Dari Retakan ke Ketakutan: Hari Ketika Topeng Itu Tak Lagi Bertahan

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan 1

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Ketika "Hijrah" Merampas Rumah Tangga: Retakan yang Membuka Mata Remajaku

Pernah suatu hari, aku bersama Nabilai teman terdekatku di rumah singgah, sedang keluar sebentar untuk membeli sayur matang di warung terdekat. Hari itu tenang, bahkan cenderung membosankan. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu. Namun begitu kami kembali, suasana rumah tiba-tiba berubah drastis.

Salah satu perempuan pengurus rumah singgah “Ummu Hanin” datang tergesa-gesa dengan wajah tegang. Nada suaranya pendek, penuh komando:

Tutup semua akses masuk. Kumpul di dapur. Sekarang!.”

Kami langsung diarahkan masuk ke dapur belakang, ruangan kecil yang tiba-tiba berubah menjadi tempat persembunyian. Walaupun penghuni rumah singgah itu mayoritas perempuan, tetap ada beberapa laki-laki dari kelompok yang tinggal di bangunan terpisah. Tapi hari itu, semuanya seperti digiring ke titik yang sama, bersembunyi dari sesuatu yang tidak kami pahami.

Aku sempat bertanya, “Ada apa?” Tapi sebelum ada yang menjawab, salah satu pengurus lain membisikkan kalimat yang membuat tengkukku merinding:

Polisi datang.”

Di kelompok itu, polisi, aparat keamanan, bahkan pemerintahan dianggap sebagai musuh abadi. Mereka dibingkai sebagai representasi “thaghut”, musuh agama, ancaman keimanan, dan sumber fitnah dunia. Karena itu, setiap mendengar kata “polisi”, reaksi mereka selalu sama, panik, tegang, dan siap melawan. Tidak peduli apa konteksnya. Tidak peduli apakah benar-benar ada bahaya atau tidak.

Maka ketika polisi datang, kepanikan itu meledak begitu saja, bukan karena ada kejahatan, tapi karena doktrin bertahun-tahun yang membentuk mereka untuk menganggap aparat sebagai ancaman yang harus dihindari atau dilawan.

Dalam kekacauan itu, kami sudah diajari protokol “jika rumah digerebek”. Protokol yang seharusnya tidak pernah ada di tempat yang mengklaim sebagai rumah hijrah. Senjata tidak pernah disebut “senjata” tapi kami tahu fungsi sebenarnya. Pisau dapur, gunting, bahkan benda tumpul apa saja dianggap alat pertahanan. Aku sendiri menggenggam pisau dapur dengan tangan dingin dan gemetar.

Munculnya alasan kedatangan polisi tidak serumit yang selama ini kami bayangkan. Justru sangat manusiawi. Imel, salah satu penghuni yang sejak awal tampak paling rapuh, ternyata diam-diam menghubungi bibinya, entah lewat cara apa, karena semua ponsel kami memang disita. Ia sudah tidak sanggup hidup di tempat itu. Mungkin karena mulai mencium ada yang busuk, atau karena tekanan psikologis yang semakin menghimpit. Ia hanya ingin pulang. Bibinya yang panik kemudian melapor ke polisi bahwa keponakannya yang sempat hilang akhirnya ditemukan.

Itu laporan pencarian anak, bukan laporan terorisme. Tapi di lingkungan seperti kami, kehadiran aparat saja sudah cukup untuk menyalakan alarm bahaya. Doktrin yang ditanamkan bertahun-tahun membuat kami percaya bahwa negara selalu datang untuk “menghancurkan perjuangan”. Jadi ketika suara langkah polisi terdengar di halaman, jantung kami langsung naik ke tenggorokan.

Pemilik rumah melangkah ke depan menghadapi polisi, sementara kami bersembunyi di belakang, menahan napas seolah setiap hembusan bisa mengundang kesan. Suasana gelap dan sesak itu membuat semuanya terasa semakin salah. Tidak ada tempat yang benar-benar suci akan panik seperti itu ketika aparat negara datang, kecuali tempat yang memang menyimpan sesuatu yang ingin ditutupi.

Ketika polisi akhirnya membawa Imel keluar, kami hanya bisa melihat dari celah sempit. Ia menangis, tapi bukan tangis takut, lebih seperti seseorang yang akhirnya menemukan jalan keluar dari labirin gelap. Ada kelegaan yang sangat jelas di wajahnya, sesuatu yang sudah lama hilang dari matanya.

Pemilik rumah singgah mencoba menambal keadaan dengan berbagai alasan, katanya Imel hanya sedang “bekerja” di rumah itu, katanya ia hanya “membantu”. Ia menumpuk alasan demi alasan, entah untuk menenangkan polisi atau untuk mempertahankan citra suci yang selama ini ia bangun. Kami tidak tahu apa saja yang dia bicarakan, tapi jelas sekali dia berusaha keras agar polisi tidak terlalu banyak bertanya, atau tidak melihat apa pun yang sebenarnya terjadi di balik pintu itu.

Saat polisi pergi dan suasana kembali tenang, satu pertanyaan muncul di kepalaku:

Kalau keluarga Imel mencarinya… apakah keluargaku juga mencariku?”

Tidak lama kemudian, “ustadz” kelompok itu masuk dan memberi perintah.

Untuk sementara kita pindah ke rumah saya. Demi keamanan. Bawa barang penting. Senjata tetap dibawa.”

Sejak hari itu, aku tahu ketakutan kami bukanlah kewaspadaan, melainkan kepatuhan yang dibesarkan oleh ancaman. Tubuhku mengikuti perintah, tetapi pikiranku mulai menolak diam. Aku masih melangkah bersama mereka, masih membawa apa yang disuruh dibawa, namun sesuatu di dalam diriku sudah tidak lagi percaya. Dan di rumah yang katanya lebih aman itu, aku akhirnya belajar bahwa yang paling berbahaya bukan suara aparat di luar pagar, melainkan kuasa yang bekerja tanpa belas di dalamnya.

Dan di rumah itulah, sesuatu yang jauh lebih pahit akhirnya terjadi, peristiwa itu bukan menimpaku langsung, tetapi cukup untuk mengguncang fondasi terakhir dari kepercayaanku pada kelompok itu.



Ilustrasi: By AI [OpenAI]

Komentar

  1. H

    // Fungsi untuk menjalankan kode yang ditulis pengguna function runUserCode(userCode) { try { // Menjalankan kode yang ditulis pengguna eval(userCode); } catch (error) {

Tulis Komentar