Memilih Bercerita demi Menyelamatkan Anak Bangsa

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Ada bagian dari masa lalu yang sebenarnya ingin kulupakan. Bukan karena aku tidak genap mengingatnya, tetapi karena setiap kali harus menceritakannya kembali, ada bagian dalam diriku yang seperti dipaksa membuka luka lama. Aku harus kembali melihat diriku yang dahulu, mengingat keputusan-keputusan yang pernah kubuat, dan jalan yang pernah kutempuh hingga membawaku ke balik jeruji besi.

Karena itu, setiap kali berdiri di depan banyak orang untuk menceritakan perjalanan hidupku, selalu ada pergulatan yang tidak terlihat dari luar. Aku bisa menjelaskan bagaimana semuanya bermula dan bagaimana aku akhirnya keluar dari jalan itu. Tetapi di balik kata-kata itu, selalu ada rasa malu, sedih, menyesal, sekaligus berharap agar apa yang pernah terjadi dalam hidupku tidak pernah dialami orang lain.

Perasaan itu kembali hadir ketika pada 1 dan 2 September 2026 aku mendapat kesempatan menjadi pembicara dalam Seminar 4 Pilar Kebangsaan bertema "Peran Keluarga dalam Menjaga Keutuhan Bangsa" di Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung. Bagi orang lain, mungkin aku hanyalah salah satu pembicara yang berdiri di depan ruangan. Tetapi bagiku, setiap kali menceritakan pengalaman itu, aku seperti membuka kembali halaman-halaman kehidupan yang sebenarnya ingin kututup — bagaimana kekecewaan, persoalan pribadi, lingkungan, pencarian identitas, dan cara memahami agama dapat bertemu dalam satu perjalanan yang salah, dan membawa seseorang semakin jauh dari nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Bagian yang paling berat biasanya datang ketika film dokumenter tentang kisah hidupku diputar — film yang digarap oleh Kreasi Prasasti Perdamaian, bukan tentang sesuatu yang ingin kubanggakan, justru sebaliknya. Ketika wajah dan perjalanan masa laluku muncul di layar, aku sering tak mampu menahan air mata. Bukan karena ingin dikasihani, melainkan karena aku tahu siapa diriku dahulu, dan bahwa setiap keputusan punya konsekuensi — bukan hanya bagi diriku, tapi juga bagi keluarga dan orang-orang di sekitarku.

Namun semakin sering aku menceritakannya, semakin aku memahami bahwa masa lalu itu mungkin memang tidak harus dilupakan sepenuhnya. Ada masa lalu yang harus diingat bukan untuk diratapi, tetapi untuk dijadikan pelajaran. Jika kisahku hanya kusimpan untuk diriku sendiri, ia hanya akan menjadi penyesalan. Tetapi jika kisah itu kuceritakan agar orang lain tidak mengulangi kesalahan yang sama, pengalaman pahit itu masih bisa memiliki arti. Itulah yang membuatku melihat tema seminar di Garut dan Bandung menjadi sangat penting.

Keluarga sering menjadi tempat pertama seorang anak belajar tentang kehidupan — tentang kasih sayang, kepercayaan, nilai, tanggung jawab, dan cara menghadapi persoalan. Tetapi keluarga juga harus menjadi tempat di mana seorang anak merasa aman untuk bercerita. Tidak semua perubahan dalam diri seorang anak terlihat serius. Anak yang tertutup mungkin dianggap hanya mencari ruang pribadi, anak yang berubah pergaulannya dianggap sedang tumbuh dewasa, anak yang sering marah dianggap hanya mengalami masa sulit. Padahal bisa jadi ada persoalan yang sedang ia hadapi dan tak mampu ia sampaikan.

Aku tidak mengatakan semua persoalan keluarga akan berujung pada ekstremisme. Tidak sesederhana itu. Tetapi dari pengalamanku sendiri, ketika seseorang merasa tidak didengar, tidak diterima, kecewa, lalu mencari jawaban di lingkungan yang salah, persoalan-persoalan itu bisa menjadi pintu masuk menuju cara pandang yang semakin ekstrem. Karena itu, pencegahan harus dimulai jauh sebelum seseorang berada di titik berbahaya — lewat keluarga yang mau mendengar, sekolah yang memberi ruang dialog, masyarakat yang tidak mudah menghakimi, tokoh agama yang menjelaskan agama secara damai dan kontekstual, serta pemerintah yang hadir bukan hanya ketika persoalan sudah terjadi.

Setelah sesi materi dan pemutaran film selesai, diskusi dengan peserta justru menjadi bagian yang paling membuatku bersemangat. Ada yang menyampaikan pandangan, ada yang bertanya, dan ada yang berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada seminar semata — mereka menginginkan tindak lanjut. Menurutku, itulah hal yang paling penting, sebab membangun ketahanan masyarakat tidak mungkin selesai dalam satu pertemuan. Pencegahan ekstremisme kekerasan membutuhkan proses, konsistensi, dan kesediaan berbagai pihak untuk berjalan bersama.

Pemerintah telah memiliki kerangka kebijakan melalui RAN PE Tahap II. Bagiku, kebijakan itu harus diterjemahkan menjadi program dan tindakan nyata yang dirasakan masyarakat sampai ke tingkat paling bawah, sebab persoalan ekstremisme kekerasan bukan hanya persoalan keamanan — di dalamnya ada persoalan pendidikan, keluarga, sosial, ekonomi, literasi, keagamaan, lingkungan pergaulan, bahkan cara seseorang memaknai dirinya sendiri.

Karena itu, pencegahan tidak bisa menjadi tugas satu-dua lembaga saja. Densus 88 berperan dalam penegakan hukum dan pencegahan, BNPT dalam kebijakan dan program penanggulangan, pemerintah daerah memiliki kedekatan dengan masyarakat, Bakesbangpol berperan dalam penguatan wawasan kebangsaan, tokoh agama membentuk cara masyarakat memahami nilai keagamaan, sekolah membentuk cara berpikir generasi muda, dan keluarga menjadi tempat pertama anak belajar memahami dunia. Semua harus saling melengkapi — karena menjaga keutuhan bangsa juga berarti menjaga keluarga, menjaga anak-anak kita, menjaga ruang pergaulan mereka, dan memastikan mereka punya tempat untuk bertanya ketika bingung atau kecewa.

Aku sendiri tidak pernah membayangkan suatu hari akan berdiri di depan banyak orang untuk berbicara tentang kebangsaan. Dulu, aku melihat banyak hal dari sudut pandang yang penuh kemarahan. Hari ini, aku ingin menggunakan pengalaman itu untuk ikut mencegah orang lain mengambil jalan yang sama. Meski setiap kali menceritakan masa lalu air mata masih sering jatuh, aku tak lagi menganggapnya sebagai kelemahan — ia pengingat bahwa aku pernah berada di sana, dan karena itu aku tahu betapa pentingnya mencegah orang lain sampai ke tempat yang sama.

Untuk itu, aku ingin menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung beserta Bakesbangpol keduanya yang telah membuka ruang dialog ini; kepada Polres Garut dan Polres Bandung serta Densus 88 Satgaswil Jawa Barat atas sinergi dalam upaya pencegahan ekstremisme kekerasan; serta kepada seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, pendidik, komunitas, keluarga, dan peserta seminar yang telah hadir dan menunjukkan kepedulian terhadap masa depan generasi muda. Terima kasih juga kepada Kreasi Prasasti Perdamaian yang telah mendokumentasikan perjalanan hidupku dalam sebuah film — film yang tidak mudah bagiku untuk ditonton, namun justru lewat itulah ceritaku dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami peserta.

Aku berharap pertemuan di Garut dan Bandung tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi awal dari percakapan yang lebih panjang, kolaborasi yang lebih kuat, dan langkah nyata membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi ekstremisme kekerasan.

Aku tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi aku masih bisa memilih apa yang kulakukan hari ini. Dan hari ini, aku memilih untuk bercerita — bukan untuk membanggakan masa lalu, bukan untuk meminta dikasihani, tetapi agar kisah kelam yang pernah menjadi bagian dari hidupku dapat menjadi pelajaran bagi orang lain. Jika ceritaku bisa membuat satu keluarga lebih peka terhadap perubahan anaknya, membuat seorang anak muda berpikir ulang sebelum memilih jalan kekerasan, atau membuat sebuah komunitas semakin peduli terhadap lingkungannya, maka perjalanan panjang yang pernah kulalui masih memiliki arti. Mungkin, inilah caraku untuk ikut menjaga Indonesia.[]



*Foto: Munir Kartono dalam Seminar 4 Pilar Kebangsaan bertema "Peran Keluarga dalam Menjaga Keutuhan Bangsa" di Kabupaten Garut,Selasa (1/9/2026).[IST]

Komentar

Tulis Komentar