Forum Interaktif Virtual “Perdamaian di Tangan Perempuan”

By

Serangan kelompok ekstrem belakangan melibatkan kaum perempuan dalam sejumlah aksi terorisme. Di sisi lain, sejumlah sosok perempuan melakukan banyak aksi perdamaian untuk meredakan teror.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Departemen Kehakiman Amerika Serikat/Program Bantuan Pelatihan Investigasi Kriminal Internasional – Proyek Pengembangan Kepemimpinan Perempuan United States Department of Justice (USDOJ) – International Criminal Investigative Training Assistance Program (ICITAP) – Women Leadership Development Project (WLDP) dan Ruangobrol.id menyelenggarakan Forum Interaktif Virtual bertema “Perdamaian di Tangan Perempuan” dalam memperingati Hari Perempuan se-Dunia ini, Selasa, 29 Maret 2022.

Berdasarkan laporan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) pada September 2020, mencatat  ada 11 perempuan terlibat kasus terorisme. Tujuh narapidana masih menjalani proses hukuman di Lembaga Permasyarakatan (LP) dan empat orang masih dalam proses persidangan.

Angka tersebut memang turun dibanding penangkapan pada tahun sebelumnya. Berdasarkan data tim riset Ruangobrol.id, terdapat 52 perempuan di 2019. Tidak semua perempuan yang ditangkap kemudian masuk dalam proses persidangan.

“Tahun ini, seorang perempuan berinisial IS ditangkap di Kampung Purwosari, Semarang. Sehari-hari, perempuan berumur 47 tahun itu bekerja di sebuah klinik pengobatan alternative. Penangkapan terjadi pada 24 Juni 2020, pagi hari,” ungkap Kusairi, salah satu tim riset Ruangobrol.id—yang juga menjadi perwakilan panitia Forum Interaktif Virtual ini.

Tak lama berselang, L alias Ummu Syifa ditangkap di Poso, Sulawesi Tengah. Ia ditangkap karena dianggap menyembunyikan informasi terkait MIT pada Juli 2020.

Selain IS dan Ummu Syifa, ada Nana Isirani alias Rezky Fantasya Rullie alias Renzy Fantasya Rullie alias Cici yang terlibat dalam rencana aksi di Filipina.

Cici ditangkap saat tengah hamil  5 bulan. Cici yang disebut pemerintah Filipina sebagai WNI berencana melakukan aksi bom bunuh diri di Kota Zamboanga sebagai balas dendam atas kematian suaminya, Andi Baso.

Cici ditangkap bersama dengan dua perempuan lainnya yang teridentifikasi sebagai Inda Nhur dan Fatima Sandra Jimlani Jama. Pada Agustus lalu, dua ledakan bom bunuh diri yang menewaskan 15 orang dan melukai 75 orang dilakukan oleh dua janda milisi kelompok Abu Sayyaf. Mereka teridentifikasi sebagai Nanah dan Inda Nay yang juga disebut Pemerintah Filipina sebagai WNI.

“Keterlibatan perempuan juga tidak berakhir karena situasi pandemi. Pada 2021, seorang perempuan nekat menerobos pengamanan Mabes Polri dan hendak melakukan penyerangan tunggal. Zakiah Aini tewas di tempat setelah dilumpuhkan oleh aparat,” ungkapnya.

Keterlibatan perempuan dalam aksi perdamaian meredakan teror.

Sebaliknya, di sisi lain, sejumlah sosok perempuan melakukan banyak aksi perdamaian untuk meredakan teror.

“Mereka aktif menulis mengenai terorisme salah satunya adalah Leebarty Taskarina, staff BNPT yang melakukan penelitian masternya mengenai perempuan dan teror,” ungkapnya.

Belakangan, Komnas Perempuan juga melakukan pendampingan terkait isu terorisme dan perempuan. Bukan hanya dari unsur pemerintah saja, saat ini banyak perempuan terlibat dalam sejumlah Civil Society Organization (CSO) yang berkaitan dengan isu sensitif ini.

“Bahkan sejumlah sutradara film juga banyak melahirkan video-video mengenai terorisme,” kata dia.

Selain itu, keterlibatan perempuan sebagai penggerak perdamaian di isu terorisme datang dari para mantan yang pernah terlibat.

“Salah satunya adalah Sarafina Nailah yang aktif membuat komik tentang perdamaian. Komik ini telah dirilis bersama Mabes Polri pada 2021 lalu,” ungkapnya.

Melalui forum interaktif, masyarakat diharapkan memperoleh informasi secara utuh, mendapatkan pencerahan tentang cara-cara pencegahan perempuan dari aksi terorisme dan perlindungannya melalui kepemimpinan.

“Mengenal dan memahami perspektif baru dalam merumuskan pencegahan pelibatan perempuan sebagai korban, serta mendapatkan pemahaman dan persepsi bersama untuk memperkuat jaringan dan kerjasama dalam mengatasi masalah ini,” terangnya.

Kesempatan Pertama

Deputi Bidang Kerjasama Internasional, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Andhika Chrisnayudhanto. (dokumen ruangobrol.id)

Deputi Bidang Kerjasama Internasional, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Andhika Chrisnayudhanto, menyampaikan ucapan terima kasih dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme di Indonesia.

Salah satunya pelaksanaan kegiatan diskusi forum perdamaian di tangan perempuan dalam memperingati hari perempuan se-dunia ini.

“Ini adalah kesempatan pertama bagi BNPT, bekerjasama dengan Departemen Kehakiman Amerika Serikat/Program Bantuan Pelatihan Investigasi Kriminal Internasional dalam proyek pengembangan kepemimpinan perempuan melalui ICITAP dan Ruangobrol.id,” katanya.

Menurutnya, ini menjadi momentum tepat dan sejalan dengan kompleksitas tantangan yang dihadapi sekarang ini.

Makin merebaknya intoleransi, radikalisme, dan ekstrimisme berbasis kekerasan kian menyusupi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Khususnya di kalangan rentan seperti perempuan,” ujarnya.

Dalam beberapa kurun waktu terakhir, kata dia, peran perempuan dalam jaringan ekstrimisme dan terorisme makin mengemuka.

“Perempuan tidak hanya sebagai aktor pendukung secara ideologis maupun operasional, namun juga sebagai fasilitator. Bahkan aktif sebagai pelaku. Kalau sebelumnya berperan secara sembunyi-sembunyi, sekarang terang-terangan,” katanya.

Dia menyebut, beberapa penelitian mengenai terorisme pada 2021, menyoroti meningkatnya peran perempuan dalam aksi terorisme. “Sedangkan penelitian Wahid Foundation menunjukkan bahwa perempuan merupakan aktor strategis dalam upaya penguatan tolerensi dan perdamaian,” ungkapnya.

Penasihat Perempuan dari Amerika Didatangkan ke Indonesia

Pejabat pelaksana tugas bantuan penegakan hukum Departemen Kehakiman ICITAP di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Jhon Ruffcorn. (dokumen ruangobrol.id)

Pejabat pelaksana tugas bantuan penegakan hukum Departemen Kehakiman ICITAP di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Jhon Ruffcorn, mengatakan  bahwa ICITAP telah bekerjasama dengan beberapa kementerian di Indonesia selama lebih dari 21 tahun.

“Sebagian besar pekerjaan kami adalah dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), tetapi juga dengan kementerian lain, termasuk BNPT, PPATK, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum dan HAM,  dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,” katanya.

Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepala Kepala BNPT. “Teman baik saya Irjen Pol Boy Rafli Amar, Deputi Bidang Kerjasama Internasional, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Andhika Chrisnayudhanto, dan rekan-rekan kami di ruangobrol.id dan Co-Founder Ruangobrol.id DR Noor Huda Ismail, serta rekan-rekan saya di Kedutaan Amerika,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa ICITAP mendukung program kepemimpinan perempuan. Bahkan ICITAP juga memfasilitasi kehadiran Polri dalam Konferensi Polwan se-Dunia. “Pada 2019, ICITAP bekerjasama dengan Polri untuk mengembangkan beberapa project baru, termasuk memfasilitasi tanggap bencana dan penyembuhan trauma di 19 zona yang berisiko tinggi terhadap bencana alam,” katanya.

ICITAP juga bekerja untuk mendirikan pusat wawancara multi disiplin untuk meningkatkan penyelidikan kasus-kasus kriminal, seperti kasus kekerasan seksual yang diajukan penuntutan di pengadilan.

“ICITAP juga membantu mengembangkan strategi beberapa stakeholder untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia.  Ini termasuk pengembangan aplikasi berbasis Android pertama kali menyediakan layanan geo-location secara langsung dan sumber informasi perempuan dalam kondisi darurat. Aplikasi ini saat ini sedang diuji di Jakarta,” terangnya.

Sedangkan untuk project pengembangan kepemimpinan perempuan, ICITAP di Indonesia akan memiliki seorang penasihat perempuan dari Amerika. “Ini pertama kalinya akan ada penasihat perempuan dari Amerika yang datang ke Indonesia. Saat ini dia sedang mengurus dokumen-dokumennya, dan saya berharap dia akan tiba di Indonesia pada Mei atau Juni (2022),” katanya.

Awal dari Kolaborasi

Dia berharap forum ini adalah awal dari kolaborasi-kolaborasi yang akan datang di antara orang-orang yang mewakili organisasi-organisasi dalam diskusi ini.

“Karena topic-topik seperti ini tidak bisa dibicarakan dan diselesaikan dalam satu forum saja. Saya menantikan di mana kita bisa bertemu secara langsung. Sekali lagi, ICITAP dan saya menantikan kolaborasi di masa depan,” katanya.

Co-Founder Ruangobrol.id DR Noor Huda Ismail. (dokumen ruangobrol.id)

Co-Founder Ruangobrol.id DR Noor Huda Ismail mendukung, ini adalah awal untuk menjalin kerjasama selanjutnya. “Proses orang terlibat dalam terorisme antara lelaki dan perempuan berbeda. Sebelumnya, saya selalu skeptis bahwa ada hubungan antara online dan offline dalam proses orang dalam memilih terlibat dalam aksi terorisme. Tapi rasa skeptis itu hilang ketika pada Juni 2014 bertemu anak bernama Akbar di perbatasan Turki. Kami kemudian membikin film berjudul ‘Jihad Selfie’,” ujarnya. (*)

BACA JUGA: Ancaman Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Terorisme di Indonesia

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like