Hijrah, Kepergian, dan Kehilangan yang Tak Pernah Kurencanakan

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Di Ambang Hijrah, Di Ujung Diri



Di meja belajarku malam itu ada sebuah amplop cokelat. Dari luar ia terlihat biasa saja, tapi bagiku terasa begitu berat. Bukan karena tebalnya lembaran uang di dalamnya, melainkan karena harapan yang orangtuaku titipkan. Itu uang hasil upah dan pengorbanan. Mereka menabung sedikit demi sedikit agar aku bisa ikut study tour, agar aku—anak yang sejak SD sampai SMP selalu juara umum—bisa merasakan dunia lebih luas sebelum benar-benar menapaki masa depan.

Namun, di saat amplop itu tersimpan di laci, layar ponselku menyampaikan pesan berbeda. Grup tempat aku bergabung tidak pernah langsung memaksa. Mereka hanya menanamkan keraguan, sehalus bisikan yang masuk tanpa terasa. Pertanyaan sederhana seperti “Orangtuamu ikut pemilu, kan?” tiba-tiba berubah jadi tuduhan: ikut pemilu berarti mendukung sistem kufur. Kata-kata itu terus diulang, perlahan meruntuhkan cara pandangku pada hal-hal yang dulu terasa biasa saja.

Pesan-pesan itu tak berhenti. Mereka mengemasnya dengan kalimat manis: cinta kepada Allah harus diutamakan, simbol negara hanyalah berhala modern, upacara bendera adalah bentuk tunduk pada selain Tuhan. Kata-kata itu terus mengalir, berulang-ulang, sampai akhirnya aku mulai merasa gelisah setiap kali berdiri di lapangan upacara. Bukan karena rasa cinta tanah air yang hilang, tapi karena suara-suara di layar ponselku menuding tindakanku sebagai dosa.

Lama-kelamaan, pemikiran itu tak lagi sekadar wacana. Mereka mulai mengaitkan pilihan hidup dengan ujian iman. Tinggal bersama orangtua yang “tidak sepaham” dianggap bisa mengikis iman. Solusinya, kata mereka, adalah hijrah. Pergi, meninggalkan kenyamanan, membuktikan ketaatan. Kata “hijrah” itu dibungkus begitu indah, seakan-akan menjadi tiket menuju surga. Dan aku, remaja 17 tahun yang haus makna, merasa seolah menemukan jawaban dari segala kebingungan.

Aku masih ingat betapa gemetarnya tanganku saat membuka amplop cokelat itu. Satu per satu lembaran uang kuhitung, bukan lagi dengan perasaan gembira, melainkan dengan rasa asing yang menyelusup: uang itu kini bukan lagi tiket menuju pengalaman belajar, melainkan bekal untuk kepergian. Kepergian yang kusebut hijrah, padahal sejatinya adalah kehilangan besar.

Di usia ketika teman-teman sibuk memilih jurusan kuliah, bercita-cita tentang kampus, atau merancang masa depan, aku justru memilih pergi. Pergi tanpa izin, tanpa kata pamit, hanya dengan keyakinan bahwa langkahku adalah bentuk ketaatan. Kata “hijrah” menyelimutiku seperti jubah suci. Semua keraguan terasa kecil dibanding kebanggaan sesaat karena merasa dipilih untuk sesuatu yang “lebih tinggi”.

Mungkin kalian akan bertanya-tanya, “Kenapa bisa sebodoh itu? Kenapa rela meninggalkan keluarga hanya karena kata-kata di ponsel?” Pertanyaan itu wajar, dan aku tak menolaknya. Namun, aku ingin kalian tahu, cara mereka bekerja begitu halus. Mereka membangun penerimaan, menaburkan pujian, membuatku merasa istimewa. Mereka menjadikan pengakuan sebagai candu. Dan ketika sudah cukup dalam, mereka menukar semua itu dengan kewajiban: meninggalkan rumah, meninggalkan orang-orang terkasih.

Yang tak pernah kusiapkan adalah kenyataan pahit setelah pintu rumah tertutup di belakangku. Aku lupa bahwa aku adalah anak perempuan satu-satunya. Aku lupa ada ibu yang setiap sore menaruh piring bersih di meja makan untukku. Aku lupa ada ayah yang pulang dengan tangan lecet, berharap anaknya kelak hidup lebih baik. Aku lupa ada adik kecil yang sering menempelkan gambar buatanku di bukunya, bangga dengan kakaknya. Semua itu lenyap dalam kabut keyakinan baru yang kubawa pergi.

Baru setelah jauh, ketika malam sunyi menyergap, aku mulai merasakan hantaman rindu. Ingatan kecil-kecil kembali: kopi buatan ibu yang kadang terlalu manis, ajakan ayah untuk memancing meski aku sering menolak, tawa adik yang sederhana tapi tulus. Semua itu berubah jadi rasa kehilangan yang menyesakkan.

Dan aku sadar, bukan hanya aku yang kehilangan. Orangtuaku pun kehilangan. Mereka kehilangan anak yang dulu jadi kebanggaan. Mereka kehilangan masa depan yang mereka rawat dengan tabungan kecil. Mereka kehilangan harapan sederhana: melihat anak perempuannya kuliah, bekerja, lalu membangun hidup sendiri. Semua itu runtuh tanpa sempat mereka pahami.

Kini, ketika aku menuliskan ini, aku tidak sedang meminta belas kasihan. Aku hanya ingin kalian melihat lebih dalam. Kisah seperti ini sering dianggap sekadar kesalahan individu: anak muda yang bodoh, salah pergaulan, mudah terbujuk. Padahal, di baliknya ada sistem yang rapi. Ada rangkaian percakapan yang dirancang untuk menyusup pelan. Ada pujian yang ditabur untuk menumbuhkan ketergantungan. Ada rasa bersalah yang sengaja dipupuk agar kita patuh.

Kalau kalian ingin menghakimi, silakan. Tapi sebelum itu, coba tanyakan juga: siapa yang merancang bahasa itu? Siapa yang menukar cinta keluarga dengan label pengkhianatan? Karena di balik setiap keputusan yang tampak nekat, ada kerinduan akan makna yang dipermainkan.

Aku hanyalah seorang gadis yang terlalu muda untuk membaca permainan itu sampai tuntas.

Titik balik bukan hanya soal keberanian meninggalkan, tapi juga keberanian untuk pulang. Pulang ke diri sendiri, pulang ke keluarga, pulang ke akal sehat yang dulu sempat dibius kata-kata manis. Karena pada akhirnya, hijrah sejati bukan sekadar pergi menjauh, melainkan berani menghadapi kenyataan—bahwa cinta, iman, dan harapan tidak pernah harus saling mengkhianati.



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar