Oleh: Nasya
Baca kisah sebelumnya: Ketika Namaku Tak Lagi Penting
Setelah percakapan dengan orang tua Farhan hari itu, aku sempat merasa semuanya sudah berakhir. Aku sudah mendengar sendiri bagaimana mereka membicarakanku. Aku sudah mendengar sendiri bagaimana masa depanku dipertimbangkan hanya berdasarkan mana yang lebih mudah dan mana yang lebih menguntungkan bagi mereka.
Saat itu aku merasa sangat terluka. Namun anehnya, meskipun semua itu terjadi, aku tetap tidak bisa melepaskan diri dari hubungan ini. Ada bagian dalam diriku yang masih berharap bahwa Farhan akan berubah pikiran. Bahwa pada akhirnya ia akan memilih bertanggung jawab padaku. Bahwa semua yang sudah terjadi tidak akan berakhir sia-sia. Harapan itulah yang membuatku terus bertahan, bahkan ketika semakin banyak alasan untuk pergi muncul di hadapanku.
Pada masa itu, hampir seluruh energiku habis untuk memperjuangkan hubungan dengan Farhan. Aku tidak hanya berdebat dengannya, tetapi juga dengan perempuan yang terlibat dengannya. Aku berusaha menjelaskan posisiku, menjelaskan bahwa aku lebih dulu ada dalam hubungan ini, menjelaskan bahwa ada begitu banyak hal yang sudah terjadi yang membuatku tidak mungkin begitu saja mundur dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat itu aku benar-benar percaya bahwa yang sedang kulakukan adalah memperjuangkan hakku. Aku merasa aku sedang mempertahankan sesuatu yang memang seharusnya menjadi milikku. Dan karena keyakinan itu, aku terus bertahan meskipun prosesnya sangat melelahkan.
Pada akhirnya, keadaan berbalik. Perempuan itu memilih mundur dan melanjutkan hidupnya dengan orang lain. Farhan pun tidak lagi memiliki banyak ruang untuk menghindar. Saat itu aku merasa seperti mendapatkan kembali sesuatu yang selama berbulan-bulan hampir hilang dari genggamanku. Ada rasa lega karena perjuangan yang panjang itu seolah membuahkan hasil. Aku merasa menang. Aku merasa berhasil mempertahankan hubungan yang selama ini kuperjuangkan mati-matian.
Namun ketika mengingat masa itu sekarang, aku merasakan kesedihan ketika melihat diriku sendiri. Karena kemenangan yang kurasakan saat itu ternyata membuatku gagal melihat begitu banyak hal yang sebenarnya sudah sangat jelas berada di depan mata.
Jika hari ini aku melihat ke belakang, aku sering bertanya-tanya kenapa aku terus bertahan setelah begitu banyak peristiwa yang seharusnya menjadi peringatan. Bahkan sebelum pernikahan secara sah negara itu benar-benar terjadi, sudah ada begitu banyak hal yang semestinya membuatku berhenti.
Ada kebohongan yang berulang. Ada pengkhianatan yang berkali-kali. Ada ketakutan yang terus dipelihara. Ada keraguan yang sebenarnya sudah muncul sejak lama. Tapi setiap kali tanda-tanda itu datang, aku selalu menemukan alasan untuk mengabaikannya.
Saat itu aku menganggap diriku sedang berjuang mempertahankan hubungan. Baru bertahun-tahun kemudian aku sadar bahwa yang sebenarnya sedang kupertahankan bukan hanya hubungan dengan Farhan, tetapi juga seluruh keyakinan yang sudah kubangun di atas hubungan itu.
Aku benar-benar percaya bahwa pemahaman yang kami anut adalah pemahaman yang paling benar. Aku percaya bahwa jalan menuju Allah ada di sana. Aku percaya bahwa tauhid yang lurus hanya bisa kupelajari dari lingkaran itu. Dan karena Farhan adalah orang yang mengenalkanku pada semua hal tersebut, aku mulai menganggap keberadaannya tidak tergantikan.
Di dalam pikiranku saat itu, jika aku tidak bersama Farhan, lalu aku akan bersama siapa? Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan laki-laki lain. Aku tidak bisa membayangkan belajar agama dari orang lain. Bahkan aku tidak bisa membayangkan kembali menjadi diriku yang dulu. Dunia seolah terbagi menjadi dua kelompok: mereka yang memahami kebenaran seperti yang kami yakini, dan mereka yang kafir. Karena itulah, setiap kali ada alasan untuk pergi, aku justru semakin bertahan.
Tidak lama setelah aku lulus SMA, pernikahan kami akhirnya dilaksanakan secara resmi. Jika dilihat dari luar, mungkin inilah akhir bahagia yang selama ini kuperjuangkan. Farhan memenuhi janjinya. Aku mendapatkan apa yang selama ini kuanggap sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Bahkan sehari sebelum pernikahan berlangsung, aku kembali mengetahui bahwa Farhan masih berhubungan dengan perempuan yang sama. Perempuan yang sebelumnya menjadi sumber konflik di antara kami ternyata masih ada dalam kehidupannya. Mereka masih berkomunikasi dan masih bertemu tanpa sepengetahuanku.
Saat mengetahui hal itu, aku marah dan kecewa. Tapi lagi-lagi aku memilih bertahan. Lagi-lagi aku menemukan alasan untuk melanjutkan semuanya.
Pernikahan itu akhirnya tetap berlangsung. Namun masalah tidak berhenti setelah akad selesai diucapkan. Justru banyak konflik baru mulai muncul setelahnya. Perselingkuhan yang sebelumnya sempat tersembunyi kembali menjadi sumber pertengkaran. Ketidakpercayaan semakin besar. Pertengkaran demi pertengkaran muncul di dalam rumah tangga yang bahkan belum lama dibangun.
Anehnya, di tengah semua keributan itu, Farhan tetap melakukan satu hal yang sejak awal selalu ia lakukan. Ia terus mengajarkanku berbagai pemahaman yang selama ini ia yakini. Ia sering memintaku membaca berbagai e-book yang tersimpan di laptopnya. Sebagian membahas agama, sebagian membahas konflik di berbagai negara, dan sebagian lagi berisi tulisan-tulisan panjang tentang perjuangan yang selama ini menjadi bagian dari dunia kami.
Awalnya aku membaca semuanya seperti biasa. Aku menganggap itu bagian dari proses belajar. Aku tidak banyak mempertanyakan apa yang diberikan kepadaku karena selama ini aku memang terbiasa menerima berbagai bacaan dari Farhan.
Namun suatu hari, ketika sedang membuka salah satu folder di laptopnya, aku menemukan sebuah dokumen yang membuatku berhenti cukup lama.
Awalnya aku mengira itu hanya salah satu e-book biasa seperti yang sering kubaca sebelumnya. Namun setelah membuka beberapa halaman pertama, aku menyadari bahwa isi dokumen itu berbeda. Sangat berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa tidak nyaman yang muncul begitu kuat di dalam diriku. Dokumen itu bukan membahas aqidah, bukan pula membahas sejarah atau perjuangan seperti yang selama ini sering kudengar. Yang kubaca justru sebuah panduan yang menjelaskan cara merakit bom, mulai dari penjelasan mengenai bahan-bahan yang diperlukan hingga tahapan pembuatannya.
Aku masih ingat bagaimana perasaanku saat itu. Ada bagian dari diriku yang berusaha meyakinkan bahwa mungkin ada penjelasan lain yang belum kupahami. Tapi di saat yang sama, aku tidak bisa mengabaikan kenyataan tentang apa yang sedang kubaca. Dan saat itulah sebuah pertanyaan yang selama ini hanya muncul sesekali di kepalaku mulai terdengar jauh lebih keras: sebenarnya sejauh apa pemahaman ini akan membawaku?
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar