Kelompok ekstremis mengklaim kisah Ibrahim sebagai legitimasi kekerasan. Namun analisis atas teks, psikologi radikalisasi, dan rekam jejak deradikalisasi di Indonesia menunjukkan pembacaan yang justru berlawanan, kisah itu adalah narasi penghentian kekerasan, bukan pembenaran atasnya.
Tafsir yang Berhenti di Tengah Jalan
Dalam dua dekade terakhir, setidaknya kelompok-kelompok teroris besar yang beroperasi di Indonesia, Jemaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Daulah, dan sel-sel afiliasi ISIS, secara konsisten menggunakan kisah Ibrahim sebagai salah satu referensi teologis untuk membenarkan pengorbanan jiwa demi keyakinan. Logikanya tampak sederhana, jika Ibrahim bersedia mengorbankan putranya atas perintah Tuhan, maka kekerasan atas nama agama adalah bentuk ketaatan tertinggi. Argumen ini memiliki satu cacat fundamental, yaitu berhenti membaca di tengah jalan. Kisah Ibrahim dalam Al-Quran, khususnya Surah As-Saffat ayat 102 hingga 107, tidak berakhir pada momen Ibrahim mengangkat pisau. Ia berakhir ketika Tuhan menghentikan tindakan itu, menggantikan Ismail dengan seekor domba, dan menyatakan bahwa ujian telah selesai, dan kekerasan serta tumpahnya darah anak manusia tidak terjadi. Nyawa diselamatkan. Dan penggantian itulah, bukan pengangkatan pisau, yang menjadi inti dari seluruh peristiwa.
Kelompok ekstremis tidak salah dalam mengutip teks. Mereka salah dalam memutus teks sebelum selesai.
Peneliti hermeneutika Islam Nasr Hamid Abu Zayd menyebut praktik semacam ini sebagai ‘pembacaan ideologis’, di mana teks dipilih, dipotong, dan dibekukan pada titik yang menguntungkan narasi tertentu. Dalam konteks ekstremisme, pembacaan ideologis atas kisah Ibrahim secara sistematis menghilangkan elemen de-eskalasi yang justru menjadi pesan utama kisah tersebut.
Psikologi Rekrutmen dan Eksploitasi Narasi Suci
Pemahaman atas mekanisme psikologis radikalisasi membantu menjelaskan mengapa pembacaan yang terpotong ini begitu efektif. Peneliti psikologi, Arie Kruglanski dari University of Maryland mengembangkan teori Significance Quest, yang menunjukkan bahwa individu rentan terhadap radikalisasi ketika mengalami krisis makna dan kehilangan rasa signifikansi sosial. Dalam kondisi itu, narasi yang menawarkan identitas heroik, termasuk citra Ibrahim dan putranya yang rela berkorban, menjadi sangat menarik. Yang dieksploitasi bukan sekadar isi teks, melainkan struktur emosionalnya tentang keberanian, kesetiaan, dan kesediaan untuk melampaui batas demi yang lebih besar dari diri sendiri. Rekruter ekstremis mahir memanen emosi ini sembari membuang konteks teologis yang sesungguhnya. Hasilnya adalah versi kisah Ibrahim yang telah didistilasi menjadi glorifikasi pengorbanan tanpa narasi penghentian.
Sebaliknya, kisah Ibrahim yang dibaca secara utuh justru memperlihatkan model yang berlawanan dengan pola rekrutmen ekstremis. Ibrahim berdialog secara terbuka dengan Ismail sebelum bertindak, sebuah transparansi yang kontras dengan isolasi informasi yang menjadi ciri khas proses indoktrinasi. Ismail memberikan persetujuan yang reflektif, bukan kepatuhan buta. Dan pada akhirnya, keduanya menerima koreksi ilahiah, mengakui bahwa pemahaman mereka sendiri bisa salah.
Deradikalisasi: Data dari Lapangan Indonesia
Indonesia memiliki salah satu program deradikalisasi paling lama dan paling terdokumentasi di Asia Tenggara. Sejak 2002, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama berbagai mitra telah mendampingi ratusan mantan narapidana terorisme melalui program reintegrasi. Evaluasi yang dilakukan oleh Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) pada 2021 mencatat bahwa intervensi berbasis narasi keagamaan, khususnya yang melibatkan dialog mendalam atas teks yang sama yang digunakan untuk merekrut, terbukti lebih efektif dalam mengubah keyakinan dibandingkan pendekatan yang semata-mata bersifat hukum atau ideologis. Efektivitasnya bukan karena menolak teks, melainkan karena menyelesaikan teks yang selama ini dipotong.
Bukan teks yang berbahaya. Yang berbahaya adalah teks yang tidak pernah selesai dibaca.
Salah satu indikator yang konsisten muncul dalam proses deradikalisasi yang berhasil adalah momen ketika individu mulai mempertanyakan apakah pembacaan mereka atas teks ayat suci benar-benar utuh? Pertanyaan itu tidak selalu datang dari luar, pertanyaan tersebut sering kali dipicu oleh dialog internal yang dimungkinkan oleh pendamping yang memahami teks tersebut dengan baik. Dalam konteks kisah Ibrahim, pertanyaan yang paling sering mengubah perspektif adalah mengapa Tuhan menghentikan Ibrahim, dan apa artinya itu bagi logika kekerasan atas nama agama?
Spirit Idul Adha sebagai Narasi Tandingan
Idul Adha bukan hanya ritual tahunan. Dalam konteks sosial Indonesia yang masih menghadapi ancaman ekstremisme, data BNPT mencatat 370 lebih terdakwa kasus terorisme yang diproses pengadilan antara 2018 hingga 2023, perayaan ini menyimpan potensi sebagai momen narasi tandingan yang bersifat masif dan organik. Narasi tandingan yang efektif bukan yang mengkonfrontasi ekstremisme dari luar, melainkan yang bekerja dari dalam tradisi yang sama. Kisah Ibrahim, dibaca secara utuh, adalah narasi penghentian kekerasan yang tertanam jauh di dalam kesadaran kolektif umat Muslim Indonesia. Ia tidak perlu dikonstruksi dari awal, hanya perlu diselesaikan.
Pertanyaan yang relevan bukan apakah agama bisa menjadi solusi bagi ekstremisme. Pertanyaan yang lebih tepat adalah versi agama yang mana? Versi yang membekukan narasi pada momen pisau terangkat, atau versi yang membaca sampai pisau itu diturunkan kembali? Jawaban atas pertanyaan itu, setiap tahun, dirayakan oleh ratusan juta Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tantangannya adalah memastikan perayaan itu tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membaca kisah Ibrahim sampai kalimatnya utuh hingga huruf yang terakhir.[]
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar