Sepiring Takjil, Sepenuh Penerimaan

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan 1

Ada masa ketika aku merasa dunia bergerak terlalu cepat dan aku tertinggal jauh di belakangnya.

Ketika pertama kali memasuki ruang kelas magister, aku tidak hanya membawa tas dan buku catatan. Aku membawa masa lalu, dan itu terasa jauh lebih berat bagiku.

Lingkungan baru itu seperti semesta yang asing. Teman-teman kuliahku datang dari latar belakang yang menurutku mengagumkan. Ada staf kementerian, peneliti, analis politik, orang-orang yang terbiasa berbicara dengan data, kebijakan, dan arah masa depan bangsa. Dosen-dosen kami pun figur-figur yang reputasinya tidak main-main. Setiap diskusi terasa serius, bernas, dan penuh percaya diri. Sementara aku?

Aku lebih banyak diam. Bukan karena tak punya pikiran, tetapi karena aku merasa tidak pantas.

Ketakutan yang Tidak Diucapkan

Ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku, bagaimana jika suatu hari mereka tahu tentang masa laluku dari orang lain? Dari media? Dari cerita yang terpotong dan tidak utuh? Aku tidak ingin diterima atas dasar ketidaktahuan. Aku tidak ingin kehangatan yang kurasakan ternyata berdiri di atas ilusi.

Di situlah aku sadar, jika aku ingin benar-benar hadir sebagai manusia utuh, aku tidak bisa menyembunyikan bagian paling rapuh dari diriku. Akhirnya, aku pun bercerita. Bukan dengan dramatisasi, bukan untuk mencari simpati. Hanya dengan kejujuran yang sederhana, inilah masa laluku.

Aku menunggu perubahan sikap, jarak, dan kecanggungan. Namun yang datang justru sebaliknya. Mereka tetap tertawa bersamaku, tetap berdiskusi, tetap mengirim pesan di grup kelas seperti biasa. Tidak ada tatapan yang berubah, tidak ada jarak yang diciptakan. Hari-hari perkuliahan pun berjalan dengan energi yang hangat, diskusi terasa hidup, juga candaan yang terasa ringan. Perlahan, rasa minder itu tidak lagi mendominasi ruang batinku.

Aku mulai belajar satu hal penting, bahwa kadang yang paling keras menghakimi diri kita adalah diri kita sendiri.

Ramadan 2026: Ajakan yang Menggetarkan

Lalu Ramadan 2026 datang. Teman-teman merencanakan buka puasa bersama. Sebuah hal yang mungkin sederhana bagi banyak orang sebagai rutinitas tahunan dan agenda sosial biasa.

Namun bagiku, undangan itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar. Mereka bukan hanya mengajak. Mereka seperti ingin memastikan aku ikut. Seolah kehadiranku bukan pelengkap, tapi bagian penting dari kebersamaan itu. Dan di sanalah hatiku bergetar.

Aku pernah merasakan Ramadan di balik terali besi. Dalam sunyi yang panjang, dalam ruang yang sempit, dalam perenungan yang getir. Ramadan yang lebih banyak diisi percakapan dengan diri sendiri dan Tuhan, tanpa pelukan sosial, tanpa tawa meja makan. Maka ketika aku duduk di sebuah rumah makan bersama sembilan rekan kuliah magisterku, menunggu azan magrib, mendengar canda mereka, melihat gelas-gelas terisi dan piring-piring tertata, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan hanya rasa syukur, tapi rasa pulang. Seolah dunia berkata pelan, “Kamu masih punya tempat di sini.”

Masa laluku tidak dihapus. Ia tetap bagian dari sejarah hidupku. Tetapi di meja itu, yang dilihat bukanlah versi lamaku. Yang hadir adalah aku hari ini, manusia yang belajar, yang berproses, yang ingin menjadi lebih baik.

Buka puasa itu terasa seperti sambutan kembali. Seperti ucapan tak terucap, welcome home.

Tentang Diterima Tanpa Syarat

Aku belajar sesuatu malam itu. Penerimaan bukan berarti melupakan masa lalu seseorang. Penerimaan berarti memberi ruang bagi masa depannya. Aku berterima kasih kepada teman-temanku yang tidak melihatku sebagai headline lama, tetapi sebagai rekan belajar hari ini.

Aku juga berterima kasih kepada negara ini, melalui Densus 88 AT Polri, BNPT, dan berbagai pihak yang tak lelah membinaku dan mempersiapkanku untuk kembali berintegrasi ke tengah masyarakat. Proses itu tidak mudah, tidak instan, tetapi nyata. Dan tentu saja, kepada Universitas Paramadina, yang membuka pintu ketika tidak semua pintu bersedia terbuka. Kesempatan untuk kembali belajar bukan hanya soal akademik. Itu soal martabat.

Ramadan sebagai Ruang Rekonsiliasi

Ramadan sering kita pahami sebagai bulan menahan lapar dan dahaga. Tetapi bagiku tahun ini, Ramadan adalah bulan rekonsiliasi antara masa lalu dan masa depan. Buka puasa itu bukan sekadar makan bersama. Itu simbol bahwa aku tidak lagi berdiri sendirian di tepi dunia. Ada lingkaran yang menerima, ada tangan yang menjabat erat.

Dan mungkin inilah makna terdalam dari kembali, yaitu, bukan ketika masa lalu hilang, tetapi ketika ia tidak lagi menentukan siapa kita hari ini.

Semoga Ramadan ini khidmat, damai, dan dipenuhi kebaikan.

Bagiku, ia sudah memberi satu hal yang sangat berharga, yaitu, rasa bahwa aku kembali menjadi bagian dari dunia.



Foto: Munir Kartono di antara teman-temannya dalam acara buka bersama.(Dok. Pribadi/Munir Kartono)

Komentar

  1. DE

    Sangat terharu dan membuat diri termotivasi untuk hidup lebih baik lagi kedepannya.

Tulis Komentar