Baca kisah sebelumnya: Tersesat di Jalan Sunyi: Refleksi di Tengah Kebisingan Politik
Ada masa dalam hidup ketika seseorang begitu yakin sedang menapaki jalan yang benar. Langkah terasa ringan, arah tampak jelas, dan segala yang berbeda dianggap keliru. Saya pernah berada di masa itu—masa ketika keyakinan berubah menjadi tembok yang tinggi, menghalangi cahaya keraguan untuk sekadar menyelinap masuk. Di sana saya berdiri, dengan rasa bangga dan pembenaran yang nyaris sempurna. Namun kini, ketika menoleh ke belakang, saya tahu: justru di situlah saya sedang tersesat paling jauh.
Saya tidak akan menyalahkan siapa pun. Dulu, saya tidak sedang tertipu oleh propaganda atau terperangkap oleh bujuk rayu doktrin. Saya tahu betul apa yang saya yakini. Saya sadar penuh dengan perjuangan yang saya pilih. Tapi kesadaran tidak selalu berarti kebenaran. Di dalam semangat itu, ada kesombongan yang halus—keyakinan bahwa hanya saya dan kelompok saya yang paling mengerti kehendak Tuhan. Saya merasa sedang memperjuangkan agama, padahal tanpa sadar, saya hanya sedang membela versi kebenaran yang saya bentuk sendiri.
Saya menjadikan ideologi sebagai cermin tunggal, dan setiap orang yang tak serupa saya anggap telah menyimpang. Saya lupa bahwa kebenaran sejati bukan milik kelompok mana pun, melainkan milik hati yang terus mencari. Tapi ketika hati tertutup oleh kesombongan, bahkan kebenaran pun akan tampak seperti musuh.
Kemudian, jalan yang saya yakini mulai retak. Allah menegur dengan cara yang tidak saya duga—melalui kehilangan, keterpurukan, dan rasa hampa yang tak bisa saya jelaskan. Satu per satu pintu tertutup. Orang-orang menjauh. Hidup yang dulu terasa begitu penuh arah, tiba-tiba sunyi. Dulu saya menyebutnya ujian. Kini saya tahu, itu adalah cara Allah menghentikan langkah saya sebelum semuanya terlambat.
Saya pernah marah. Saya merasa dikhianati. Saya menuduh dunia tidak adil. Tapi di tengah kejatuhan itu, perlahan saya belajar: mungkin inilah kasih sayang yang sesungguhnya. Allah tidak sedang menghukum saya, Ia sedang melindungi saya dari kesalahan yang lebih fatal. Ia menarik saya keluar dari jalan yang akan menelan saya, meski caranya menyakitkan.
Di titik terendah itu, saya menemukan kembali makna rendah hati. Saya belajar menerima bahwa saya bisa salah. Bahwa manusia tak akan pernah selesai belajar tentang kebenaran. Saya tersingkir dari lingkaran yang dulu saya anggap paling suci, namun di luar lingkaran itu, saya menemukan ruang yang lebih luas—ruang untuk berpikir, merasa, dan memahami manusia lain tanpa prasangka.
Perjalanan ini membuat saya mengerti, tidak semua yang keras berarti kuat, dan tidak semua yang lembut berarti lemah. Dulu saya memandang kelembutan sebagai bentuk kompromi, padahal justru di sanalah kekuatan sejati bersemayam. Bahwa keberanian sejati bukan terletak pada lantangnya suara saat menentang, tapi pada kemampuan untuk menahan diri ketika ego ingin menang.
Saya juga belajar bahwa perjuangan tidak selalu berarti konfrontasi. Kadang, bentuk perjuangan terbaik adalah memperbaiki diri. Menyembuhkan luka-luka batin yang pernah kita sebarkan. Meminta maaf, meski tak selalu diterima. Memaafkan, meski tak pernah diminta. Dan terus menanam kebaikan kecil, bahkan di tempat yang dulu penuh kebencian.
Kini, ketika saya menatap ke belakang, saya tidak melihat masa lalu itu sebagai aib. Saya melihatnya sebagai guru yang paling tegas, tapi juga paling jujur. Ia mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup tanpa pemahaman. Bahwa semangat bisa menyesatkan jika tidak dibimbing kebijaksanaan. Dan bahwa jalan pulang selalu ada, selama hati mau mengakui arah yang salah.
Saya sering bertanya-tanya, bagaimana jika Allah tidak menghentikan langkah saya waktu itu? Mungkin saya tidak akan pernah duduk tenang seperti hari ini, menulis tentang kedamaian dengan hati yang lapang. Mungkin saya tidak akan pernah tahu bahwa kasih sayang Allah kadang datang dalam bentuk kehilangan. Bahwa hidayah tidak selalu berupa cahaya yang menuntun, tapi bisa juga berupa tembok yang menghadang—agar kita berhenti, menoleh, dan menemukan diri yang hilang.
Kini, saya bersyukur. Karena di saat hampir kehilangan arah, Allah masih berkenan menarik saya kembali. Saya tidak lagi berlari, tidak lagi merasa perlu menang atas siapa pun. Saya hanya ingin berjalan pelan, membawa pelajaran dari masa lalu untuk menebar kebaikan di masa depan. Saya ingin menjadi saksi bahwa bahkan dari kesalahan yang paling dalam, manusia masih bisa kembali pulang.
Dan mungkin, inilah makna sejati dari kasih sayang-Nya: Ia menghentikan kita bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menyelamatkan. Agar kita tak terus melangkah di jalan yang salah, agar kita berhenti sebelum terlambat.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar