Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Aku Hanya Ingin Kembali, Tapi Dunia Menyambut dengan Curiga
Setelah kepulanganku yang pertama, aku berpikir semuanya akan pulih perlahan.
Aku membayangkan pelukan ibu, kehangatan rumah, dan kesempatan untuk memulai kembali hidup yang sempat tercerabut. Tapi yang menyambutku bukanlah pelukan, melainkan jarak yang dingin, tatapan curiga, dan bisik-bisik yang membuat udara terasa berat.
Teman-temanku menjauh.
Guru-guru yang dulu memujiku kini berbicara dengan nada hati-hati, seolah aku bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Tetangga-tetangga berbisik di balik pagar, dan keluarga besar memandangku dengan campuran iba dan malu.
Bahkan di rumah sendiri, aku merasa seperti tamu yang tidak diharapkan.
Mereka mencintaiku, aku tahu. Tapi cinta yang diselimuti ketakutan selalu terasa seperti penolakan yang tenang.
Aku mencoba bertahan.
Aku pindah sekolah, berharap semua akan lebih baik. Tapi stigma selalu berjalan lebih cepat dari langkah kaki.
Bisikan itu tetap ada: “Dia yang dulu ikut KELOMPOK TERORIS itu, kan?”
Setiap kali aku lewat, aku bisa merasakannya di udara.
Tak seorang pun tahu rasanya hidup sebagai seseorang yang berusaha berubah, tapi terus dipaksa mengingat masa lalunya.
Aku ingin melupakan segalanya. Tapi bagaimana mungkin, jika setiap tatapan orang mengingatkanku pada kesalahan yang bahkan belum sempat kupahami?
Dan pada akhirnya, aku mulai percaya pada narasi yang dulu berusaha kupatahkan.
Bahwa dunia ini memang tak akan pernah mau menerima orang seperti aku.
Bahwa hanya “mereka” kelompok yang dulu menyesatkanku, yang benar-benar mau mendengar tanpa menghakimi, menerima tanpa syarat.
Lihatlah betapa halus cara mereka menanamkan keyakinan: ketika dunia menolak, mereka datang sebagai rumah.
Dan rumah yang salah, jika kau terlalu lelah, tetap terasa seperti tempat berlindung.
Malam itu aku duduk di kamar, memandangi bayangan sendiri di cermin.
Ada luka yang tak bisa kujelaskan. Aku tidak marah pada siapa pun, tapi aku lelah menjadi orang yang selalu salah.
Lalu seperti sebuah gema masa lalu, pesan-pesan dari mereka kembali mengisi kepalaku.
“Kami tidak akan meninggalkanmu.”
“Di sini, kau tidak perlu menjelaskan masa lalumu.”
“Yang penting, tetap di jalan Allah.”
Kalimat-kalimat itu datang seperti pelukan yang menenangkan, padahal di baliknya ada tali yang siap menjerat lagi.
Maka aku pergi - lagi.
Kabur untuk yang kedua kalinya.
Tanpa air mata, tanpa pamit, tanpa rencana selain mengikuti suara yang mengajakku pulang ke tempat di mana aku merasa diterima.
Aku meninggalkan rumah, sekolah, dan masa depan yang baru saja mulai kubangun.
Aku pergi dengan tenang, mungkin terlalu tenang untuk seseorang yang sedang kehilangan segalanya.
Kali ini, kelompok itu sudah menungguku. Koordinasi mereka selalu rapi, seperti jaring laba-laba yang tak terlihat.
Ada yang menjemput, ada yang mengatur tempat singgah, ada yang berkata dengan lembut, “Kami sudah siapkan semuanya untukmu.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak sendirian.
Aku dibawa lebih jauh dari sebelumnya.
Ke tempat yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.
Sedikit yang tahu bahwa aku sempat bersinggungan dengan salah satu lingkaran yang lebih dalam bahkan salah satu tokoh yang dikenal sebagai “gembong teroris.”
Tapi waktu itu, aku tidak melihatnya sebagai penjahat. Aku melihatnya sebagai “guru”, seorang figur pemimpin yang mengajarkan kesabaran, perjuangan, dan pengorbanan.
Begitu rapinya cara mereka membungkus ide kekerasan dengan bahasa kasih sayang.
“Di sini kamu aman,” kata mereka waktu itu.
“Dunia di luar terlalu bising. Fokus saja di jalan Allah. Di sinilah keluargamu.”
Dan aku percaya.
Percaya karena ingin percaya. Karena ketika hidupmu penuh penolakan, bahkan kebohongan pun bisa terasa seperti tempat berteduh.
Tapi rasa aman itu hanya sementara.
Satu hari, aku diberitahu bahwa aku harus pindah lagi.
“Di tempat baru nanti kamu akan dibimbing lebih dalam,” kata mereka.
Tidak ada ruang untuk bertanya, karena di dunia itu, bertanya dianggap tanda lemahnya iman.
Aku pergi. Lagi.
Dan kali ini, langkahku menuju tempat yang kelak akan menjadi titik paling gelap dalam hidupku.
Sebuah rumah sederhana yang mereka sebut rumah singgah.
Katanya, tempat pembinaan dan penguatan iman.
Tapi bagiku… tempat itu menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupku.
Aku tidak tahu, saat melangkah ke sana, bahwa aku sedang berjalan menuju sesuatu yang akan meninggalkan luka seumur hidup.
Luka yang bukan hanya karena doktrin, tapi juga karena kemanusiaanku mulai dihapus perlahan, atas nama agama yang sebenarnya tak pernah mengajarkan itu.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, aku tahu:
Yang paling berbahaya dari radikalisme bukanlah ledakan bom atau seruan jihadnya.
Yang paling berbahaya adalah caranya membuat seseorang yang terluka merasa dicintai, lalu pelan-pelan mengubah cinta itu menjadi alat untuk menghancurkan dirinya sendiri.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar