Di era serba digital, manusia menghadapi sebuah paradoks. Kita dapat terhubung dengan siapa saja, dan dari mana saja hanya melalui ponsel genggam. Namun, pada saat yang sama tidak sedikit orang, yang juga merasa kesepian. Percakapan berpindah ke layar gawai, pertemanan diukur dari jumlah followers sosial media, dan banyaknya interaksi yang dilakukan secara virtual.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting, ketika dunia digital menawarkan konektivitas tanpa batas, apakah kita masih membutuhkan ruang fisik untuk bertemu dan berinteraksi?
Jawabannya tampaknya adalah ya.
Sosiolog Amerika Ray Oldenburg dalam bukunya The Great Good Place memperkenalkan konsep third place atau ruang ketiga. Menurutnya, kehidupan manusia tidak hanya berlangsung di rumah sebagai first place dan tempat kerja atau sekolah sebagai second place. Manusia juga membutuhkan ruang ketiga, yaitu ruang netral tempat orang-orang dapat bertemu, bercakap-cakap, berbagi pengalaman, dan membangun rasa kebersamaan.
Di kota besar, ruang ketiga sering diwujudkan dalam bentuk kafe, taman kota, pusat komunitas, ruang diskusi atau ruang kreatif. Namun, ruang ketiga tidak selalu hadir di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Di sebuah dusun di bagian barat Kabupaten Sleman, Daerag Istimewa Yogyakarta, konsep ruang ketiga tumbuh dari akar komunitas desa, melalui Yayasan Literasi Desa Tumbuh, dan Omah Tumbuh Betakan.
Ketika Desa Membutuhkan Ruang untuk Bertumbuh
Dusun Betakan mungkin bukan nama yang akrab bagi banyak orang. Letaknya berada di wilayah Moyudan, jauh dari keramaian pusat kota Yogyakarta. Namun dari tempat yang sederhana inilah lahir sebuah gerakan yang menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca buku, melainkan tentang membangun hubungan antarmanusia.
Yayasan Literasi Desa Tumbuh berawal dari kepedulian terhadap minimnya akses anak-anak desa terhadap bahan bacaan berkualitas. Gagasan awalnya sederhana, yaitu menghadirkan ruang baca bagi anak-anak. Namun seiring waktu, gagasan tersebut berkembang menjadi sebuah gerakan sosial yang lebih luas.
LDT memiliki misi meningkatkan akses literasi dan seni bagi anak-anak pedesaan melalui lingkungan belajar yang menyenangkan, inklusif, dan kreatif. Prinsip yang mereka pegang dikenal dengan semangat 5M: Menyenangkan, Memerdekakan, Menghargai, Memanusiakan, dan Migunani.
Yang menarik, LDT tidak berhenti pada aktivitas membaca buku. Di sana terdapat ruang seni, kegiatan membaca nyaring, diskusi, pelatihan keterampilan, hingga berbagai aktivitas yang melibatkan anak-anak, orang tua, dan masyarakat desa secara luas.
Dengan kata lain, LDT telah berkembang menjadi ruang ketiga yang hidup.
Ruang Ketiga Bukan Sekadar Tempat
Sebuah ruang dapat disebut ruang ketiga ketika mampu menghadirkan rasa nyaman, keterbukaan, kesetaraan, dan kesempatan bagi siapa saja untuk terlibat dalam percakapan maupun aktivitas bersama. Di ruang seperti itu, status sosial menjadi kurang penting dibandingkan hubungan antarmanusia.
Karakteristik tersebut tampak jelas dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan di Omah Tumbuh Betakan. Anak-anak datang untuk membaca dan bermain. Orang tua terlibat dalam kegiatan pemberdayaan. Pengunjung dapat berdiskusi, berbagi pengalaman, serta belajar bersama. Bahkan berbagai kalangan dari luar desa, hingga luar negeri turut hadir untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup.
Di sinilah ruang ketiga menunjukkan fungsinya yang sesungguhnya: menjadi jembatan antara individu dan komunitas.
Omah Tumbuh Betakan: Rumah yang Menjadi Ruang Bersama
Omah Tumbuh Betakan bukan sekadar homestay. Ia berkembang menjadi ruang perjumpaan. Di tempat ini, warga lokal, relawan, akademisi, seniman, mahasiswa, hingga tamu dari luar negeri dapat bertemu dalam suasana yang cair dan setara.
Dalam banyak kesempatan, kegiatan di Betakan memperlihatkan bagaimana sebuah desa dapat menjadi pusat pertukaran pengetahuan dan budaya. Orang datang bukan hanya untuk menikmati suasana desa, tetapi juga untuk belajar, berdiskusi, dan membangun hubungan baru.
Di tengah kecenderungan masyarakat modern yang semakin individualistik, ruang seperti ini menjadi sangat berharga.
Menjaga Kemanusiaan di Era Digital
Teknologi akan terus berkembang. Kecerdasan buatan akan semakin canggih. Media sosial akan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun satu hal yang tidak berubah adalah kebutuhan manusia untuk merasa terhubung dengan manusia lain.
Kita mungkin dapat menemukan informasi melalui internet. Namun rasa memiliki, empati, kepercayaan, dan kebersamaan hanya dapat tumbuh melalui hubungan sosial yang nyata.
Karena itu, ruang ketiga bukanlah peninggalan masa lalu yang akan ditinggalkan oleh teknologi. Sebaliknya, keberadaannya justru semakin penting di era digital.
Yayasan Literasi Desa Tumbuh dan Omah Tumbuh Betakan menunjukkan bahwa ruang ketiga masih memiliki tempat dalam kehidupan modern. Di sebuah dusun kecil di barat Sleman, masyarakat membuktikan bahwa literasi, seni, percakapan, dan kebersamaan dapat menjadi fondasi bagi komunitas yang sehat dan tangguh.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan jaringan internet yang kuat. Kita juga membutuhkan jaringan sosial yang kuat. Dan sering kali, jaringan itu tumbuh bukan dari layar gawai, melainkan dari pertemuan sederhana di ruang-ruang yang memungkinkan kita belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama.
*Foto: Anak-anak sedang bermain di pelataran Omah Tumbuh Betakan.[Yayasan LDT]
Komentar