Saya masih ingat tanggalnya dengan sangat jelas, 17 Agustus 2016. Hari di mana seluruh rakyat Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaan Indonesia ke 71, hari itu justru menjadi hari kehilangan kebebasan. Saya ditangkap oleh Densus 88 AT Polri karena keterlibatan dalam aksi terorisme. Di hari itu, saya ditangkap tanpa sempat berpamitan atau sekadar melihat wajah anak-anak. Saat itu, Saya memiliki tiga orang anak, dua di antaranya baru berusia tiga dan satu tahun. Mereka belum benar-benar mengenal saya sebagai ayah. Dan sejak saat itu, hidup pun jadi berubah total.
Saya masih ingat wajah mereka ketika saya dibawa pergi, bingung, takut, tak mengerti apa yang sedang terjadi. Saat itu saya hanya bisa berpikir, nanti juga mereka akan mengerti. Tapi kenyataannya, justru sayalah yang tidak mengerti apa yang akan saya hadapi.
Tahun Pertama, Sunyi, Gelap, dan Tanpa Wajah Anak-Anak
Saya menjalani tahun pertama masa tahanan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua - Depok. Dunia di balik jeruji itu dingin, sunyi, dan menelan waktu. Tidak ada kabar dari luar, tidak ada tawa anak-anak, tidak ada suara keluarga. Dalam banyak malam, saya hanya duduk di pojok sel, memandangi dinding kosong sambil bertanya-tanya, apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Apakah mereka sudah bisa bicara? Apakah mereka masih mengingat wajah ayahnya?
Setiap kali azan terdengar dari kejauhan, saya teringat kebiasaan lama—mengangkat anak pertama saya ke bahu, berjalan bersamanya menuju masjid. Kini, saat azan berkumandang, hanya gema azan itu yang tersisa, mengingatkan saya betapa jauh saya telah melangkah dari makna hidup yang sesungguhnya.
Bagi seorang tahanan, waktu tidak berjalan seperti di luar. Ia melambat, menusuk, dan menggandakan rasa bersalah. Dalam sepi itu, saya mulai bertanya pada diri sendiri—bukan lagi tentang ideologi, bukan tentang perjuangan, tetapi tentang apa artinya menjadi manusia, anak, suami dan tentu saja, menjadi ayah.
Pertemuan yang Canggung
Setelah satu tahun, saya dipindahkan ke Lapas kelas IIB Purwakarta. Kota kecil di Jawa Barat, yang saat itu masih dipimpin oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM). Di sinilah saya pertama kali bisa bertemu anak-anak saya lagi. Saya mengira pertemuan itu akan penuh air mata dan pelukan. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu dan menyesakkan. Anak-anak saya berdiri di depan saya dengan wajah bingung. Mereka memandangi saya seperti melihat orang asing.
Saya mencoba merangkul mereka, tapi mereka menolak dan menangis. Salah satu bersembunyi di balik ibunya. Saya terpaku. Dalam sekejap, saya sadar bahwa saya telah kehilangan sesuatu yang tak akan bisa dibeli dengan apa pun—kepercayaan dan kedekatan anak-anak saya sendiri.
Dan malam itu, setelah mereka pulang, saya menangis dalam diam. Bukan karena malu, tetapi karena menyadari betapa besar harga yang harus saya bayar atas kesalahan masa lalu saya. Saya tidak ada di sana saat mereka belajar berjalan, saat mereka mulai bicara, saat mereka mengenal dunia. Tahun-tahun emas mereka hilang begitu saja, digantikan ruang penjara dan rasa bersalah yang tak bertepi.
Cahaya di Sentul
Beberapa tahun kemudian, saya dipindahkan ke Lapas Kelas IIB Sentul, yang jadi Pusat Deradikalisasi (Pusderad) BNPT. Di sini, sesuatu yang berbeda terjadi. Saya bertemu para petugas dan pembina yang tidak sekadar melihat saya sebagai narapidana, tetapi sebagai manusia yang masih bisa berubah. Yang paling berkesan adalah ketika mereka membuka program family visit. Dalam program ini, keluarga diizinkan datang ke lapas bukan hanya untuk sekadar berjumpa, tetapi untuk berinteraksi, bercengkerama, dan merajut kembali relasi yang retak.
Saya masih ingat pertemuan pertama dalam kegiatan itu. Anak-anak saya datang dengan seragam rapi, membawa gambar yang mereka buat sendiri. Kami duduk berkumpul di dalam sel. Salah satu dari mereka menyerahkan gambar bertuliskan, “Abi, cepat pulang ya.”
Saat itu saya tahu, saya tidak boleh lagi tenggelam dalam rasa bersalah. Saya harus bangkit. Karena saya tidak lagi hidup hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk tiga anak kecil yang menunggu saya pulang—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara moral dan batin.
Belajar Ulang Arti Menjadi Ayah
Menjadi ayah bukan sekadar menyediakan kebutuhan anak, tetapi menjadi sumber rasa aman. Di penjara, saya belajar bahwa rasa aman itu lahir dari keteladanan, bukan dari kata-kata. Saya mungkin tidak bisa menemani mereka setiap hari, tetapi saya ingin mereka tahu bahwa ayahnya telah berubah—dari seseorang yang dulu terjebak dalam amarah dan kebencian, menjadi seseorang yang kini belajar mencintai dengan kesadaran.
Saya mulai menulis untuk mereka, bercerita tentang hal-hal kecil tentang pagi di lapas, tentang doa yang saya panjatkan, tentang harapan untuk bermain bersama suatu hari nanti. Kadang saya kirimkan lewat ibunya yang datang membesuk, kadang saya simpan di buku harian agar suatu saat nanti mereka bisa membacanya.
Dari balik jeruji, saya belajar bahwa cinta adalah bentuk deradikalisasi yang paling kuat. Cinta dari keluarga—yang tidak menolak, tidak mencaci, tapi juga tidak membenarkan kesalahan. Mereka hanya menunggu, sabar, dan memberi ruang bagi saya untuk kembali.
Keluarga: Benteng Terakhir
Saya sadar, tidak semua mantan pelaku memiliki keberuntungan yang sama seperti saya. Banyak yang keluarganya hancur, atau memilih menjauh karena stigma dan rasa malu. Tapi bagi saya, justru keluarga adalah benteng terakhir agar manusia tidak kehilangan dirinya sepenuhnya.
Keluarga membuat kita terus diingatkan pada sisi kemanusiaan yang paling dasar, kasih, tanggung jawab, dan empati. Dalam keluarga, kita belajar menahan ego, belajar mendengar, belajar menerima. Semua itu adalah fondasi dari ruang damai—sesuatu yang bahkan negara tidak bisa ajarkan tanpa kehadiran cinta di rumah.
Saya percaya, jika pendekatan deradikalisasi tidak hanya berbasis pada penegakan hukum, tetapi juga pada pemulihan relasi keluarga, maka jalan menuju perdamaian akan lebih kuat. Karena setiap ide ekstrem berakar pada keterputusan, keterputusan dengan realitas, dengan empati, dengan cinta. Dan keluarga adalah jembatan yang menyambungkannya kembali.
Dari Rasa Bersalah ke Tanggung Jawab
Ada masa-masa di mana saya masih dibayangi rasa bersalah. Tapi saya belajar bahwa rasa bersalah yang terus disimpan hanya akan menjadi beban. Saya memilih mengubahnya menjadi tanggung jawab—tanggung jawab untuk memperbaiki, walau perlahan. Saya ingin anak-anak saya tidak tumbuh dengan kebencian, tidak malu memiliki ayah seperti saya, tapi justru bisa melihat bagaimana manusia bisa berubah. Saya ingin menjadi contoh bahwa kesalahan masa lalu tidak harus menentukan masa depan, dan bahwa penyesalan bisa menjadi pintu menuju perbaikan diri.
Kini, setiap kali saya mendapat kesempatan bertemu mereka, saya berusaha tidak banyak bicara tentang masa lalu. Saya lebih banyak mendengar. Tentang sekolah mereka, tentang cita-cita mereka, tentang teman-teman mereka. Saya ingin tahu dunia mereka, agar mereka tahu dunia saya pun kini berubah.
Refleksi: Tentang Damai, Tentang Pulang
Bagi sebagian orang, damai adalah situasi tanpa konflik. Tapi bagi saya, damai adalah saat seseorang bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Saya pernah hidup dalam keyakinan bahwa kebenaran hanya milik kelompok saya. Tapi kini saya tahu, kebenaran sejati justru lahir dari kerendahan hati untuk mendengarkan orang lain.
Ketika saya melihat anak-anak saya tertawa dalam kegiatan family visit, saya sadar, di situlah damai berada. Bukan di seminar, bukan di mimbar, tapi di antara tawa keluarga yang saling memaafkan. Dari balik jeruji, saya belajar menjadi ayah bukan dengan tangan yang kuat, tapi dengan hati yang lembut. Saya belajar bahwa keberanian sejati bukan tentang melawan, tapi tentang mengakui kesalahan dan berani berubah.
Saya mungkin tidak bisa mengembalikan waktu, tapi saya bisa memastikan waktu yang tersisa tidak akan lagi sia-sia. Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti anak-anak saya akan benar-benar memahami apa yang saya lalui. Tapi jika kelak mereka membaca tulisan ini, saya hanya ingin mereka tahu satu hal:
“Abi sudah tidak sama lagi. Abi sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik—untuk kalian.”
Kini, ketika saya menulis ini, saya masih menjalani hidup dengan segala keterbatasan. Tapi saya sudah tidak lagi merasa terpenjara. Karena hati saya telah pulang. Pulang ke keluarga, pulang ke cinta, pulang ke kedamaian.
Dari balik jeruji, saya belajar arti menjadi ayah. Dan dari keluarga, saya belajar arti menjadi manusia.[]
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar