Di era media sosial, sebuah unggahan bisa memiliki makna yang sangat berbeda, tergantung siapa yang membacanya. Bagi sebagian orang, sebuah video perang mungkin hanya dianggap informasi. Sebuah gambar bendera mungkin dipandang sebagai simbol. Sebuah tulisan tentang “aktivitas jihad” mungkin terlihat sebagai ekspresi keyakinan pribadi.
Namun bagi para analis Densus 88 AT yang setiap hari melakukan patroli siber, potongan-potongan informasi itu tidak pernah dibaca secara terpisah. Mereka dibaca sebagai rangkaian yang saling terhubung, membentuk pola yang dapat menunjukkan apakah seseorang sedang sekadar mengonsumsi informasi, menyebarkan propaganda, atau mulai mendorong orang lain menuju kekerasan.
Pandangan itulah yang tergambar dalam salah satu perkara terorisme yang disidangkan di Indonesia beberapa waktu lalu. Tim peneliti Ruangobol kemudian mendapatkan salinan putusannya. Menariknya, perkara tersebut bukan diawali oleh laporan masyarakat ataupun penangkapan di lapangan. Semua berawal dari patroli rutin di ruang digital.
Patroli siber pada dasarnya tidak hanya mencari unggahan yang mengandung simbol-simbol tertentu. Yang dicari adalah pola.
Sebuah akun mungkin mengunggah berita tentang kelompok ekstrem. Di hari lain akun yang sama membagikan video peperangan. Beberapa waktu kemudian muncul tulisan yang memuji aksi kelompok tersebut. Setelah itu muncul unggahan mengenai baiat, disusul narasi yang mengajak orang lain untuk tetap berada dalam barisan perjuangan.
Jika masing-masing unggahan dilihat secara terpisah, mungkin semuanya tampak berdiri sendiri. Namun ketika seluruh aktivitas itu disusun berdasarkan waktu, tim analis kemudian melihat sebuah cerita yang berbeda, yaitu sebuah proses pembentukan identitas ideologis yang berlangsung secara bertahap.
Di sinilah letak perbedaan antara membaca konten sebagai pengguna media sosial dan membaca konten sebagai analis.
Seorang pengguna mungkin hanya melihat satu unggahan yang lewat di linimasa. Sebaliknya, seorang analis berusaha memahami hubungan antarkonten. Ia bertanya, apakah unggahan hari ini berkaitan dengan unggahan bulan lalu? Apakah narasi yang muncul semakin konsisten? Apakah terjadi perubahan dari sekadar menyampaikan informasi menjadi mengajak orang lain mengikuti pandangan yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi penting karena radikalisasi hampir tidak pernah terjadi secara instan.
Dalam banyak penelitian mengenai ekstremisme, seseorang umumnya tidak langsung sampai pada tahap mendukung kekerasan. Prosesnya sering kali dimulai dari paparan informasi, kemudian tumbuh menjadi ketertarikan, berlanjut pada pencarian komunitas yang memiliki pandangan serupa, lalu berkembang menjadi identitas kelompok. Pada sebagian kecil kasus, proses tersebut dapat bergerak lebih jauh hingga muncul keinginan memengaruhi orang lain.
Media sosial mempercepat seluruh tahapan itu.
Platform digital memungkinkan seseorang menemukan komunitas yang memiliki pandangan sama tanpa harus bertemu secara langsung. Berbagai konten yang saling menguatkan dapat dikonsumsi setiap hari. Lambat laun, algoritma menghadirkan semakin banyak informasi yang memperkuat keyakinan sebelumnya.
Dalam kondisi seperti itu, propaganda tidak lagi bekerja melalui satu ceramah panjang atau satu buku tebal. Ia bekerja melalui aliran konten yang terus-menerus hadir, sedikit demi sedikit membentuk cara seseorang memandang dunia.
Karena itulah penyidik dalam perkara ini tidak hanya memperhatikan isi unggahan, tetapi juga konsistensinya.
Yang dianalisis bukan sekadar adanya simbol atau foto tertentu. Yang dicermati adalah apakah akun tersebut secara berulang menyebarkan propaganda organisasi teroris, mempublikasikan berita perkembangan kelompok tersebut, menyebarkan materi baiat, mengagungkan aksi kekerasan, atau memuat tulisan yang dapat dipahami sebagai ajakan kepada orang lain untuk mengikuti narasi serupa.
Cara membaca seperti ini menunjukkan bahwa sebuah unggahan tidak dinilai secara terisolasi. Maknanya muncul ketika ditempatkan dalam keseluruhan pola komunikasi pemilik akun.
Hal lain yang menarik adalah perhatian penyidik terhadap interaksi yang muncul setelah sebuah unggahan dipublikasikan.
Media sosial bukan sekadar ruang untuk berbicara, tetapi juga ruang untuk membangun komunitas. Sebuah unggahan yang memperoleh respons, dukungan, atau penyebaran ulang memiliki potensi pengaruh yang berbeda dibanding unggahan yang tidak menjangkau siapa pun. Karena itu, penyidik tidak hanya bertanya apa yang ditulis, tetapi juga bagaimana pesan tersebut diterima oleh audiensnya.
Pendekatan ini memperlihatkan perubahan penting dalam penanganan terorisme di era digital. Fokusnya tidak lagi semata pada tindakan fisik, tetapi juga pada proses pembentukan narasi yang mendahului tindakan tersebut.
Dengan kata lain, perhatian aparat mulai bergeser dari "aksi" menuju "proses".
Pergeseran ini dapat dipahami karena banyak penelitian menunjukkan bahwa tindakan kekerasan hampir selalu didahului oleh proses panjang pembentukan keyakinan, pencarian legitimasi, serta penguatan identitas kelompok. Media sosial menjadi salah satu ruang yang memungkinkan seluruh proses itu berlangsung tanpa batas geografis.
Meski demikian, pendekatan seperti ini juga menuntut kehati-hatian.
Tidak setiap unggahan mengenai konflik bersenjata dapat dipandang sebagai propaganda. Tidak setiap pembahasan mengenai ideologi ekstrem berarti dukungan terhadapnya. Tidak setiap penggunaan simbol otomatis memenuhi unsur tindak pidana.
Karena itu, yang menjadi perhatian penyidik bukan hanya keberadaan satu unggahan, melainkan keseluruhan konteks: pola komunikasi, konsistensi narasi, hubungan antarkonten, serta indikasi bahwa konten tersebut dimaksudkan untuk memengaruhi orang lain.
Contoh kasus ini memperlihatkan satu pelajaran penting tentang dunia digital saat ini.
Jejak digital bukan lagi sekadar arsip aktivitas seseorang. Ketika disusun secara kronologis, dianalisis sebagai pola, dan dibaca dalam konteks yang lebih luas, jejak-jejak itu dapat menggambarkan perubahan cara berpikir, perkembangan identitas, bahkan arah sebuah proses radikalisasi.
Barangkali di situlah perbedaan paling mendasar antara cara kita melihat media sosial sehari-hari dengan cara analis atau penyidik melihatnya. Kita melihat satu unggahan. Mereka membaca sebuah perjalanan.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar