Kiprah Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai Yogyakarta: Atasi Problem Sosial hingga Hadir Bantu Keluarga Napiter

By

Mengunjungi Yogyakarta sedianya seperti berjalan di hamparan etalase destinasi tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Dari destinasi wisata kuliner, sejarah, alam, adat dan budaya, hingga religi.

Namun tak banyak diketahui, di salah satu sudut Yogyakarta ada sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tempat ini memang bukan tempat wisata seperti Pantai Parangtritis, Malioboro atau Istana Kasultanan, tempat ini adalah sebuah yayasan sosial.

Lalu apa yang menarik dari yayasan ini daripada yayasan sosial pada umumnya? Yayasan ini dirintis sejak tahun 2008, diresmikan 11 Maret 2018 oleh Tito Karnavian, yang ketika itu menjabat Kapolri. Lokasinya, di tengah permukiman penduduk di daerah Kotagede Yogyakarta.

Yayasan ini diasuh oleh seorang ustaz yang juga anggota Bid Propam Polda DIY Bripka Nur Ali Suwandi beserta 20 pengurus harian lainnya.

Selain itu, yayasan yang saat ini menaungi 190 orang anak dari berbagai daerah lintas pulau di tanah air dengan berlatar berbagai masalah sosial, seperti yatim-piatu, anak putus sekolah, anak jalanan, hingga anak-anak yang orangtuanya tersangkut tindak pidana terorisme.

Tak hanya anaknya, keluarganya pun disediakan tempat untuk tinggal dan diberdayakan untuk membantu mengurus operasional yayasan, seperti menjadi guru mengaji.

Seperi yang dijelaskan Bripka Ali, saat ini yayasan sudah memiliki 8 gedung,

“Dua gedung di antaranya sudah milik yayasan dan 6 lagi masih mengontrak. Ke delapan bangunan tersebut di antaranya difungsikan sebagai rumah singgah, rumah tahfidz al-Quran, pondok putra-putri, tempat belajar dan mengaji, dapur dan tempat makan, juga fungsi lainnya,” paparnya ketika ditemui di sana.

Dia melanjutkan.

“Di sini ada 2 istri napiter dan anak-anaknya yang tinggal disini. Alhamdulillah mereka bermasyarakat, membantu mengajar dan mengurus yayasan,” kata dia.

Saat ditanya apa motivasinya membangun yayasan ini, pria 43 tahun yang juga alumni Pondok Pesantren Tambakberas Jombang ini pun menjawab,

“Saya ingin berkarya nyata membantu mengurai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Terutama bagi anak-anak. Saya ingin mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang berpendidikan, bertakwa, bermanfaat bagi sesama dan mencintai negeri ini seperti yang dipesankan Kyai saat saya ingin mendaftar polisi,” lanjutnya.

Begitu pun saat ditanya apa harapannya ke depan terkait keluarga napiter yang tinggal di sana, Polisi enerjik yang murah senyum dan gemar muhibah ke pelosok desa ini pun menjawab, “Saya pingin ibu-ibu yang suaminya sedang di dalam (penjara) bisa lebih diberdayakan lagi. Terutama dalam menggali potensi ekonominya melalui berbagai keterampilan. Selain bisa untuk meningkatkan ekonominya selama disini juga bisa jadi bekal berusaha nanti setelah suaminya kembali,” tandasnya.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like