Di Atas Motor, Aku Belajar Memilih

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Ada masa ketika hidup terasa seperti tidak memberi banyak pilihan. Setelah bebas dari penjara, aku harus memulai kembali kehidupan dari titik yang tidak mudah. Ada keluarga yang harus dinafkahi, ada hutang dan cicilan yang harus dibayar, dan masa depan yang harus dipikirkan. Di saat yang sama, aku masih harus menyelesaikan kuliah magisterku. Aku membutuhkan penghasilan, tetapi juga membutuhkan waktu untuk belajar.

Di tengah keadaan itu, aku memilih menjadi pengemudi ojek online. Awalnya sederhana, aku hanya ingin bertahan hidup. Sebab kebebasan setelah keluar dari penjara bukan berarti semua persoalan selesai, ada kehidupan yang harus dibangun kembali dan masa depan yang harus diperjuangkan.

Hari-hari pertama terasa berat. Panas, kemacetan, menunggu pesanan, mencari alamat, menjadi bagian dari keseharianku. Pesanan yang kuantar pun beragam, dari makanan cepat saji, sembako, berbagai barang kebutuhan rumah tangga, lemari plastik, pasir kucing, sampai sepeda anak.

Awalnya semua itu hanya kulihat sebagai order. Namun lama-kelamaan aku menyadari, di balik setiap pesanan ada kehidupan orang lain. Ada keluarga yang menunggu kebutuhan rumah tangga, orang tua yang membelikan sesuatu untuk anaknya, atau seseorang yang sedang membutuhkan makanan. Dari satu alamat ke alamat lainnya, aku bertemu dengan banyak karakter manusia — ada yang ramah, ada yang pendiam, dan ada pula yang terkadang membuatku kesal karena persoalan alamat atau komunikasi. Tetapi justru di situlah aku belajar mengendalikan diri. Tidak semua persoalan harus dihadapi dengan emosi.

Salah satu pengalaman yang paling kuingat terjadi ketika suatu hari aku mendapat pesanan mengantarkan sebuah ban motor listrik ke wilayah Bekasi. Di aplikasi tercantum nama pemesan dan sebuah alamat tujuan. Ternyata alamat tersebut adalah sebuah panti pijat tunanetra. Aku tidak menaruh curiga; dalam pikiranku, mungkin yang memesan adalah keluarga atau kerabat dari salah satu penghuni panti tersebut. Aku hanya menjalankan tugas sesuai informasi yang diberikan aplikasi.

Ketika tiba di lokasi, ternyata persoalannya berbeda. Aku justru mendapat cacian dan kemarahan dari orang yang berada di alamat tersebut. Barulah aku mengetahui bahwa panti itu hanya dijadikan titik patokan oleh pemesan. Pemesan sebenarnya adalah tetangga di sekitar lokasi, tetapi ia menggunakan alamat tersebut tanpa izin atau konfirmasi terlebih dahulu. Aku hanya menjadi orang yang berada di tengah persoalan.

Setelah pesanan selesai, aku kembali mengendarai motor. Namun sepanjang perjalanan, kejadian itu terus kupikirkan. Aku mencoba memahami kemarahan pemilik panti — sangat wajar jika ia merasa dimanfaatkan, tempatnya digunakan tanpa izin, lalu ia pula yang harus menerima akibatnya. Dari kejadian sederhana itu, pikiranku melompat ke masa lalu. Aku teringat ketika dahulu berada dalam lingkungan yang salah dan melihat bagaimana orang-orang dengan pemahaman agama yang terbatas dapat dipengaruhi dan dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok ekstremis.

Anak-anak muda yang sedang mencari identitas, orang-orang yang sedang memiliki persoalan, atau mereka yang memiliki keterbatasan dalam memahami persoalan keagamaan dapat diarahkan untuk mengikuti kepentingan kelompok. Dulu, semua itu dibungkus dengan bahasa agama, perjuangan, dan pengorbanan. Tetapi setelah keluar dari lingkungan tersebut, aku bisa melihatnya dengan lebih jernih. Betapa mudahnya manusia dimanfaatkan ketika berada dalam kondisi rentan, dan betapa teganya ketika kelemahan seseorang dijadikan alat untuk mencapai kepentingan.

Pengalaman sebagai ojol membuatku kembali melihat masa lalu dari sudut yang berbeda. Aku semakin memahami bahwa manusia bukan alat. Setiap orang memiliki kehidupan, keluarga, perasaan, dan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Aku bersyukur sudah keluar dari sana. Bukan berarti semua persoalan hidup selesai, tetapi setidaknya sekarang aku memiliki kesempatan untuk melihat masa lalu dengan lebih jernih dan belajar darinya. Karena itu, seberat apa pun menjadi ojol, aku harus menjalaninya. Panas boleh membuat lelah, hujan boleh membuat perjalanan tidak nyaman, order boleh sepi dan penghasilan mungkin belum sesuai harapan — tetapi semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk kembali mencari jalan pintas.

Aku lebih memilih lelah karena bekerja daripada kembali ke kehidupan yang pernah membawaku menjadi narapidana terorisme. Aku sudah pernah kehilangan kebebasan, aku sudah pernah berada di balik jeruji, dan aku tahu bagaimana sebuah keputusan yang salah tidak hanya menghancurkan diri sendiri, tetapi juga melukai keluarga. Maka ketika tubuh terasa lelah setelah seharian di jalan, aku mengingat satu hal: kelelahan karena mencari nafkah adalah bagian dari kehidupan, tetapi kehilangan kebebasan karena kembali memilih jalan yang salah adalah sesuatu yang tidak ingin kuulang.

Justru karena banyak berada di jalan, aku mendapatkan ruang untuk berbicara dengan diriku sendiri. Di atas motor, di antara kemacetan dan perjalanan dari satu alamat ke alamat lain, pikiranku sering berkelana — memikirkan keluarga, kuliah, kebutuhan hidup, dan masa depan. Perjalanan itu juga berubah menjadi ruang muhasabah. Aku bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh apa aku berubah? Apa yang masih harus kuperbaiki? Apakah aku benar-benar sudah belajar dari masa lalu?

Aku menyadari bahwa berubah bukan hanya tentang keluar dari penjara. Berubah adalah keputusan yang harus diambil setiap hari. Ketika kecewa, aku harus memilih tetap tenang. Ketika hidup terasa sulit, aku harus mencari jalan keluar yang benar. Dan ketika masa lalu kembali mengingatkan, aku harus menjadikannya pelajaran, bukan alasan untuk kembali.

Di antara para pengemudi ojol, aku juga menemukan banyak orang yang sedang berjuang dengan kehidupannya masing-masing. Kami berbeda latar belakang, tetapi sama-sama berada di jalan untuk mencari penghidupan. Aku berterima kasih kepada rekan-rekan sesama ojol yang mengetahui latar belakangku tetapi tetap mau menerimaku sebagai teman dan sesama pekerja. Penerimaan itu sangat berarti bagiku.

Aku tidak ingin selamanya dikenal hanya karena kesalahan yang pernah kulakukan. Aku ingin dikenal karena apa yang sedang kuusahakan hari ini. Mungkin jalannya masih panjang, tetapi aku tidak keberatan berjalan perlahan selama arahnya benar, sebab aku sudah pernah mengetahui ke mana jalan yang salah membawaku.

Kini aku memilih jalan yang berbeda: bekerja, belajar, bertanggung jawab, dan memperbaiki diri. Setiap kilometer yang kutempuh dengan motor ini menjadi pengingat bahwa aku masih diberi kesempatan — kesempatan untuk bekerja, untuk belajar, untuk bersama keluarga, dan untuk memperbaiki kesalahan.

Aku mungkin belum tahu kapan kehidupanku akan menjadi seperti yang kuharapkan. Tetapi selama masih ada tenaga untuk bekerja, kemauan untuk berubah, dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan, aku akan terus berjalan. Sebab menjadi ojol bagiku bukan sekadar mencari nafkah — ini juga perjalanan untuk belajar mengenal manusia, melatih kesabaran, memahami masa lalu, dan memilih masa depan.

Hari ini aku masih berada di jalan. Mungkin lelah, mungkin panas, mungkin belum cukup, tetapi aku masih bebas. Aku masih bisa pulang, masih bisa kuliah, masih bisa bersama keluarga, dan masih bisa bermimpi. Selama napas masih ada, aku akan terus melaju. Karena aku sudah pernah tersesat. Kali ini, aku ingin memastikan bahwa setiap perjalanan membawaku semakin jauh dari masa lalu dan semakin dekat kepada kehidupan yang ingin kubangun.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar