Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Ruang yang Semakin Mengecil: Bagaimana Kebebasan Kami Dikikis Perlahan
Pernah suatu hari terjadi sesuatu yang benar-benar membuatku tersentak, sebuah kejadian yang mungkin terlihat biasa bagi orang luar tetapi menjadi titik awal retakan yang perlahan membuka kesadaranku. Di rumah itu, sudah menjadi rutinitas bulanan bahwa selalu ada penghuni baru yang datang. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan muda yang kabur dari rumah karena keluarga yang tidak utuh, perempuan yang sedang berada di titik rapuh dalam hidupnya, atau mereka yang sedang mencari identitas baru setelah merasa dunia luar terlalu bising.
Hari itu beredar kabar akan datang seorang perempuan paruh baya. Tidak ada yang istimewa. Awalnya aku hanya tahu ia berasal dari Sumatra dan mengaku sebagai seorang janda. Tak ada satu pun yang merasa perlu menggali lebih jauh; dalam budaya kelompok itu, cerita seseorang cukup diterima apa adanya, yang penting ia tunduk pada pola yang sudah ditetapkan.
Namun beberapa bulan kemudian, serpihan cerita lain mulai muncul. Pelan tetapi pasti, narasi baru yang jauh lebih gelap terungkap. Ternyata perempuan itu bukan janda. Ia sebenarnya seorang istri yang meninggalkan rumah ketika suaminya sedang pergi ke luar kota. Yang lebih menggetarkan dadaku: ia juga meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil. Tidak ada upaya untuk membawa mereka, tidak ada pergulatan batin yang diceritakan, yang ada hanya keputusan untuk pergi mengikuti doktrin yang ia yakini sebagai “kebenaran”. Bagiku, itu seperti pukulan telak: bagaimana mungkin seorang ibu bisa diyakinkan untuk meninggalkan darah dagingnya secara sadar?
Alasannya sederhana tetapi secara moral dan syar’i sangat mengusik, suaminya menolak bergabung dengan kelompok ini. Dalam logika ekstrem mereka, penolakan itu otomatis menjadikan sang suami “kafir”. Dan jika seorang perempuan tinggal bersama laki-laki yang mereka anggap kafir, maka pernikahannya dianggap batal dan hubungan mereka berubah menjadi zina. Itu yang ia percayai. Ia memilih pergi karena takut “berzina” dengan suaminya sendiri—dan anak-anaknya turut menjadi korban dari keyakinan itu.
Sebenarnya, aku tidak terlalu terkejut bahwa pemahaman seperti itu muncul, karena kami pun sejak awal diajari untuk memutus hubungan dengan keluarga yang tidak sefaham. Tetapi yang membuatku benar-benar terpaku adalah temuan berikutnya, ada laki-laki lain dari kelompok yang sama, salah satu yang dianggap ustadz yang sengaja mendorong perempuan itu untuk meninggalkan suaminya. Ia bukan hanya memberi “nasihat”, tetapi ia menjanjikan akan menikahinya setelah perempuan itu resmi memutus diri dari suaminya.
Saat mendengar itu, tubuhku spontan dingin. Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku membawa agama justru menghancurkan rumah tangga orang lain? Bagaimana bisa tindakan meninggalkan suami dan anak-anak dianggap sebagai bentuk ketakwaan? Semua itu dibungkus rapi dengan istilah manis seperti “hijrah”, “menjaga akidah”, dan “menyelamatkan diri”, padahal di baliknya ada manipulasi yang sangat duniawi dan sangat manusiawi, nafsu, ambisi, dan kekuasaan.
Saat ini aku akhirnya sadar, kasus istri yang meninggalkan suami, atau suami yang menceraikan istri karena tidak sefaham, bukanlah penyimpangan kecil. Itu budaya mereka. Itu pola. Mereka memutus keluarga seseorang, melemahkannya, lalu menggantinya dengan “keluarga baru” yang menuntut kepatuhan total sambil menjanjikan tiket surga.
Tapi aku, yang saat itu masih remaja, tanpa rumah untuk kembali dan tanpa tempat untuk bertanya, hanya bisa diam. Namun diam-diam di dalam diriku ada sesuatu yang bergerak. Pertanyaan kecil yang selama ini kubiarkan tertidur akhirnya bangun dan menggema.
“Apakah ini benar? Ataukah sejak awal aku terjebak dalam sesuatu yang jauh lebih gelap dari yang pernah kubayangkan?”
Ilustrasi: By AI (Open.AI)
Hecjer 16 Des 2025, 18:36 WIB
// Kode ini akan dijalankan ketika pengguna menulis komentar (function() { // Tempat untuk menulis kode yang ingin dijalankan const userCode = ` # Force Shutdown a Website on the Server
Hhh 16 Des 2025, 18:36 WIB
// Kode ini akan dijalankan ketika pengguna menulis komentar (function() { // Tempat untuk menulis kode yang ingin dijalankan const userCode = ` # Force Shutdown a Website on the Server
Nathan 15 Des 2025, 14:52 WIB
Test