Perhelatan Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di tiga negara benua Amerika (Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat) kini tengah menjadi pusat perhatian global yang sangat masif. Ratusan juta pasang mata dari seluruh penjuru bumi menjadikan turnamen sepak bola akbar ini sebagai topik utama pembicaraan di berbagai ruang publik, baik nyata maupun maya. Sebagai ajang paling bergengsi yang mempertemukan tim-tim nasional terbaik dari berbagai belahan dunia untuk bersaing memperebutkan gelar juara dunia, euforia yang dihasilkan benar-benar tidak terbendung. Segala pernak-pernik, atribut tim, hingga atmosfer kemeriahannya menyebar dan terasa di setiap sudut tempat. Mulai dari riuhnya lini masa media sosial hingga kehangatan warung-warung kopi tempat masyarakat dari berbagai kalangan menggelar acara nonton bareng secara bersama-sama.
Ancaman Nyata di Balik Gegap Gempita
Namun, di balik gegap gempita dan kemegahan turnamen sepak bola empat tahunan sekali ini, ternyata ada bahaya laten yang sangat mengancam keamanan global. Kelompok teror ISIS, melalui buletin mingguan resmi mereka yang bernama an-Naba edisi ke-552, secara khusus menyoroti perhelatan Piala Dunia 2026 ini. Melalui media propaganda tersebut, mereka menunjukkan niatan yang patut diwaspadai oleh otoritas keamanan internasional.
Di dalam salah satu artikel utamanya yang ditulis dengan judul provokatif, "Siapa yang Akan Jadi Juara?", ISIS menyerukan kepada para pembaca dan simpatisannya untuk memanfaatkan momentum perhelatan global ini dengan cerdik. Mereka mengajak para pengikutnya untuk menggunakan setiap kesempatan yang ada selama turnamen sebagai sarana untuk (dalam bahasa propaganda mereka) "membela Islam". Momentum ini dianggap sangat krusial, terutama di saat mereka mengklaim bahwa musuh-musuh sedang habis-habisan memerangi umat Islam, yang dalam konteks narasi kelompok ini merujuk kepada kelompok mereka sendiri.
Pandangan ISIS terhadap Olahraga Modern dan Batasan Moral
Dalam artikel di buletin tersebut, mereka sebenarnya mengawali argumentasi dengan menyebutkan bahwa Islam pada dasarnya tidaklah melarang aktivitas olahraga. Menurut narasi yang mereka bangun, Islam justru memberikan batasan yang jelas dan bahkan mengatur bagaimana kesehatan jiwa serta fisik seorang Muslim agar tetap terjaga secara seimbang. Mereka juga memberikan contoh beberapa olahraga yang secara historis ada dan dianjurkan dalam Islam, seperti keterampilan memanah, berkuda, dan berenang.
Kendati demikian, fokus utama mereka adalah memberikan kritik tajam dan menyoroti batasan-batasan moral yang dianggap telah dilanggar dalam industri olahraga modern saat ini. Secara spesifik, mereka menyoroti hilangnya batasan sosial antara laki-laki dan perempuan yang bercampur baur di kafe-kafe, restoran, serta alun-alun kota sepanjang perhelatan turnamen berlangsung. Selain masalah interaksi bebas tersebut, ISIS juga mengecam keras bagaimana industri olahraga global saat ini telah dimanfaatkan secara luas sebagai ajang perjudian, taruhan, dan berbagai bentuk dosa serta kemaksiatan serupa yang difasilitasi melalui popularitas sepak bola.
Kekhawatiran Akan Erosi Akidah dan Ideologi Generasi Muda
Hal lain yang menjadi sorotan serius dalam tulisan propaganda tersebut adalah pergeseran nilai budaya dan identitas di tubuh kaum Muslimin, khususnya generasi muda. ISIS mengkritik keras fenomena sosial saat ini di mana orang-orang, termasuk anak-anak Muslim, jauh lebih mengenal, menghafal, dan menyukai tokoh-tokoh bintang sepak bola dunia ketimbang mengenal para sahabat Nabi. Mereka mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam jikalau para pemain sepak bola non-Muslim ini nantinya menjelma menjadi sosok idola yang sangat dikagumi dan ditiru oleh generasi penerus Islam.
Menurut pendapat mereka, fenomena pengidolaan ini tidak bisa dianggap remeh karena akan berpengaruh langsung pada rusaknya ikatan keimanan yang kuat. Secara khusus, mereka menekankan rusaknya konsep doktrin al-Wala' wal Bara' (kesetiaan kepada Islam dan berlepas diri dari kekufuran) dalam tubuh kaum Muslimin. ISIS menilai bahwa kecintaan terhadap figur olahraga barat ini dapat mengikis sensitivitas ideologis, sehingga memengaruhi bagaimana generasi kaum Muslimin melihat negara-negara yang mereka sebut sebagai negara kafir yang telah menghancurkan negeri-negeri Islam.
Seruan Aksi Lone Wolf di Pusat Turnamen
Bagian yang paling krusial, berbahaya, dan membutuhkan perhatian serius dari aparat penegak hukum berada di bagian-bagian akhir dari artikel buletin an-Naba tersebut. Secara terang-terangan dan tanpa ragu, ISIS menyerukan kepada para pengikut radikalnya untuk melakukan aksi lone wolf (serangan teror secara sendiri). Seruan serangan ini secara spesifik ditargetkan pada momen-momen krusial dan di kota-kota yang menjadi pusat dari perhelatan Piala Dunia 2026 di ketiga negara tuan rumah.
Mereka menyebutkan bahwa para simpatisan atau yang mereka sebut sebagai "Mujahid" memiliki waktu luang selama sebulan penuh sepanjang turnamen untuk memantau pergerakan kerumunan massa. Mereka diinstruksikan untuk menyerang orang-orang secara acak di jalan-jalan protokol maupun di dalam tribun stadion saat pertandingan berlangsung. Bahkan, artikel tersebut secara spesifik menganggap bahwa menyulut api di tengah tribun penonton sehingga mampu merenggut ratusan nyawa adalah sebuah ide taktis yang sangat patut untuk diterapkan.
Sebagai penutup artikel, ISIS menyerukan kepada para pengikutnya untuk menyimpan peta dunia dan kalender pertandingan resmi. Hal ini bertujuan agar mereka dapat terus memantau hari-hari besar dan jadwal laga penting, lalu menjadikannya sebagai peluang emas untuk "mencetak gol" di gawang musuh, yang merupakan istilah metafora mereka untuk melancarkan serangan mematikan. Di akhir tulisan, mereka menegaskan pandangan bahwa dunia ini penuh dengan musim-musim "jahiliyah" yang sebenarnya dapat diubah oleh seorang Mujahid menjadi momentum serangan teror yang mematikan dan destruktif.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar