Sarapan Terakhir dari Tangan Ibu

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Hijrah, Kepergian, dan Kehilangan yang Tak Pernah Kurencanakan

Pagi itu, aku berdiri di depan ibu dengan hati yang bergetar. Aku bilang padanya aku ada acara sekolah. Kalimat sederhana yang keluar dari mulutku, tapi terasa seperti kebohongan paling berat yang pernah kuucapkan. Ibu tersenyum, seperti biasa, menyiapkan sarapan. Tangannya bergerak lincah menyodorkan piring, wajahnya penuh kehangatan.

Aku duduk sejenak, mencoba menelan makanan yang terasa berbeda pagi itu. Entah kenapa, aku seperti tahu ini akan menjadi hidangan terakhir yang sempat kucicipi dari tangan seorang ibu. Aku menatap wajahnya, merekam setiap garis, setiap tatapan penuh kasih sayang itu, tapi segera kupalingkan pandanganku agar tidak ketahuan bahwa hatiku sedang gamang.

Tas yang kupanggul tidak hanya berisi buku. Ada beberapa lembar pakaian, juga almamater sekolah yang entah kenapa ikut kubawa. Simbol kecil yang masih menempel, meski sebentar lagi akan kulepas. Mungkin, tanpa kusadari, ada bagian kecil dari diriku yang masih ingin tetap jadi anak sekolah biasa. Tapi suara-suara dari grup itu lebih nyaring, lebih meyakinkan daripada suara batinku sendiri.

Aku keluar dengan motor, menahan napas, berusaha setenang mungkin. Motor itu akhirnya kutitipkan di rumah seorang teman dengan alasan seadanya. Dari sana, langkahku menuju terminal terasa seperti melangkah ke dunia lain. Aku hanya berusia 17 tahun, kelas 2 SMA, seharusnya sibuk memikirkan ujian atau bercanda di kantin. Tapi pagi itu, aku memilih meninggalkan semua itu.

Bus melaju, membawa tubuhku semakin jauh dari rumah. Ponselku bergetar tanpa henti, telepon dari keluarga, pesan dari teman, juga instruksi dari orang-orang yang menyebut diri mereka “saudara”. Aku tidak berani menjawab telepon dari rumah. Aku tahu, sekali saja kudengar suara ibuku, mungkin semua keberanian semu ini runtuh.

Sebaliknya, aku lebih memilih mendengar suara lain: “Tenang, saudariku. Allah menjaga langkahmu.” “Kau dipilih, tidak semua orang sekuat dirimu.”“Jangan ragu. Saudaramu sudah menunggu di tiap daerah.”

Koordinasi mereka rapi. Setiap kali bus berhenti di sebuah kota, ada saja nomor baru yang menghubungi, seolah-olah jaringan tak terlihat ini sudah menebarkan jaring sejak lama. Ada yang sekadar menanyakan posisiku, ada yang menuntunku lewat pesan singkat, bahkan ada yang mentransfer uang agar aku tidak kekurangan bekal.

Itu pola yang kini kusadari sangat halus: mereka tidak membuatku merasa lari seorang diri. Mereka membuatku percaya aku sedang dijaga, dipantau dengan kasih, disokong oleh “keluarga” baru yang lebih mengerti aku dibandingkan keluargaku sendiri.

Di sela perjalanan, aku mengganti nomor ponsel. Semua akun media sosial kututup satu per satu. Rasanya seperti menutup pintu, jendela, bahkan celah-celah kecil yang mungkin bisa menjadi jalan keluargaku menemukan aku kembali. Aku ingin hilang, benar-benar hilang, agar mereka tidak bisa menarikku pulang.

Mereka menanamkan satu prinsip yang terus bergaung: “Saudara karena iman ikatannya lebih kuat daripada saudara karena darah.” “Keluargamu yang sejati ada di sini, bersama para pejuang.”

Kalimat itu menjadi mantra yang menenangkan sekaligus menyesakkan. Aku mencoba percaya, tapi jauh di lubuk hati aku tahu, aku sedang meninggalkan ayah dan ibu yang hanya punya dua anak, dan aku satu-satunya anak perempuan mereka. Aku tidak memikirkan bagaimana hancurnya hati mereka ketika tahu aku hilang. Aku terlalu sibuk membungkam nurani dengan keyakinan palsu bahwa langkahku ini adalah “jihad”.

Aku masih ingat detik ketika bus meninggalkan kota. Dari balik jendela, jalanan bergulir cepat, semakin menjauhkan aku dari rumah yang membesarkanku. Aku ingin menangis, tapi segera kuingatkan diriku pada pesan yang terus mereka ulang:

Setan akan membuatmu rindu rumah. Lawan itu. Ingat, surga tidak dibayar dengan kenyamanan.”

Maka aku menguatkan diri, menahan air mata, dan menempelkan wajah ke kaca bus.

Malam hari, ketika bus berhenti di kota lain, ada panggilan masuk dari nomor baru. Suara di ujung sana terdengar lembut, penuh kasih: “Kau luar biasa. Perjalananmu berat, tapi jangan takut. Saudara-saudaramu sudah menunggu. Kau tidak sendirian.”

Kata-kata itu membuatku merasa hangat, diterima, seperti benar-benar menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan mulia. Tapi bersamaan dengan itu, bayangan wajah ibuku kembali muncul. Senyumnya, tatapannya, bahkan makanan terakhir yang disiapkannya pagi itu. Semuanya menusuk, tapi segera kutepis lagi dengan keyakinan: ini jalan Allah, ini jalanku ke surga.

***

Kini, saat menulis ini, aku sadar betapa licinnya pola perekrutan itu. Mereka tidak datang dengan kebencian di awal. Mereka datang dengan cinta, perhatian, dan janji surga. Mereka hadir di saat aku masih muda, penuh idealisme, dan haus penerimaan. Sedikit demi sedikit, mereka membuatku percaya bahwa meninggalkan keluarga adalah kehormatan, bukan kehancuran.

Itulah hari ketika seorang gadis kecil berusia 17 tahun melangkah ke jalan asing, meyakini dirinya menuju cahaya, padahal sejatinya ia sedang dipandu perlahan ke dalam kegelapan.

Dan pagi itu, pagi yang kuingat dengan jelas adalah hari aku benar-benar meninggalkan segalanya.



Ilustrasi: By AI (Gemini)

Komentar

Tulis Komentar