Pancasila, Merah Putih, dan Ruang Pulang bagi Langkah yang Kembali

News

by Redaksi Editor by Redaksi

Pagi di Lapangan Korpri Kantor Gubernur Lampung itu berjalan seperti biasanya. Matahari belum terlalu tinggi. Barisan peserta upacara berdiri rapi. Merah putih berkibar pelan, sesekali digerakkan angin yang datang dari arah pepohonan di sekitar kompleks perkantoran.

Di tengah barisan itu, ada wajah-wajah yang mungkin dulu pernah dipandang dengan curiga.

Sebagian dari mereka pernah melewati lorong penjara. Sebagian lain pernah berada dalam lingkaran ideologi yang pernah membuat mereka menjauh dari kebanyakan orang. Nama mereka pernah dicatat aparat. Kisah mereka pernah dibicarakan dengan nada cemas.

Senin pagi, 1 Juni 2026, mereka berdiri di tempat yang sama dengan unsur pemerintah, aparat, dan masyarakat umum—mengikuti Upacara Hari Lahir Pancasila tingkat Provinsi Lampung.

Bukan sebagai penonton dari kejauhan. Tapi sebagai peserta. Sebagai warga negara.

Puluhan mantan narapidana terorisme yang tergabung dalam Yayasan Mangkubumi Putra Lampung bersama sejumlah mantan pengikut Jemaah Islamiyah hadir memenuhi undangan Pemerintah Provinsi Lampung. Di tengah suasana yang khidmat, mereka menatap tiang bendera yang sama, mendengarkan amanat yang sama, dan mengucapkan komitmen kebangsaan dengan hati yang barangkali sudah menempuh perjalanan panjang.

Bagi sebagian orang, upacara mungkin hanya rutinitas tahunan. Tetapi bagi mereka, pagi itu terasa berbeda.

Ada jarak waktu yang telah dilalui. Ada benturan batin yang pernah dialami. Ada masa ketika kata “Indonesia” mungkin dibaca dari sudut pandang yang berbeda.

Dan kini mereka berdiri di bawah bendera yang sama—dengan makna yang tidak lagi sama seperti dulu.

Ketua Yayasan Mangkubumi Putra Lampung, Suprihadi, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Lampung yang telah memberi ruang bagi mereka untuk hadir dalam momen bersejarah tersebut.

Ruang itu penting. Karena bagi orang-orang yang pernah hidup di bawah stigma, diterima kembali bukan perkara sederhana.

Ia bukan hanya tentang undangan resmi atau kehadiran dalam sebuah seremoni. Ia tentang pesan yang lebih dalam: bahwa pintu untuk kembali selalu ada.

Bahwa perubahan bukan sekadar slogan. Bahwa seseorang bisa jatuh sangat jauh, lalu pelan-pelan belajar pulang.

Hari itu, tema nasional “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” terasa menemukan bentuknya yang paling konkret. Bukan sekadar kalimat dalam spanduk atau amanat upacara, melainkan hadir dalam pemandangan nyata: orang-orang yang pernah berada di titik paling keras dalam pertarungan ideologi kini berdiri bersama, tanpa sekat yang mencolok, dalam satu barisan kebangsaan.

Di sanalah Pancasila terasa lebih dari sekadar hafalan. Ia menjadi ruang temu. Tempat orang dengan masa lalu yang berat tetap diberi kesempatan untuk menulis masa depan yang berbeda.

Dalam kesempatan itu, pihak yang selama ini mendampingi proses reintegrasi sosial para mantan napiter di Lampung juga menegaskan pentingnya menghentikan stigma. Perubahan, bagaimanapun, membutuhkan keberanian dari dua arah: keberanian seseorang untuk memperbaiki diri, dan keberanian masyarakat untuk memberi tempat.

Sebab tidak semua pertobatan lahir dengan tepuk tangan. Sering kali ia tumbuh diam-diam. Pelan. Seperti seseorang yang lama berjalan dalam gelap lalu mulai mengenali cahaya sedikit demi sedikit.

Mungkin itulah yang terasa di Lapangan Korpri pagi itu. Tidak ada pidato yang meledak-ledak. Tidak ada drama yang dibuat-buat. Hanya upacara yang berlangsung khidmat. Bendera yang perlahan naik ke puncak tiang. Dan sejumlah orang yang pernah melewati jalan terjal, berdiri tegak memandang merah putih.

Kadang Indonesia memang tidak selalu dibangun oleh peristiwa besar yang riuh. Kadang ia tumbuh dari langkah-langkah kecil yang nyaris tak terdengar.

Dari tangan yang dulu pernah menjauh lalu kini mau kembali menggenggam. Dari ruang yang memilih merangkul, bukan menolak. Dari keyakinan sederhana bahwa bangsa ini terlalu luas untuk menutup pintu bagi warganya yang sungguh-sungguh ingin pulang.

Dan pada pagi Hari Lahir Pancasila itu, di bawah langit Bandar Lampung yang cerah, mereka menunjukkan satu hal yang penting:

Bahwa pulang kepada Indonesia selalu mungkin.



Foto: Para mantan napiter dan mantan pengikut Jamaah Islamiyah berfoto bersama pejabat terkait setelah upacara Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026). [IST]

Komentar

Tulis Komentar