Oleh: Nasya
Baca kisah sebelumnya: Rumah yang Tak Lagi Terasa Aman
Pada suatu pagi di akhir bulan November 2019, aku menjalani hari pertamaku bekerja di sebuah butik. Setelah beberapa waktu lebih banyak berada di rumah, aku mencoba mengisi waktuku dengan bekerja. Sebenarnya Farhan sempat ingin mengantarkanku ke tempat kerja, tetapi aku menolaknya karena pagi itu ia juga akan pergi bekerja bersama ayahku ke luar kota. Akhirnya aku berangkat diantar oleh ibuku.
Pagi itu berjalan seperti hari biasa. Aku datang ke butik, mulai bekerja, melayani pekerjaan yang ada, dan menjalani semuanya tanpa merasa ada sesuatu yang janggal. Sampai waktu menunjukkan siang dan aku beristirahat setelah bekerja sejak pagi. Tidak ada firasat apa pun. Tidak ada kejadian yang membuatku berpikir bahwa hari itu akan menjadi salah satu hari yang paling mengubah hidupku.
Saat sedang beristirahat itulah aku membuka Facebook. Seperti biasanya, aku hanya melihat-lihat beranda dan membaca beberapa unggahan yang muncul. Sampai tiba-tiba aku melihat sebuah unggahan yang merupakan repost dari seseorang. Isinya adalah berita tentang penangkapan seseorang yang disebut sebagai pelaku terorisme.
Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan karena berita seperti itu bukan sesuatu yang asing bagiku. Namun beberapa detik kemudian, mataku tertuju pada foto yang digunakan dalam berita tersebut. Aku mengenali tempat itu. Foto itu adalah foto rumahku.
Seketika aku merasa seperti kehilangan kemampuan untuk memahami apa yang sedang kulihat. Aku membuka berita tersebut, membaca isinya berulang kali, lalu kembali melihat fotonya. Rumah itu benar-benar rumahku. Tetapi pikiranku masih berusaha mencari kemungkinan lain.
Aku mencoba menyangkal apa yang ada di depan mata. Mungkin ini bukan Farhan. Mungkin ada kesalahan. Mungkin orang yang diberitakan bukan suamiku. Aku terus mencari alasan agar berita itu tidak berhubungan dengan kehidupanku sendiri. Namun ketika aku melihat inisial nama yang tercantum dalam berita tersebut, seluruh kemungkinan yang sejak tadi coba kubangun runtuh begitu saja. Inisial itu adalah inisial nama suamiku.
Aku tidak ingat persis berapa lama aku hanya menatap layar ponsel saat itu. Yang kuingat, tubuhku tiba-tiba terasa dingin dan pikiranku seperti berhenti bekerja. Aku langsung menelepon orang tuaku dan meminta mereka menjemputku. Aku tidak sanggup untuk menanyakan banyak hal. Aku hanya ingin segera pulang.
Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan yang datang bersamaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Farhan? Apakah berita itu benar? Mengapa rumahku ada di dalam berita? Mengapa aku mengetahui semuanya justru dari Facebook? Aku masih berharap ketika sampai di rumah nanti akan ada penjelasan yang membuat semua ini ternyata tidak seperti yang kubayangkan.
Tetapi harapan itu hilang begitu mobil memasuki rumah. Rumahku sudah dipenuhi banyak orang. Sebagian besar dari mereka adalah wartawan yang datang setelah penangkapan tersebut. Aku bahkan belum sempat turun dan memahami keadaan ketika suasana di sekitar rumah sudah terasa sangat berbeda dari biasanya.
Ibuku segera membawaku masuk ke dalam rumah. Begitu melihat ayah, aku langsung memeluknya. Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutku bukan tentang apa yang terjadi, bukan tentang berita yang baru saja kubaca, tetapi tentang Farhan.
"Farhan ke mana? Farhan di mana?"
Aku terus menanyakan hal yang sama karena hanya itu yang ada di pikiranku. Aku menangis sampai rasanya air mataku sendiri seperti sudah habis.
Ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Aku belum sempat mencerna bahwa suamiku baru saja ditangkap, belum sempat memahami apa arti berita itu, dan bahkan belum sempat memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Yang ada dalam pikiranku hanya satu orang. Aku ingin tahu di mana Farhan. Aku ingin tahu apakah ia baik-baik saja. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
Namun sebelum aku benar-benar bisa berbicara dengan orang tuaku, beberapa wartawan menghampiriku. Aku ditarik dan dikerumuni untuk diwawancarai. Pertanyaan datang bertubi-tubi. Bagaimana aku mengenal Farhan? Sejak kapan aku mengenalnya? Apakah aku mengetahui kegiatannya? Apakah benar Farhan adalah seorang teroris? Berbagai pertanyaan yang sebenarnya belum mampu kujawab karena aku sendiri masih berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
Saat itu Densus sudah tidak berada di rumah. Penangkapan telah selesai, tetapi suasana di rumah masih seperti tempat terjadinya sesuatu yang besar. Aku berdiri di tengah kerumunan orang yang ingin mendapatkan jawaban, sementara diriku sendiri bahkan belum memiliki jawaban untuk pertanyaan yang paling sederhana: apa yang baru saja terjadi pada suamiku?
Setelah wawancara selesai, pintu rumah akhirnya ditutup. Orang tuaku sepertinya memahami bahwa aku membutuhkan ruang untuk sendiri. Mereka tidak banyak menjelaskan apa pun kepadaku. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi mungkin karena mereka sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa. Mereka juga baru menghadapi keadaan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Aku kemudian duduk sendirian di ruang tamu. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat ke arah jendela yang menghadap jalan di depan rumah. Rumah kami memang berada di pinggir jalan, sehingga dari sana aku bisa melihat orang-orang yang berjalan atau berkendara melewati rumah.
Hari itu rasanya berbeda. Orang-orang yang lewat beberapa kali menoleh ke arah rumah. Ada tatapan yang sulit kuartikan selain sebagai penolakan dan kemarahan. Sebagian menatap dengan sinis. Bahkan ada yang meludah ke arah rumah kami sebelum kembali berjalan.
Aku hanya melihat semuanya dari balik jendela tanpa mampu melakukan apa-apa. Rumah yang selama ini menjadi tempatku pulang tiba-tiba terasa seperti tempat yang sedang ditonton oleh banyak mata.
Baru ketika aku benar-benar sendirian, tangisku pecah. Seharian itu hampir tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis. Aku tidak tahu harus marah kepada siapa, tidak tahu harus bertanya kepada siapa, dan tidak tahu harus memproses semua informasi yang datang kepadaku dalam waktu yang begitu singkat.
Di satu sisi, aku tahu Farhan telah ditangkap oleh Densus. Tetapi di sisi lain, pikiranku masih berusaha memahami apakah penangkapan itu memang benar-benar terjadi karena sesuatu yang telah ia lakukan. Selama ini aku hidup bersamanya, mendengar penjelasan-penjelasannya, membaca materi yang ia berikan, dan melihat dunia melalui pemahaman yang banyak dibentuk olehnya. Aku sudah begitu lama mempercayainya sampai sulit bagiku untuk tiba-tiba menempatkan dirinya sebagai seseorang yang memang mungkin melakukan sesuatu yang membuatnya ditangkap.
Ada bagian dari diriku yang masih ingin percaya bahwa semua ini pasti sebuah kesalahan. Mungkin ada penjelasan lain yang belum kuketahui. Mungkin berita itu tidak sepenuhnya benar. Mungkin Farhan akan pulang dan menjelaskan semuanya seperti yang selalu ia lakukan ketika aku mempertanyakan sesuatu.
Tetapi semakin lama aku duduk di ruang tamu itu, semakin sulit mempertahankan penyangkalan tersebut. Berita yang kulihat sendiri, foto rumahku, kedatangan wartawan, orang-orang yang memenuhi halaman, dan fakta bahwa Farhan benar-benar tidak ada di rumah membuat semuanya terlalu nyata untuk diabaikan.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar