Membekali Anak-anak Toleransi dan Anti Radikalisme Sejak Dini

By

Di era teknologi media sosial, menggambarkan situasi banjir informasi. Dunia maya menjadi medan perang opini, intrik politik, dan ruang publik yang bisa diakses siapa saja dan menyebar luas secara cepat.

Kelompok satu dengan kelompok lainnya yang berbeda pandangan tidak jarang terlibat berkelahi hebat di Medsos. Semakin banyak orang kehilangan budaya toleransi. Melalui Medsos pula, generasi muda tidak sedikit yang terpapar radikalisme.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tidak meragukan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia memiliki peran penting dalam melakukan proses pendidikan anak sejak dini.

Salah satunya pendidikan melalui Madrasah Diniyah (Madin) untuk membekali anak-anak terkait anti radikalisme dan toleransi sejak dini.

“Sebenarnya cita-cita utamanya bagaimana anak-anak kita mulai dari madin (madrasah diniyyah) itu sudah diajarkan Aswaja (Ahlussunnah wa al-Jama’ah). Harapannya kelak di kemudian hari, nilai-nilai keagamaan yang akan diamalkan sesuai dengan yang dikembangkan oleh NU,” kata Ganjar saat menghadiri acara Launching Madin NU se-Jawa Tengah di Pondok Pesantren PDF Walindo Pekalongan, Rabu (15/6/2022).

Selama ini, menurut Ganjar, NU telah memberikan contoh bagaimana beragama yang baik. “Para sesepuh Nahdliyin telah menunjukkan rasa toleransi, rasa kemanusiaan yang tinggi dan selalu mendamaikan. Para sesepuh itu selalu adem dalam bersikap, ya bertindak dan berbicara. Adem semuanya. Generasi mudanya harus disiapkan untuk itu,” jelasnya.

Ganjar berharap, tidak hanya di Madin, ajaran Aswaja bisa dilakukan di setiap jenjang pendidikan. Mulai Paud, TK, SD, SMP, SMA dan seterusnya.

BACA JUGA: Ngaji Nusantara: Bila Beragama Tidak Berkebudayaan

“Kalau itu bisa, kita semua mengharapkan tidak ada lagi yang berkelahi pada urusan-urusan yang selama ini muncul di medsos. Seolah-olah masyarakat kita ini menjadi terbelah-belah,” ujarnya.

Padahal lanjut dia, ada tantangan masa depan yang semakin kompleks. Anak-anak harus disiapkan dengan modal nilai-nilai tersebut.

“Jadi ilmu pengetahuannya bagus, agamanya bagus, kepribadiannya bagus sehingga mereka siap menghadapi Indonesia di masa depan,” ungkapnya.

Dalam kegiatan tersebut, hadir pula Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, Kakanwil Kemenag Jateng, H Musta’in Ahmad, Ketua RMI PWNU Jateng, KH Nur Machin Chudlori, dan sejumlah ulama lainnya. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like