Lampung – Malam itu, layar Zoom memancarkan wajah-wajah yang menyimpan cerita tak terucap. Sebagian adalah penyintas, sebagian lagi hanya ingin memahami. Di balik layar, dua perempuan pendiri WAVE Community memimpin pertemuan daring perdana ini dengan satu tekad: memulihkan luka, memutus rantai radikalisme, dan membangun ruang aman bagi perempuan yang selama ini terbungkam.
Webinar Perdana: Mengenal Lebih Dekat WAVE Community
Webinar bertajuk Mengenal Lebih Dekat WAVE Community ini digelar Jumat (26/9/2025) dan menghadirkan dua pendiri WAVE Community, Vebyola dan Nesti. Sebanyak 57 peserta dari berbagai daerah hadir untuk mendengar, berdiskusi, sekaligus memahami bagaimana komunitas ini lahir dan berjuang di tengah tantangan yang tidak ringan.
WAVE Community atau Women Against Violent Extremism lahir dari keprihatinan mendalam terhadap dampak radikalisme, terutama bagi perempuan. Komunitas ini dibentuk untuk menyediakan ruang aman, mendukung pemulihan psikologis, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya paham radikal yang kerap merusak tatanan sosial hingga ke lingkup keluarga.
Visi dan Misi: Memulihkan Perempuan, Memulihkan Generasi
Dalam pemaparannya, Vebyola menjelaskan bahwa WAVE hadir dengan visi menjadi wadah aman dan berdaya bagi perempuan penyintas radikalisme untuk pulih, bersuara, dan menciptakan perubahan sosial berkelanjutan.
Adapun misi WAVE meliputi:
-
Pemulihan dan dukungan psikososial,
-
Pemberdayaan perempuan,
-
Edukasi dan kesadaran publik,
-
Advokasi serta jejaring kolaboratif dengan berbagai pihak.
“Pemulihan perempuan berarti pemulihan generasi,” tegas Nesti. Menurutnya, pemulihan para perempuan yang terdampak radikalisme akan berdampak langsung pada ketahanan keluarga, pendidikan anak, dan terciptanya masyarakat yang lebih damai dan inklusif.
Tantangan: Sunyi, Stigma, dan Jejak Digital yang Hilang
Sejak berdiri pada Agustus 2025, WAVE menghadapi dua tantangan utama. Pertama, kesulitan mengakses korban. Banyak perempuan penyintas memilih menutup diri karena rasa takut, stigma negatif, atau trauma yang mendalam. Sebagian bahkan menghapus jejak digital mereka di media sosial untuk menghindari pelabelan negatif dari masyarakat.
Kedua, kurangnya pemahaman masyarakat tentang radikalisme. Sebagian besar orang memandang radikalisme sebatas aksi teror, padahal dampaknya jauh lebih luas—mengubah cara berpikir, merusak relasi keluarga, hingga memengaruhi struktur sosial dalam jangka panjang.
Untuk mengatasi hal ini, WAVE berencana menjalin kerja sama dengan lembaga sosial, tokoh agama, dan pemerintah agar jembatan komunikasi dengan korban bisa terbuka secara aman dan empatik.
Sesi Tanya Jawab: Mengupas Akar dan Dampak Radikalisme
Sesi tanya jawab dalam webinar memunculkan sejumlah pertanyaan menarik dan diskusi mendalam. Antara lain:
-
Apakah WAVE hanya membahas isu radikalisme?
“Kami tidak menutup diri terhadap isu lain seperti kekerasan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga, selama masih beririsan dengan dampak radikalisme,” jelas Nesti. -
Bagaimana ciri-ciri keterpaparan radikalisme?
Vebyola menyebut tanda awalnya adalah menutup diri dari keluarga, kemudian menyebarkan narasi intoleran di media sosial, hingga tahap ekstrem seperti mengafirkan keluarga dan memutus ikatan sosial. -
Faktor penyebab keterpaparan
Media sosial menjadi pintu utama penyebaran doktrin, diikuti pemahaman agama yang dangkal, serta luka psikologis seperti kehilangan kasih sayang atau krisis identitas yang membuat individu rentan terhadap narasi radikal. -
Dampak terhadap perempuan
Nesti menyoroti bahwa perempuan sering menanggung dampak berlapis, mulai dari pernikahan tanpa wali sah, trauma mendalam, hingga kehilangan masa depan karena stigma sosial. -
Cara menghindari paham radikal
Edukasi agama dari sumber terpercaya, pengawasan orang tua terhadap aktivitas daring anak, serta komunikasi keluarga yang terbuka dan sehat menjadi kunci pencegahan.
Melawan Narasi Kebencian dengan Empati dan Edukasi
Webinar juga membahas bagaimana kelompok radikal sering memelintir ayat-ayat suci untuk mendukung ideologi mereka. Para pendiri WAVE mengingatkan bahwa pemahaman agama harus bersandar pada tafsir para ulama yang kompeten agar tidak terjebak pada narasi yang menyesatkan.
“Melawan narasi kebencian tidak cukup dengan logika semata. Kita butuh empati, edukasi, dan ruang aman untuk saling mendengar,” ujar Vebyola menutup webinar.
Dengan hadirnya WAVE Community, diharapkan semakin banyak perempuan penyintas yang berani bersuara, melawan stigma, dan memutus rantai radikalisme melalui narasi damai serta inklusif.[WAVE]
Komentar