Iqra' bismi rabbika alladzi khalaq..."—"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq)
Jika ada satu ayat yang terus terngiang dalam kepalaku ketika memutuskan kembali ke bangku kuliah, mungkin itulah ayatnya.
Perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah tentang perang, bukan tentang kekuasaan, bahkan bukan tentang hukum. Perintah pertama adalah membaca, belajar, dan mencari ilmu.
Semakin aku memahami agamaku hari ini, semakin aku yakin bahwa belajar bukanlah aktivitas yang berhenti ketika seseorang lulus sekolah. Belajar adalah perjalanan seumur hidup. Dan mungkin, bagiku, perjalanan itu justru benar-benar dimulai setelah aku keluar dari penjara.
***
Sejak bebas, ada satu kata yang hampir selalu mendahului namaku. Mantan narapidana terorisme.
Aku tidak pernah marah ketika orang menyebutnya. Itu adalah bagian dari sejarah hidupku. Aku memang pernah melakukan kesalahan, aku juga pernah menjalani hukuman, dan aku tidak ingin menghapus masa lalu itu, karena justru dari sanalah aku belajar banyak hal. Tetapi, dalam hati, aku selalu bertanya.
Apakah aku harus hidup selamanya sebagai “mantan”?
Hampir setiap kali aku diundang untuk menjadi narasumber dalam seminar, lokakarya, atau kegiatan pencegahan ekstremisme, moderator memperkenalkanku dengan kalimat yang hampir sama.
"Hadir bersama kita, seorang mantan narapidana terorisme..."
Aku memahami mengapa mereka melakukannya. Pengalaman hidupku memang menjadi alasan aku diundang. Tetapi lama-kelamaan aku menyadari sesuatu.
Jika aku berhenti belajar, mungkin itulah satu-satunya identitas yang akan terus melekat padaku.
Aku tidak menginginkan itu. Bukan karena aku malu mengakui masa laluku. Tetapi karena aku percaya bahwa manusia tidak seharusnya berhenti pada kesalahannya.
***
Ada alasan lain yang sangat pribadi. Bagiku, status sebagai mantan narapidana terorisme bukanlah kebanggaan. Itu adalah pengingat bahwa aku pernah mengambil jalan yang salah. Dan aku tidak ingin status itu menjadi warisan bagi anak-anakku. Mereka tidak pernah memilih masa lalu ayahnya. Mereka tidak pernah ikut melakukan kesalahan yang pernah kulakukan. Lalu mengapa mereka harus ikut memikul stigma yang sama?
Aku membayangkan suatu hari nanti anak-anakku tumbuh dewasa. Aku ingin mereka dikenal karena kemampuan, akhlak, dan prestasinya. Bukan karena orang berkata, "Oh, itu anak mantan napiter."
Karena itulah, memperbaiki diriku bukan lagi sekadar urusan pribadi. Ini adalah tanggung jawab sebagai seorang ayah.
***
Aku juga menyadari bahwa dunia telah berubah. Sebelum ditangkap, aku hanyalah seorang karyawan. Aku terbiasa bekerja di dalam sistem yang sudah dibangun orang lain. Aku bukan seorang pengusaha. Aku tidak pernah belajar membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, membaca peluang bisnis, atau mengelola perubahan.
Sementara setelah bebas, aku tidak bisa terus bergantung pada belas kasihan atau kesempatan yang diberikan orang lain. Aku harus mampu menciptakan kesempatan itu sendiri. Aku harus meningkatkan kapasitasku. Aku harus meng-upgrade diriku.
Dan menurutku, jalan terbaik untuk melakukan itu adalah kembali belajar. Kuliah memberiku ruang untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Aku belajar kembali tentang komunikasi, politik, masyarakat, penelitian, dan banyak hal yang dahulu mungkin tidak pernah kupahami secara utuh.
Semakin banyak aku belajar, semakin aku sadar betapa sedikit sebenarnya yang kuketahui.
***
Ada alasan lain yang tidak kalah penting. Beberapa tahun terakhir aku cukup sering berbicara dalam seminar, pelatihan, maupun forum diskusi tentang pencegahan ekstremisme. Aku bersyukur karena pengalamanku dianggap bermanfaat. Namun dalam hati aku sering berkata kepada diriku sendiri. Pengalaman saja tidak cukup.
Aku tidak ingin selamanya hanya dikenal sebagai orang yang menceritakan masa lalunya.
Aku ingin suatu hari nanti mampu berbicara bukan hanya berdasarkan pengalaman, tetapi juga berdasarkan ilmu pengetahuan. Aku ingin mampu berdiskusi dengan akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dengan bekal yang memadai. Aku ingin ketika orang mengundangku, mereka berkata,
"Mari kita dengarkan pandangan seorang praktisi..."
atau,
"Beliau adalah peneliti..."
atau,
"Beliau adalah akademisi..."
Bukan semata-mata,
"Beliau adalah mantan narapidana terorisme."
Bagiku, itu bukan soal gengsi. Itu adalah tentang identitas.Tentang siapa diriku setelah bertahun-tahun berusaha memperbaiki hidup.
***
Perjalanan itu tentu tidak mudah.
Sampai hari ini pun aku masih berjuang menyelesaikan kuliah. Ada hari-hari ketika aku harus bekerja sejak pagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ada tagihan yang harus dibayar. Ada kebutuhan anak-anak yang harus dipenuhi. Ada ekonomi keluarga yang terus kuupayakan agar menjadi lebih baik.
Di sela-sela semua itu, masih ada jurnal yang harus kubaca, tugas yang harus kukerjakan, presentasi yang harus kusiapkan, dan penelitian yang harus kuselesaikan. Jujur, aku sering merasa terengah-engah.
Ada saat-saat ketika tubuh sudah lelah, tetapi pikiranku masih harus bertahan hingga larut malam untuk menyelesaikan tugas kuliah. Kadang muncul pertanyaan dalam hati, mengapa aku memilih jalan yang sesulit ini?
Namun setiap kali pertanyaan itu datang, aku selalu kembali mengingat alasan mengapa aku memulainya. Aku tidak sedang mengejar gelar. Aku sedang membangun masa depan. Aku sedang memperbaiki hidup. Aku sedang berusaha memastikan bahwa anak-anakku kelak mewarisi harapan, bukan stigma.
Karena itu, aku tidak boleh berhenti di tengah jalan. Kuliah ini harus selesai.
***
Aku sadar, mungkin label "mantan narapidana terorisme" tidak akan pernah benar-benar hilang. Sebagian orang akan tetap mengingat masa laluku. Dan itu adalah hak mereka. Tetapi aku juga percaya bahwa manusia memiliki hak yang sama untuk belajar, bertumbuh, dan membangun identitas baru.
Aku berharap suatu hari nanti, ketika orang menyebut namaku, yang pertama mereka ingat bukan lagi masa laluku. Mungkin mereka akan mengenalku sebagai seorang peneliti, sebagai praktisi, sebagai akademisi, sebagai pengusaha, sebagai aktivis yang bekerja untuk perdamaian. Atau mungkin cukup sebagai seseorang yang berusaha memberi manfaat bagi orang lain.
Jika hari itu benar-benar datang, aku akan sangat bersyukur. Bukan karena dunia akhirnya melupakan masa laluku. Melainkan karena aku berhasil membuktikan bahwa masa lalu tidak harus menjadi identitas yang kita bawa seumur hidup. Ia bisa menjadi pelajaran, ia bisa menjadi pengingat, tetapi ia tidak harus menjadi tujuan akhir.
Karena pada akhirnya, aku tidak sedang mengejar gelar. Aku sedang belajar agar suatu hari nanti, orang-orang tidak lagi mengenalku karena kesalahan yang pernah kulakukan, melainkan karena ilmu, karya, dan manfaat yang bisa kuberikan. Dan bagiku, itulah makna sebenarnya dari kembali menjadi seorang mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi – Universitas Paramadina.[]
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar