Tersesat di Jalan Sunyi: Refleksi di Tengah Kebisingan Politik

Tokoh

by Ilham Alfarizi Editor by Arif Budi Setyawan

Baca tulisan sebelumnya: Ketika Meme Jadi Mimbar: Senyum, Gaul, dan Propaganda yang Menyelinap



Tahun-tahun 2018–2019 bisa dibilang salah satu masa paling bising dalam sejarah politik Indonesia modern. Polarisasi tajam, sentimen agama yang terus dipertaruhkan, dan retorika identitas yang menyeret ruang publik ke dalam kubu-kubu yang saling curiga. Di tengah hiruk-pikuk itu, banyak orang merasa agama sedang direduksi menjadi alat politik. Islam, bagi sebagian, bukan lagi pedoman moral, tapi komoditas kampanye.

Dari sinilah kegelisahan itu tumbuh: keinginan untuk mencari Islam yang lebih murni, yang tidak dikotori oleh kepentingan pragmatis kekuasaan. Bukan karena kebencian terhadap negara, melainkan karena rasa kecewa terhadap bagaimana nilai-nilai agama dipermainkan. Dalam situasi penuh polarisasi itu, keinginan untuk “memurnikan” keyakinan terasa seperti pilihan logis — bahkan mulia.

Namun dalam proses mencari itu, banyak yang justru tanpa sadar berpindah dari ruang spiritual menuju ruang ideologis. Dari ruang tafakur ke ruang perlawanan. Bagi sebagian orang, ideologi ekstrem tampak menawarkan kejelasan: siapa kawan, siapa lawan; mana yang haq, mana yang batil. Ia seperti jawaban yang tegas di tengah kabut kebingungan sosial dan politik.

Saya ingat betul fase itu. Pencarian saya waktu itu tidak dimulai dari media sosial, melainkan dari ruang-ruang pengajian kecil yang saya bentuk bersama beberapa kawan. Kami membaca, berdiskusi, dan merasa sedang berada di jalur yang benar untuk memperjuangkan Islam yang “autentik”. Sosial media hanya berperan sebagai katalisator—memperluas jaringan, mempercepat penyebaran wacana, dan memberi validasi terhadap keyakinan yang sudah lebih dulu tumbuh di ruang nyata.

Tapi seiring waktu, ruang pengajian yang seharusnya menjadi tempat belajar, berubah menjadi ruang gema. Diskusi makin jarang berisi pertanyaan, dan lebih sering berisi penguatan terhadap keyakinan yang sudah ada. Kebenaran menjadi eksklusif, hanya dimiliki oleh “kami” yang merasa paham arah perjuangan Islam sesungguhnya. Dari sinilah semangat idealisme perlahan bergeser menjadi sikap konfrontatif.

Melihat kembali ke masa itu, saya menyadari bahwa ekstremisme tidak selalu lahir dari kebodohan atau kemarahan, tetapi sering dari keinginan tulus untuk memperbaiki keadaan dengan cara yang paling “konsekuen”. Ketika ruang publik dipenuhi manipulasi agama, ideologi keras terasa seperti oase rasionalitas: ia memberi narasi yang utuh, penjelasan yang konsisten, dan arah yang jelas. Namun di balik konsistensinya, tersembunyi jebakan: pengabaian terhadap keragaman dan realitas kompleks kehidupan sosial.

Kesalahan saya waktu itu bukan karena tertipu, tetapi karena terlalu yakin bahwa semua jawaban sudah saya temukan. Padahal, dunia tidak sesederhana dikotomi hitam-putih yang ditawarkan ideologi. Tidak semua kompromi berarti lemah, dan tidak semua konfrontasi berarti benar. Dalam keyakinan yang terlalu mutlak, saya justru kehilangan esensi Islam yang paling mendasar: keseimbangan (wasathiyyah).

Kini, melihat ke belakang, saya memahami bahwa yang disebut “tersesat” bukan berarti berjalan di jalan yang salah sepenuhnya, tetapi berjalan terlalu jauh tanpa berhenti untuk menengok arah. Dalam kebisingan politik dan polarisasi identitas waktu itu, banyak yang mencari kedamaian justru di tempat yang paling gaduh.

Mungkin, pelajaran terbesar dari fase itu adalah bahwa spiritualitas tidak bisa tumbuh di ruang yang hanya memantulkan satu suara. Ia butuh ruang dialog, keragaman, dan keterbukaan—hal-hal yang justru hilang ketika ideologi menguasai cara berpikir kita. Dan barangkali, dalam dunia yang terus bising oleh klaim kebenaran, tugas terbesar kita bukan untuk menjadi yang paling benar, melainkan yang paling mampu mendengar.



Ilustrasi: By AI (Gemini)

Komentar

Tulis Komentar