Ketakutan yang Lebih Besar dari Keraguan

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Hari Ketika Kepercayaanku Runtuh

Bulan-bulan setelah kejadian itu berlalu dengan perasaan yang tidak pernah benar-benar tenang. Dari luar, hidupku terlihat berjalan seperti biasa. Aku masih berkomunikasi dengan Farhan hampir setiap hari. Aku masih membagikan potongan video yang sama, masih menulis narasi yang sama tentang perjuangan dan keberanian meninggalkan dunia lama. Jika seseorang melihat akun media sosialku saat itu, mungkin mereka akan mengira aku sedang berada pada fase keyakinan yang paling kuat.

Padahal di dalam diriku, ada pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban.

Aku mulai sering bertanya pada diriku sendiri tentang hubungan ini sebenarnya apa. Tentang Farhan. Tentang pernikahan yang selama ini kami yakini. Tentang hari di penginapan itu. Kadang pertanyaan itu muncul tiba-tiba ketika aku sedang sendirian, tanpa pemicu yang jelas. Ada satu pertanyaan yang selalu kembali, meskipun aku berusaha menyingkirkannya.

Apakah Farhan benar-benar menikahiku karena ingin membangun kehidupan bersamaku? Apakah ia benar-benar melihat kami sebagai pasangan yang akan membangun umat, berjuang di jalan Allah seperti yang sering ia katakan? Atau semua ini sejak awal hanya tentang satu hal lain yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih menyakitkan untuk diakui bahwa ia hanya ingin mendapatkan “sesuatu” dariku?

Pertanyaan itu terasa menakutkan bahkan untuk dipikirkan. Setiap kali muncul, aku segera menekannya dengan berbagai alasan yang selama ini diajarkan kepadaku. Aku mengingat kembali semua kalimat yang pernah ia katakan tentang keseriusan, tentang tanggung jawab, tentang rencana masa depan setelah aku lulus sekolah. Dan seperti sebelumnya, Farhan selalu punya cara untuk meyakinkanku bahwa hubungan ini masih memiliki arah.

Sementara itu, aku juga masih menjalani rutinitas yang sama di media sosial. Aku masih membagikan ulang video-video yang dulu pertama kali mempertemukanku dengan lingkaran itu. Potongan-potongan video tentang jihad, tentang perjuangan, tentang keberanian meninggalkan kehidupan yang dianggap terlalu “duniawi”. Setiap kali aku mengunggahnya, selalu ada orang-orang yang merespons dengan semangat yang sama. Dari luar, semuanya terlihat konsisten, seolah keyakinanku tidak pernah berubah.

Namun dua bulan setelah pertemuan itu, sesuatu yang kecil tapi aneh terjadi.

Suatu hari aku menyadari bahwa foto-foto kami di akun Instagram Farhan sudah tidak ada lagi. Foto-foto yang sebelumnya ia unggah, yang dulu sempat membuatku merasa diakui, tiba-tiba hilang begitu saja. Awalnya aku mengira aku hanya salah melihat. Tapi setelah aku membuka kembali akunnya beberapa kali, kenyataannya tetap sama. Semua foto yang berkaitan denganku telah dihapus.

Akhirnya aku menanyakannya langsung pada Farhan.

Jawabannya singkat. Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi suami yang dayyuts. Ia menjelaskan bahwa seorang laki-laki tidak seharusnya memperlihatkan istrinya kepada orang lain di media sosial. Menurutnya, menjaga kehormatan istri berarti tidak menjadikannya tontonan bagi banyak orang.

Penjelasan itu terdengar masuk akal bagiku saat itu. Dan seperti banyak hal sebelumnya, aku menerimanya tanpa banyak perdebatan. Ada bagian dari diriku yang bahkan merasa bahwa ia mungkin benar. Bahwa mungkin selama ini aku terlalu terbuka di media sosial.

Namun setelah itu, perubahan yang lebih besar mulai muncul.

Dalam beberapa bulan berikutnya, Farhan mulai sering mengatakan sesuatu yang membuatku semakin gelisah. Ia mulai mempertanyakan pernikahan kami.

