“Perspektif gender itu penting untuk memahami semua permasalahan, termasuk dalam memahami radikalisme,” demikian ditegaskan pakar gender Lies Marcoes dalam diskusi buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah.
Menurut antropolog dan pegiat feminis ini, perspektif gender diterapkannya pula saat harus menyunting buku karya Noor Huda Ismail itu. Kacamata gender dan feminisme digunakan Lies untuk menyajikan cerita dalam naskah yang begitu kaya, demi pembaca dapat memahami alasan-alasan yang melatarbelakangi perilaku tokoh-tokoh dalam buku itu.
Lies menjelaskan, relasi lelaki dan perempuan dibentuk secara sosial, dan bentukan inilah yang sering memunculkan bias dalam memahami radikalisme.
(Baca juga: Perempuan dan Anak-Anak Korban Terbanyak Radikalisme dan Terorisme)
“Misalnya peristiwa Surabaya (serangan bom bunuh diri satu oleh satu keluarga, 2018),” ujar Lies memberikan contoh, “Masih ada aktivis yang berkomentar, 'bagaimana seorang ibu tega mengajak anak-anaknya melakukan serangan bom bunuh diri? Pasti sudah kehilangan sifat keperempuanannya.'”
Padahal kalau aktivis itu menyadari perspektif gender, dia akan memahami bahwa kaum perempuan pun memiliki visinya sendiri juga. Banyak perempuan yang juga bercita-cita masuk surga, menyelamatkan anak-cucu, berangan-angan hidup di negara yang adil-makmur, dalam tatanan masyarakat madani. Tak sedikit juga perempuan yang memiliki visi menegakkan syariah agama. Apalagi di tengah masyarakat yang masih memandang perempuan sebagai warga kelas dua, kebutuhan mereka akan signifikansi tak boleh dipandang sebelah mata.
Contoh lain, Lies mengulas tokoh ibu dalam film Road to Resilience, yang dengan entengnya meninggalkan posisi sebagai ASN demi berangkat ke Suriah, karena iming-iming ISIS akan “masyarakat madani”. Analisis gender mampu membaca hal-hal seperti itu tanpa terjebak bias konstruksi sosial.

Dalam diskusi pada akhir Februari yang dipandu jurnalis Kompas Sarie Febrianie itu (Baca juga: Semangat Beyond Second Chance yang Menggema di Gedung Perpustakaan Nasional), Lies bahkan mengisahkan bahwa dirinya sendiri sempat terjebak dalam bias dan stigma gender. Alkisah saat mengikuti Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Lies beserta rombongan konferensi mengunjungi Hadi Masykur, mantan sekjen Jamaah Islamiyah. Kunjungan yang kemudian terbukti mengikis perlahan bias dan stigma dalam benak Lies. Sebab dalam kunjungan itu, Lies melihat kesantunan Hadi Masykur pada ibu dan istrinya, kenyataan yang sangat jauh dari bayangan Lies sebelumnya tentang sosok radikal. Hadi Masykur sendiri seperti banyak diketahui, mengakhiri pelariannya ketika mendapat kabar Sang Ibunda sakit, dan menyerahkan diri ke polisi karena tak ingin kehilangan momen berbakti kepada ibu.
Sementara itu menekankan kenyataan bahwa setiap orang punya bias dan stigma terhadap kelompok lain, Noor Huda Ismail menyebut dua hal penting untuk mengatasinya, yaitu pengembangan wawasan dan regulasi. Pengembangan wawasan mendobrak pola pikir agar tidak terus-terusan terkungkung dalam tempurung, sedangkan regulasi memaksa secara positif lahirnya sistem sehingga semua orang bermain dengan aturan yang sama. Huda juga menekankan bahwa aspek lain dari perspektif gender yang penting juga untuk diperhatikan adalah konsep bahwa seorang laki-laki itu harus maskulin, gagah, tidak boleh cengeng, dan lain sebagainya. Sebab citra semacam itulah salah satunya yang menjadi iming-iming bagi banyak remaja lelaki bergabung dengan kelompok radikal. [png]
Komentar