"No viral no justice!" Itulah ungkapan populer yang sering menjadi alasan mereka yang teraniaya saat mengunggah keluhannya ke media sosial. Entah itu ketidak-sewenangan pihak berkuasa, soal perseteruan dengan sesama, hak konsumen, dan sebagainya; media sosial menjadi cara ampuh mengadukan nasib malang, yang tak kunjung diperhatikan bila sekadar disampaikan melalui prosedur yang berlaku. "Business as usual" sudah tidak lagi menjadi pilihan. Harus ada cara-cara lain, cara-cara baru untuk mengangkat masalah yang ada. Cara agar semua mata memandang, semua orang memperhatikan.
Sesederhana itu sebenarnya alasan Noor Huda Ismail bersama lembaga kewirausahaan sosial besutannya, Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP), memutuskan untuk memproduksi film. "Seeing is believing," begitu dia menekankan latar belakang itu, saat membahas film terbaru produksi KPP, Road to Resilience. K<span;>ekuatan media audio visual media film juga sangat bermanfaat mendukung berbagai tulisannya tentang deradikalisasi. Apa lagi yang ditampilkan film-film itu adalah credible voices yang mengalami sendiri jebakan radikalisme dan terorisme.
Secara khusus tentang Road to Resilience, Huda berujar ingin menampilkan kisah radikalisme dan terorisme dari sisi lembut. Pasalnya, sorotan terhadap radikalisme dan terorisme biasanya hanya tentang paham ideologi dan aksi-aksi kekerasan. Padahal banyak sekali lapisan dan nuansa yang melambari seseorang memilih jalan radikalisme dan terorisme. Dengan mengenali lapisan dan nuansa itu diharapkan muncul kesadaran, dan dengan demikian juga sikap waspada, bahwa pengalaman mereka yang terseret ke dalam radikalisme dan terorisme tidak mustahil terjadi pada kita.
Seperti dipaparkan film Road Resilience, yang menurut Huda sebenarnya berakar dari persoalan rumah tangga: keluarga broken home yang terbujuk iming-iming ISIS tentang masyarakat madani di Suriah. Isteri yang kehilangan sandaran, anak-beranak yang mendambakan perlindungan dan kasih sayang, dihadapkan dengan pencitraan ISIS yang menyebut diri "mengikuti sunnah Nabi". Tentu saja kenyataan di sana tidak seindah itu. Namun tak urung ribuan warga negara Indonesia telanjur meninggalkan tanah air, terjebak dalam pusaran konflik di tanah Syam.
Menyebut dirinya sebagai seorang pendongeng, selain akademisi, Huda mengatakan bahwa aspek-aspek emosi lebih efektif menyampaikan pesan deradikalisasi. Namun dia juga tak menampik bahwa upayanya itu bukannya tanpa tantangan. Misalnya, tidak semua penyintas radikalisme dan terorisme bersedia mengungkapkan kisah mereka. Huda mencontohkan seorang ibu yang meminta tolong padanya agar mengupayakan penjemputan dua puluh enam keluarganya yang terjebak di Suriah. Sang ibu berjanji mengizinkan kisahnya difilmkan. Namun sesampai seluruh keluarganya ke tanah air, dia menolak kisah mereka diangkat menjadi film. Tak sedikit karakter lain yang juga enggan membagikan pengalaman mereka -- tantangan besar pembuatan film dokumenter tentang radikalisme dan terorisme, di tengah tantangan-tantangan teknis kecil seperti protes seorang bapak yang keberatan jerawat anaknya tampak menonjol dalam film KPP. Tak heran Huda selalu menekankan bahwa produksi film KPP ini adalah the work of love sebuah kerja cinta. Harus didekati dengan kasih sayang dan kesabaran.
Huda bersyukur akhirnya KPP berhasil meluncurkan film Road to Resilience. Tokoh sentral film tersebut, Febri Ramdani, bersedia kisahnya difilmkan setelah memahami dampak positif film itu dalam mencegah radikalisasi di kalangan remaja. Febri yang terbujuk berangkat ke Suriah saat berusia 22 tahun berharap, dengan berbagi kisah ini, para remaja dan orang tua mereka dapat memetik banyak hikmah. Di antaranya, bahwa kedekatan keluarga sangat penting membentengi anggotanya dari perangkap radikalisme dan terorisme. [png]
Road to Resilience: Menyorot Radikalisme dari Sisi Lembut
Otherby REDAKSI Editor by REDAKSI 30 Maret 2025 10:00 WIB

Komentar