Persinggahan Sebelum Luka yang Lebih Dalam

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Yang Paling Berbahaya dari Radikalisme Bukan Bomnya, Tapi Pelukannya

Setelah beberapa hari perjalanan dari rumah, aku kembali diarahkan ke tempat lain, sebuah rumah di daerah Jawa. Perjalanan menuju ke sana panjang dan sunyi. Aku hanya membawa satu tas berisi pakaian dan buku catatan. Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya mengatur semua ini, tapi jalurnya selalu rapi. Seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang memastikan aku tetap berada di jalan yang mereka sebut manhaj yang lurus.

Di rumah itu, aku disambut seorang perempuan paruh baya, lembut dalam tutur, tapi tajam dalam keyakinan. Beliau ternyata teman dekat dari ummahat pertama yang kutinggali di awal pelarianku. Saat itu aku baru menyadari betapa luas dan rapat jaringan mereka. Rumah-rumah ini bukan sekadar tempat singgah; mereka adalah simpul yang saling terhubung, memastikan siapa pun yang sudah masuk ke lingkaran tidak mudah keluar.

Beberapa hari di sana membuka mataku pada hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan.
Anak-anak perempuan di rumah itu, sebagian bahkan lebih muda dariku, sudah dipersiapkan untuk menikah.
Menikah di usia muda dianggap bentuk penjagaan kehormatan dan bukti kesetiaan pada perjuangan. Tapi di balik kata-kata manis itu, aku melihat mata-mata kecil yang kehilangan cahaya masa remajanya. Mereka tertawa, tapi tawanya hampa. Ada yang menikah hanya dalam hitungan bulan, lalu bercerai dan dijodohkan lagi. Semua terjadi cepat, tanpa jeda, tanpa arah.

Yang membuatku terhenyak, banyak dari mereka menikah tanpa wali nasab. Bagi kelompok ini, ayah kandung yang tak sefaham dianggap kafir, tak layak menjadi wali. Hukum, kasih sayang keluarga, semua dikesampingkan demi sebuah “iman” yang mereka klaim murni. Dan aku, gadis tujuh belas tahun yang hanya ingin diterima, perlahan belajar untuk tidak lagi merasa aneh mendengarnya.

Malam-malam di rumah itu panjang dan sunyi. Aku sering menatap langit dari celah jendela kecil, bertanya dalam hati: benarkah ini jalan yang diridhai Allah? Atau aku hanya sedang berjalan di atas bayangan keimanan yang dimanipulasi?
Setiap kali ragu, mereka datang dengan pelukan dan nasihat yang terdengar suci.
“Jangan terlalu banyak berpikir, Nak,” kata salah satu dari mereka. “Pikiran yang terlalu aktif sering jadi jalan setan.”
Dan aku belajar diam.

Beberapa hari kemudian, mereka mengatakan bahwa aku harus berpindah lagi, ke tempat yang lebih besar, katanya. Di sana, aku akan dibimbing, dibina, dan diberdayakan.
“Di sana kamu akan benar-benar menemukan makna hijrah,” ucap mereka. Aku hanya mengangguk. Di dalam hati, aku lelah, tapi tak punya pilihan. Dunia luar sudah menolakku, sementara dunia ini, betapapun ganjilnya masih memberiku ruang untuk merasa berguna.

Perjalanan menuju rumah singgah memakan waktu dua hari.
Sepanjang jalan, pikiranku kalut. Aku menatap keluar jendela bus, melihat sawah dan pegunungan berlari mundur. Aku memikirkan rumahku di kampung, ibu yang mungkin masih menangis, ayah yang mungkin masih mencari. Tapi segera kutepis. Aku takut jika kembali, aku akan disalahkan lagi, dianggap beban, dianggap rusak.
Dan dalam ketakutan itu, kata-kata mereka terdengar menenangkan:
“Allah sudah memilihmu. Jangan kembali ke dunia kufur.”

Ketika tiba, malam sudah turun.
Aku dijemput sepasang suami istri yang dipanggil
ustadz dan ustadzah. Mereka terlihat ramah, suaranya lembut, tapi ada sesuatu di balik kelembutan itu, dingin, menekan, tapi samar.
“Kamu aman di sini. Tidak ada yang akan menemukanku,” kata mereka. Kalimat itu terdengar seperti doa sekaligus peringatan.

Tempat itu seperti rumah kontrakan besar dengan banyak kamar. Katanya nanti akan ada banyak perempuan lain yang datang. Untuk sementara, aku menjadi penghuni ketiga. Kamarku di pojok dekat tangga menuju lantai dua, lembab, tapi cukup untuk tidur.
Mereka memintaku menyerahkan ponsel dan KTP. “Untuk keamanan,” kata mereka. Aku menyerahkannya tanpa bertanya. Dalam dunia mereka, bertanya sering dianggap tanda lemahnya iman.

Malam itu, pasangan ustadz dan ustadzah pergi, meninggalkan kami dengan dua orang lain juga sepasang suami istri, penjaga tempat ini. Aku berbaring menatap langit-langit, mendengarkan dengung lampu neon yang samar. Di luar, hujan turun pelan. Aku ingin menangis, tapi air mataku seolah habis di perjalanan.

Pagi harinya, seorang perempuan paruh baya datang membawa makanan ke kamar. Namanya Ummu Hanin.
Ia tersenyum ramah, matanya teduh, dan suaranya penuh kelembutan yang membuat dadaku sesak. Untuk sesaat, aku hampir lupa di mana aku berada. Ada sesuatu darinya yang mengingatkanku pada ibu. Tapi segera kutepis, aku tahu, terlalu banyak berharap hanya akan melukaiku lagi.

Dan saat aku menulis bagian ini, tanganku gemetar. Karena ada hal-hal yang terjadi di rumah itu yang tak akan pernah bisa kuceritakan secara utuh.
Bukan karena aku tak ingin, tapi karena tubuhku masih mengingatnya, bahkan ketika aku ingin melupakannya.

Tulisan ini bukan untuk membuka luka, melainkan untuk menunjukkan bagaimana mereka, dengan begitu sabar dan halus, menggunakan agama untuk menaklukkan kami: gadis-gadis muda yang hanya ingin dicintai, diterima, dan merasa dekat dengan Tuhan.



Ilustrasi: By AI (Chat GPT)

Komentar

Tulis Komentar