Awalnya ia menyampaikannya dengan hati-hati, seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang penting. Ia mengatakan bahwa ia baru mempelajari beberapa dalil yang sebelumnya belum ia pahami sepenuhnya. Menurutnya, ada kemungkinan bahwa pernikahan kami sebenarnya tidak sah.

Alasannya berkaitan dengan orang tuaku.

Ia mengatakan bahwa dulu ia mengira posisi orang tuaku berbeda. Ia pernah menyimpulkan bahwa kondisi keluargaku membuat beberapa hal menjadi mungkin. Namun sekarang ia mengatakan bahwa ia baru memahami dalil lain yang membuatnya berpikir ulang. Ia mengatakan bahwa orang tuaku ternyata masih dianggap Muslim, sehingga beberapa syarat yang dulu ia yakini ternyata tidak terpenuhi.

Aku masih ingat bagaimana rasanya mendengar itu untuk pertama kalinya.

Perasaanku seperti jatuh ke tempat yang sangat dalam. Di satu sisi aku bingung dengan perubahan penjelasan itu. Bukankah dulu justru Farhan yang menjelaskan semua dalil tersebut kepadaku? Bukankah dulu ia yang meyakinkanku bahwa situasiku memungkinkan pernikahan itu terjadi?

Namun di sisi lain, ada ketakutan yang jauh lebih besar yang tiba-tiba muncul di dalam diriku.

Ketakutan bahwa ia akan pergi.

Pikiranku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuatku semakin panik. Jika pernikahan itu tidak sah, lalu apa artinya semua yang sudah terjadi? Jika pernikahan itu tidak sah, apakah itu berarti ia tidak lagi memiliki kewajiban untuk tetap bersamaku?

Aku mencoba membantahnya.

Anehnya, bantahan yang keluar dari mulutku justru menggunakan dalil-dalil yang dulu ia ajarkan kepadaku. Aku mengingat kembali semua penjelasan yang pernah ia berikan tentang kondisi keluargaku. Tentang bagaimana orang tua yang tidak menjalankan kewajiban agama diposisikan dalam pemahaman yang dulu ia jelaskan kepadaku. Aku mengingatkan bahwa dulu ia sendiri yang mengatakan semua itu.

Namun setiap kali aku menyampaikan hal tersebut, Farhan selalu memiliki jawaban baru.

Kadang ia mengatakan bahwa pemahamannya dulu belum sempurna. Kadang ia mengatakan bahwa ia baru menemukan penjelasan lain yang lebih kuat. Kadang ia mengatakan bahwa ia hanya ingin berhati-hati agar tidak melakukan sesuatu yang salah di hadapan Allah.

Percakapan seperti itu tidak terjadi sekali dua kali. Ia terus berulang selama berbulan-bulan.

Setiap kali topik itu muncul, aku merasakan ketegangan yang sama. Aku mencoba mempertahankan keyakinan bahwa hubungan ini masih memiliki dasar yang kuat. Aku mengingatkan kembali semua hal yang dulu ia katakan. Namun setiap kali aku membantah satu alasan, Farhan selalu menemukan alasan lain.

Seolah-olah tanah yang kupijak terus bergeser.

Di dalam diriku, mulai muncul perasaan yang semakin sulit diabaikan. Kenapa semua ini baru dipertanyakan sekarang? Kenapa setelah semua yang sudah terjadi, ia baru mengatakan bahwa mungkin pernikahan ini tidak sah?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Ada bagian dari diriku yang mulai mencurigai sesuatu yang tidak ingin kuakui secara langsung. Pikiran yang mengatakan bahwa mungkin… mungkin semua ini berubah setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan dariku. Namun pikiran itu selalu membuatku takut. Karena jika itu benar, berarti aku harus menghadapi kenyataan yang jauh lebih menyakitkan dari sekadar hubungan yang tidak jelas. Itu berarti aku harus menerima bahwa kepercayaanku telah digunakan dengan cara yang tidak pernah kubayangkan.

Dan untuk waktu yang cukup lama, aku belum siap menghadapi kemungkinan itu. Yang kurasakan saat itu hanyalah satu hal yang sangat kuat: ketakutan untuk ditinggalkan. Ketakutan itu bahkan lebih besar daripada keraguanku sendiri.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar