Ngaji Nusantara: Bila Beragama Tidak Berkebudayaan

By

Seringkali muncul pemahaman dari segelintir kelompok yang membenturkan antara tradisi-kebudayaan masyarakat di Indonesia dengan “ajaran Islam” bertentangan. Pemahaman seperti itu kerap membuat gaduh di tengah masyarakat.

Budayawan Nahdlatul Ulama (NU) Ngatawi Al-Zastrouw mengungkapkan analogi unik mengenai hubungan antara agama dan kebudayaan.

“Agama iku koyo beras. Beras kui gaweane gusti Allah. Sementara kebudayaan itu  carane adang, carane masak, carane dadi makanan. (Agama itu seperti beras. Beras itu ciptaan Allah. Sementara kebudayaan itu caranya memasak. Cara agar (beras itu) menjadi nasi atau makanan,” ungkap Zastrouw.

Zastrouw mengulas hal itu dalam acara Serasehan Budaya dan Ngaji Nusantara bertema “Merawat Perbedaan dalam Bingkai Kebhinekaan” yang diselenggarakan oleh Komunitas Pelangi Cinta Nusantara dan didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) serta Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah di Gor Tri Bakti Kota Magelang, Selasa (31/5/2022).

Menurut Zastrouw, apabila agama hanya teks saja, maka tidak akan berjalan dengan baik. Supaya agama bisa berjalan, maka agama butuh dipikirkan, butuh diinterpretasikan, dikonkritkan dan seterusnya.

“Cara untuk mengonkritkan agama itulah kebudayaan. Orang yang beragama tidak berkebudayaan, maka itu namanya malaikat. Malaikat itu beragama tapi tidak berkebudayaan. Orang bertuhan tapi tidak berkebudayaan itu namanya iblis,” cetusnya.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjend Pol Ahmad Nur Wahid, mengapresiasi kegiatan generasi muda untuk terus membangun spiritualitas bangsa dengan pendekatan seni dan budaya.

“Saya menilai, kebudayaan dapat mengeliminasi paham radikalisme, ekstrimisme dan intoleran di lingkungan masyarakat. Radikalisme muncul karena kurang piknik, sehingga tidak memahami makna dan hakiki perbedaan. Tidak toleransi terhadap keragaman perbedaan yang merupakan sunnatullah,” terangnya.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Prof. Syamsul Maarif, yang didapuk sebagai narasumber dalam Ngaji Nusantara itu mengatakan, Pelangi Cinta Nusantara telah berusaha menguatkan untuk tetap menjaga budaya yang menyatukan.

“Jangan berhenti di sini, harus tetap bergerak, karena hidup itu adalah murup. Maka harus senantiasa kita nyalakan api-api cinta, api-api kebudayaan, budaya yang mengharmoniskan dan menentramkan antar iman, menjaga kerukunan antar agama, dan antar etnis,” katanya.

BACA JUGA:Kata-Kata Bijak Wanita Hindu: Menutup Diri itu Sumber Masalah

Kapolres Magelang Kota, AKBP Yolanda E. Sebayang mengatakan, apa yang ada di negara ini, apa yang menjadi ideologi, apa yang menjadi ajaran di negara Indonesia dilaksanakan dan dikerjakan dengan penuh kesadaran dan cinta.

“Langkah awal dan langkah  kecil untuk mencintai negara ini yaitu di antaranya dengan mencintai budayanya. Misalnya mencintai baju adat dari mana pun yang ada di negara kita,” ujarnya. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like