MUI

MUI: Penyebab Konflik Poso Karena Kaderasi Masih Berlangsung

By

Wakil Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI Najih Arromadhlony menilai, aksi terorisme di Poso Sulawesi Tengah lantaran kaderisasi MIT terus berjalan. Gus Najih mencontohkan ada Pesantren dan beberapa Masjid di Poso yang diduga tempat kaderisasi dan rekrutmen. Tempat tersebut sampai saat ini masih terus beroperasi. Kunci konflik Poso adalah dengan menghentikan proses kaderisasi tersebut.

“Konflik ini panjang karena kaderasinya tetap berjalan. Misalnya Pondok Pesantren Anshoru Sunnah. Dan beberapa masjid yang menjadi genealogi dari kelompok ini,” kata sosok yang akrab disapa Gus Najih ini dalam diskusi  “Peran Masyarakat Dalam Pencegahan Aksi Terorisme di Poso” yang diselenggarakan BPET MUI secara daring Minggu (4/7).

Terkait keterlibatan masyarakat dalam pencegahan aksi terorisme di Poso, Gus Najih menjelaskan jika mereka mengalami dilema. Pasalnya jika mereka membantu polisi atau aparat kemanan lainya maka mereka akan menjadi target serangan oleh MIT. MIT menganggap mereka sebagai jasus atau mata-mata. Namun jika mereka tidak membantu polisi maka mereka akan dicurigai membantu MIT. Karena itu dia meminta aparat kemanan menjamin keamanan masyarakat terutama yang berada di daerah-daerah rawan.

“Masyarakat dilema, bantu polisi dikira mata-mata. Dan mereka menjadi target MIT. Kalau tidak bantu mereka dianggap bersimpati kepada MIT,” kata Gus Najih lagi.

Selain itu, lanjut Gus Najih pemerintah selama ini dalam melakukan pencegahan terorisme hanya mendekati kelompok-kelompok yang dianggap keras. Namun menurutnya, Pemerintah di Poso belum mendekati kelompok-kelompok Moderat seperti Muhammadiyah dan NU.

“Di Poso saat MUI kesannya yang didekati hanya yang keras, tapi yang moderat pemerintah belum mendekati. Seperti Muhammadiyah dan NU. Sementara yang lain  bahkan dapat rusunawa dan mendapatkan bantuan Pengisian SPBU mini,” imbuh Najih.

Lebih lanjut Gus Najih menambahkan, salah satu penyebab kenapa Konflik Poso masih berlangsung adalah karena masih ada pihak-pihak yang memelihara dendam. Mereka ini menurut Gus Najih adah pihak yang tidak ingin Poso damai. Karena itu dia mengajak semua pihak di Poso agar menghilangkan dendam. Dia mengakui ada perlakuan tidak adil pasca konflik Poso. Misalnya ada pelaku pembantaian yang tidak mendapatkan tindakan hukum.

“Namun mau sampai kapan dendam itu dipelihara dan mewariskan kepada generasi muda kita Kalau kita mencotoh Nabi saat Fathu Mekkah. Nabi sama sekali tidak dendam terhadap kaum Quraish yang sudah menindas mereka saat di Mekkah sebelumnya. Ada banyak sahabat Nabi yang menjadi korban. Tapi saat Fathu Mekkah semua orang diampuni,” tegas Gus Najih

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like