel, tata tertib yang dibacakan, dan kenalan dengan fasilitas sekolah. Tetapi di balik seremoni itu, sesuatu yang jauh lebih senyap sedang berlangsung, dimana hierarki pertemanan mulai terbentuk, dan bersamanya, benih-benih siapa yang akan diterima dan siapa yang akan tersisih sepanjang tahun ajaran.
Kita cenderung membayangkan hierarki itu terbentuk secara alami, seperti air yang mencari permukaannya sendiri. Padahal ia lebih menyerupai lelang cepat yang berlangsung dalam hitungan hari. Siapa yang lucu, siapa yang percaya diri, siapa yang punya barang atau gawai yang dianggap keren, dan di sisi lain timbangan, siapa yang canggung, siapa yang berbeda, siapa yang mudah dijadikan bahan tertawaan bersama untuk mempererat kelompok yang baru terbentuk.
Anak yang kalah dalam lelang cepat itu sering kali tidak menunjukkan tanda mencolok apa pun. Ia hanya perlahan-lahan menghilang dari radar perhatian orang dewasa di sekitarnya, sementara di layar ponselnya, dunia lain mulai menawarkan tempat.
Dua peristiwa yang yang patut kita ingat, sekilas, tampak jauh dari suasana masa orientasi yang riang ini. Pada November tahun lalu, sebuah bom rakitan meledak di musala SMA Negeri 72 Jakarta saat salat Jumat. Dan beberapa hari lalu, ledakan serupa—jauh lebih kecil, tanpa korban—terjadi di sebuah ruang kelas di MAN 3 Kota Padang.
Dua kejadian yang terpisah jarak dan waktu, namun berbagi satu wajah yang sama, siswa laki-laki kelas dua belas, korban perundungan, yang belajar merakit bahan peledak dari dunia maya. Pelaku di Padang bahkan mengaku, tindakannya terinspirasi oleh apa yang terjadi di Jakarta.
Baca juga: Tiga Ledakan di Sekolah dalam Setahun, Apa yang Sedang Terjadi pada Anak-anak Kita?
Ada godaan untuk membaca keduanya sebagai kisah tunggal dimana ada anak yang dibully, lalu meledakkan bom. Narasi ini sekilas menenangkan karena sebab-akibatnya sederhana, namun kesederhanaan itu juga yang membuat kita salah arah. Jutaan anak di negeri ini mengalami perundungan setiap tahun. Tapi, yang berakhir dengan merakit bom bisa dihitung dengan jari.
Bullying, dalam banyak kasus, adalah luka yang dipendam sendirian, ia jarang menjadi peledak dengan sendirinya. Yang mengubah luka menjadi ledakan adalah sesuatu ketiadaan ruang lain tempat luka itu bisa ditampung dan dipahami. Dan itu jauh lebih rumit.
Psikolog Fathali Moghaddam pernah menggambarkan jalan menuju kekerasan sebagai sebuah tangga dalam teorinya Staircase to Terrorism. Anak tangga pertama hanyalah perasaan diperlakukan tidak adil. Perasaan yang, jujur saja, dialami hampir setiap remaja pada satu titik dalam hidupnya. Namun, sebagian besar berhenti di situ.
Yang membedakan mereka yang berhenti dan mereka yang terus menaiki tangga bukanlah beratnya perlakuan yang mereka terima, melainkan ada tidaknya seseorang atau sesuatu yang menampung mereka sebelum mereka mencari jalan lain sendirian. Di titik itulah guru, dalam posisi yang sering tak disadarinya sendiri, menjadi penjaga anak tangga paling bawah.
Masalahnya, ketika penampung itu tidak ada di dunia nyata, ketika rumah sibuk dengan urusannya sendiri dan sekolah belum sempat menyadari seorang anak mulai tersisih, dunia maya selalu siap menawarkan diri sebagai gantinya. Bukan hanya sebagai tempat pelarian, tetapi sebagai ruang yang memberi validasi, bahkan instruksi.
Pelaku di Jakarta disebut aktif dalam komunitas daring bertema kekerasan ekstrem sebelum aksinya, sementara pelaku di Padang mengaku belajar merakit bahan peledak dari tayangan yang ia temukan sendiri di internet. Dalam ruang-ruang itu, kemarahan yang semula personal bertemu dengan bahasa, simbol, bahkan sesama orang yang merasa senasib dan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ditanggung seorang remaja sendirian.
Di sinilah letak keterkaitan antara dua peristiwa yang terpisah delapan bulan itu. Bukan hanya karena keduanya melibatkan bullying, tetapi karena keduanya menunjukkan betapa cepat sebuah kisah kekerasan bisa berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu sekolah ke sekolah yang sama sekali tak terhubung, semata melalui layar.
Liputan atas peristiwa Jakarta yang bertahan berminggu-minggu di pemberitaan nasional, tanpa disengaja, menjadi semacam cetak biru bagi seorang remaja lain di Padang yang sedang mencari cara mengekspresikan luka yang serupa. Ini bukan tuduhan terhadap media yang meliput dengan itikad baik, melainkan pengingat bahwa kecepatan dan detail sebuah liputan bisa membawa konsekuensi yang tak pernah dimaksudkan oleh siapa pun yang menulisnya.
Ironisnya, MPLS di banyak sekolah justru dirancang dengan logika yang berlawanan dari kebutuhan ini. Jadwalnya padat oleh sosialisasi tata tertib, pengenalan ekstrakurikuler, dan yel-yel angkatan. Semua penting, tetapi semua juga bisa berlangsung tanpa seorang guru pun benar-benar sempat mengamati siapa yang berjalan sendirian saat jam istirahat, atau siapa yang duduk di sudut paling belakang tanpa diajak bicara siapa pun. Kita menyusun agenda orientasi seolah tantangan terbesar minggu pertama adalah soal logistik dan informasi, padahal tantangan yang sesungguhnya, yang jauh lebih senyap, adalah soal siapa yang mulai merasa tidak termasuk.
Ini bukan berarti tanggung jawab itu harus dipikul guru seorang diri. Rumah tetap menjadi tempat pertama seorang anak semestinya merasa didengar, dan tak adil menuntut sekolah menggantikan peran itu sepenuhnya.
Tetapi ada realitas yang tak bisa disangkal, anak menghabiskan sebagian besar jam terjaganya di lingkungan sekolah, dan gurulah yang punya kesempatan paling langsung untuk menyaksikan perubahan kecil sehari-hari, perubahan yang sering luput dari mata orang tua yang hanya bertemu anaknya di malam hari, dalam keadaan lelah dan enggan bercerita. Kolaborasi antara rumah dan sekolah, bukan pelimpahan tanggung jawab dari satu pihak ke pihak lain, adalah yang sesungguhnya dibutuhkan.
Maka ketika masa MPLS berlangsung tahun ini, ada baiknya kita melihatnya bukan sekadar sebagai serangkaian kegiatan administratif yang harus dituntaskan sebelum kelas benar-benar dimulai. Ini adalah jendela waktu yang paling awal dan paling terbuka untuk hadir bagi anak-anak yang belum menemukan tempatnya, sebelum tempat itu mereka temukan sendiri di ruang yang tak bisa diawasi siapa pun.
Tetapi bukan pula dengan kecurigaan yang berlebihan, sebab anak yang pendiam atau sedang berduka tidak otomatis anak yang berbahaya. Melainkan dengan kehadiran yang cukup dekat untuk menangkap pola, bukan satu tanda tunggal, tetapi rangkaian perubahan yang, jika dibiarkan menumpuk tanpa ada yang menyadarinya, bisa menuntun seorang anak menaiki tangga itu sendirian.
Dua ledakan yang disebutkan di awal tulisan ini adalah kasus ekstrem, dan akan selalu menjadi pengecualian, bukan kelaziman. Namun titik mula keduanya adalah sesuatu yang sangat biasa, dan karena itu justru harus membuat kita waspada. Saat seorang anak yang mulai tersisih, dan tak seorang pun cukup dekat untuk menyadarinya tepat pada waktunya.
Di ruang-ruang kelas yang baru saja terisi kembali minggu ini, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan hanya soal materi apa yang akan diajarkan tahun ini, melainkan siapa di antara wajah-wajah baru itu yang, tanpa kita sadari, sedang mencari tempat untuk merasa dilihat? Dan apakah kita akan menjadi orang yang lebih dulu menemukannya, sebelum layar di tangannya yang menemukan lebih dulu?[]
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar