Kalau ada satu hal yang tidak pernah benar-benar meninggalkanku sejak kecil, mungkin jawabannya adalah sepak bola.
Aku lahir dan besar di sebuah desa di Jawa Barat. Dan seperti kebanyakan anak laki-laki di kampung, masa kecilku dipenuhi suara bola yang ditendang di lapangan tanah, tiang gawang dari bambu, dan pertandingan yang sering kali berakhir ketika azan magrib berkumandang. Kami bermain tanpa sepatu yang bagus, tanpa rumput yang rata, bahkan kadang dengan bola yang sudah berkali-kali dijahit. Tapi tak seorang pun mengeluh. Yang penting, kami bisa bermain.
Aku pernah bergabung dengan klub sepak bola lokal di kampungku. Tidak sampai menjadi atlet profesional, tentu saja. Namun sepak bola telah menjadi bagian dari hidupku. Dari sanalah aku belajar tentang kerja sama, tentang menerima kekalahan, dan tentang kegembiraan sederhana yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang mencintai permainan itu.
Seiring bertambahnya usia, aku memang tidak lagi aktif bermain. Kuliah, pekerjaan, dan berbagai urusan hidup membuat waktu di lapangan semakin berkurang. Namun satu kebiasaan tidak pernah berubah. Aku tetap setia menonton pertandingan sepak bola. Liga-liga Eropa, turnamen internasional, hingga pertandingan Tim Nasional Indonesia selalu berhasil menarik perhatianku.
Bahkan ketika jalan hidupku mulai menyimpang.
Ketika pikiranku dipenuhi ideologi yang keras, ketika aku mulai memandang negara ini sebagai sesuatu yang harus dilawan, bahkan ketika aku merasa memiliki keyakinan yang berbeda dengan kebanyakan orang, anehnya, ada satu hal yang tetap tidak berubah.
Aku tetap mendukung Timnas Indonesia.
Hari ini, ketika mengingat masa itu, aku sering tersenyum sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang yang menganggap negara ini sebagai musuh masih ikut berdebar ketika Indonesia bertanding? Bagaimana mungkin aku masih berharap Garuda menang, masih bangga melihat Merah Putih berkibar, sementara pikiranku saat itu justru dipenuhi narasi yang menolak negara?
Mungkin, jauh di lubuk hati, ada bagian dari diriku yang tidak pernah benar-benar kehilangan rasa memiliki terhadap Indonesia. Hanya saja, saat itu aku belum cukup jujur untuk mengakuinya.
Lalu hidup membawaku ke tempat yang sama sekali berbeda.
Penjara.
Aku ditangkap dan ditahan di Rumah Tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Di tempat itulah aku mulai memahami arti kehilangan dalam bentuk yang paling sederhana. Aku kehilangan kebebasan, aku kehilangan keluarga. Dan, mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, aku juga kehilangan kesempatan menonton sepak bola.
Setiap kali ada pertandingan besar, terutama ketika Timnas Indonesia bermain, aku hanya bisa mendengar suara televisi dari luar sel. Para petugas menonton bersama. Sesekali terdengar sorak sorai panjang yang menggema ke lorong-lorong tahanan.
Saat terdengar teriakan keras, aku hanya bisa menebak, apakah Indonesia baru saja mencetak gol? Atau justru kebobolan?
Aku tidak tahu.
Aku hanya menjadi pendengar dari balik pintu besi yang terkunci. Saat itulah aku merasakan bahwa kebebasan ternyata bukan hanya soal bisa berjalan ke mana saja. Kebebasan juga berarti bisa menikmati hal-hal sederhana yang selama ini sering kita anggap biasa.
Namun suatu hari terjadi sesuatu yang tidak pernah kulupakan. Aku sudah lupa pertandingan apa saat itu. Yang kuingat hanya satu, Tim Nasional Indonesia sedang bermain. Beberapa petugas memanggilku dan beberapa tahanan lain.
"Kalian mau nonton bola?"
Aku sempat mengira mereka bercanda. Tapi ternyata tidak. Kami benar-benar diajak ikut menyaksikan pertandingan bersama mereka. Hari itu terasa begitu sederhana, tetapi sangat berarti. Untuk beberapa saat, status kami sebagai tahanan seolah menghilang. Kami duduk di ruangan yang sama. Para petugas bersorak ketika Indonesia menyerang. Kami pun ikut bersorak, tak ada perdebatan, tak ada permusuhan, tak ada sekat yang terasa begitu tebal. Yang ada hanyalah orang-orang yang sama-sama berharap sebelas pemain berbaju merah bisa membawa kemenangan.
Hari itu aku mulai melihat sesuatu yang baru. Sepak bola mampu mempertemukan orang-orang yang sebelumnya berdiri di sisi yang berbeda. Namun ternyata, pelajaran terbesar bukan datang dari pertandingan yang kami tonton di televisi. Melainkan dari pertandingan yang kami mainkan sendiri.
Dua kali dalam seminggu, kami diberi kesempatan berolahraga, dan sepak bola tetap menjadi kegiatan yang paling kami tunggu. Bagiku, pertandingan-pertandingan kecil itu seharusnya menjadi simbol persaudaraan.
Bukankah kami semua berasal dari kelompok yang sama? Bukankah kami memiliki keyakinan yang sama? Bukankah kami pernah memperjuangkan hal yang sama? Dan kini kami juga sama-sama menjadi narapidana. Dalam pikiranku saat itu, kami pasti sangat solid, kami adalah saudara seperjuangan.
Namun ternyata aku keliru. Suatu hari pertandingan berlangsung cukup sengit. Awalnya biasa saja, saling berebut bola, saling mengejar kemenangan, lalu terjadi pelanggaran. Perdebatan kecil berubah menjadi adu mulut, dan nada bicara semakin tinggi. Perlahan, emosi mulai menguasai hingga tiba-tiba salah seorang berteriak kepada rekannya sendiri,
"Kubunuh kau!"
Aku membeku. Kalimat itu terus terngiang di kepalaku. Yang mengucapkannya bukan sedang berhadapan dengan aparat, bukan kepada orang yang berbeda agama, bukan kepada orang yang selama ini kami anggap sebagai musuh. Ia mengucapkannya kepada sesama narapidana terorisme. Kepada seseorang yang selama ini disebut sebagai saudara seperjuangan.
Sepulang dari lapangan, pikiranku tidak lagi tenang. Aku terus memikirkan kejadian itu. Bukankah selama ini kami selalu mengatakan bahwa seorang muslim tidak boleh menumpahkan darah muslim lainnya? Bukankah kami selalu berbicara tentang ukhuwah, tentang persaudaraan yang dibangun atas dasar iman? Lalu mengapa hanya karena sebuah pertandingan sepak bola ancaman membunuh bisa terlontar begitu saja?
Kalau ancaman itu dianggap serius, bukankah itu berarti orang yang diancam telah dianggap keluar dari lingkaran persaudaraan? Dan jika semudah itu seseorang kehilangan status sebagai saudara, seberapa kokoh sebenarnya persaudaraan yang selama ini kami banggakan?
Semakin kupikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Selama ini kami merasa berada dalam kelompok yang paling benar. Kami merasa paling memahami agama. Kami merasa persaudaraan kami lebih kuat daripada orang lain.
Namun kenyataan di lapangan memperlihatkan hal yang berbeda. Kesamaan ideologi ternyata tidak otomatis melahirkan kedewasaan. Kesamaan perjuangan ternyata tidak otomatis menghilangkan ego. Kesamaan musuh ternyata tidak otomatis membuat manusia saling mencintai.
Aku mulai menyadari bahwa masalah terbesar bukan semata-mata soal ideologi. Masalah terbesar adalah ego manusia. Ego yang merasa paling benar, ego yang tidak siap menerima kekalahan, ego yang mudah mengubah perbedaan menjadi permusuhan.
Hari itu menjadi salah satu retakan pertama dalam cara berpikirku. Aku mulai mempertanyakan banyak hal yang sebelumnya kuterima begitu saja. Jika kami saja bisa saling mengancam hanya karena pertandingan sepak bola, apakah benar selama ini kami telah membangun persaudaraan yang sehat? Ataukah kami hanya dipersatukan oleh musuh yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menemaniku. Belakangan, berbagai program pembinaan, dialog dengan Densus 88, BNPT, para ulama, akademisi, psikolog, dan banyak pihak lainnya membantuku menemukan jawaban-jawaban baru. Namun aku tidak pernah melupakan satu momen sederhana di lapangan kecil itu.
Karena di sanalah aku pertama kali melihat bahwa keyakinan yang selama bertahun-tahun kuanggap kokoh ternyata memiliki banyak celah.
Hari ini aku masih mencintai sepak bola, aku masih menunggu pertandingan Tim Nasional Indonesia, aku masih ikut bersorak ketika Garuda mencetak gol. Bedanya, kini aku melihat sepak bola dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi hanya melihat skor, kemenangan, atau kekalahan, aku melihat bagaimana permainan itu mengajarkan disiplin, sportivitas, kerja sama, dan penghormatan kepada lawan.
Aku melihat bagaimana sebelas orang dengan latar belakang yang berbeda bisa bersatu demi satu tujuan. Aku juga melihat bagaimana pertandingan selalu berakhir dengan saling berjabat tangan, meskipun sepanjang sembilan puluh menit mereka saling beradu keras.
Bukankah kehidupan seharusnya juga seperti itu?
Kita boleh berbeda pandangan. Kita boleh berkompetisi. Kita boleh memperjuangkan apa yang kita yakini. Tetapi tidak pernah ada alasan untuk menghilangkan kemanusiaan. Dan hari ini aku percaya, perubahan tidak selalu datang melalui peristiwa besar. Kadang ia hadir melalui pengalaman yang sangat sederhana. Melalui sebuah percakapan, melalui sebuah pertemuan, melalui sebuah pertandingan, atau melalui sembilan puluh menit sepak bola di sebuah lapangan kecil, di balik jeruji besi.
Aku tidak pernah menyangka bahwa permainan yang kucintai sejak kecil akan menjadi salah satu jalan yang menuntunku melihat diriku sendiri dengan lebih jujur. Dan mungkin, tanpa kusadari saat itu, sepak bola bukan sekadar permainan yang mengisi masa kecilku. Ia menjadi salah satu jalan yang menuntunku pulang.
Pulang kepada akal sehat, pulang kepada kemanusiaan, pulang kepada keluargaku. Dan akhirnya, pulang kepada Ibu Pertiwi, Indonesia.[]
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar