Baca tulisan sebelumnya: Dari Menara Kembar WTC ke Layar Gawai: Metamorfosis “Internetistan”
Karena medan ancaman telah berubah, cara kita merespons juga harus berubah.
Kita tidak bisa sekadar mengandalkan pemblokiran situs atau penghapusan akun. Upaya semacam itu tetap diperlukan untuk menekan penyebaran konten berbahaya, tetapi ia tidak pernah cukup. Ruang digital terlalu cair. Akun dapat hilang hari ini dan muncul kembali esok hari. Narasi dapat berpindah platform, berubah bentuk, dan menemukan audiens baru.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana menghentikan propaganda, tetapi juga:
Narasi apa yang kita hadirkan setelah kebisingan itu dihentikan?
Di sinilah counter-narrative perlu dipahami secara lebih serius.
Narasi tandingan tidak boleh sekadar menjadi propaganda versi lain. Ia tidak akan efektif bila terdengar seperti ceramah resmi, slogan, atau nasihat moral yang jauh dari pengalaman anak muda.
Narasi alternatif harus manusiawi. Ia harus berbicara tentang pengalaman nyata. Tentang kehilangan. Tentang kesalahan. Tentang kesempatan kedua. Tentang orang-orang yang pernah berada di jalan ekstrem lalu menemukan alasan untuk kembali. Tentang keluarga yang memilih tetap membuka pintu ketika stigma mengatakan sebaliknya.
Storytelling dapat memainkan peran penting di sini. Cerita manusia sering kali lebih kuat daripada slogan. Kesaksian orang yang pernah tersesat bisa lebih menyentuh daripada seribu kalimat tentang toleransi.
Bukan karena pengalaman tersebut otomatis menjadi jawaban untuk semua persoalan, tetapi karena pengalaman nyata menghadirkan sesuatu yang sering hilang dari propaganda: kompleksitas manusia.
Literasi Digital Dimulai dari Literasi Emosi
Pencegahan juga harus kembali ke lingkungan paling dekat: keluarga dan komunitas. Literasi digital tidak boleh berhenti pada nasihat seperti “bijak bermedia sosial” atau “saring sebelum sharing”.
Literasi digital yang lebih mendalam adalah kemampuan untuk memahami bagaimana informasi bekerja, bagaimana emosi kita dapat dimanfaatkan, bagaimana algoritma membentuk apa yang kita lihat, dan bagaimana sebuah pesan perlahan dapat mengubah cara kita memandang kelompok lain.
Karena itu, literasi digital pada akhirnya juga merupakan literasi emosi.
Kita perlu mengajarkan anak-anak muda untuk bertanya: mengapa saya marah setelah melihat konten ini? Mengapa saya merasa semakin benci setelah membaca komentar-komentar itu? Mengapa saya hanya ingin mendengar orang yang sepemikiran?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi rem sebelum emosi berubah menjadi identitas. Orang tua dan pendidik juga perlu memiliki sensitivitas untuk membaca perubahan perilaku.
Anak yang tiba-tiba menarik diri dari pergaulan, semakin tertutup, memutus hubungan dengan lingkungan lama, atau menghabiskan waktu dalam komunitas digital yang serba rahasia memang tidak otomatis berarti sedang mengalami radikalisasi.
Tetapi perubahan itu layak menjadi alasan untuk mendekat, bukan langsung menghakimi.
Di sinilah kehadiran orang dewasa menjadi penting. Bukan sebagai polisi di rumah. Bukan sebagai hakim. Melainkan sebagai tempat pulang.
Sebab ketika seorang anak merasa aman untuk bercerita tentang kegelisahan, kemarahan, dan kebingungannya, kebutuhan untuk mencari jawaban eksklusif dari ruang digital bisa berkurang.
Memulihkan Ruang yang Koyak
Dua puluh lima tahun setelah 11 September, dunia telah berubah secara luar biasa. Ancaman terorisme juga berubah.
Dari jaringan yang terstruktur menjadi ekosistem yang cair. Dari propaganda yang membutuhkan mesin distribusi menjadi konten yang dapat dibuat dan diedarkan dengan cepat. Dari perekrutan yang mengandalkan pertemuan fisik menjadi proses yang bisa berlangsung sendirian di kamar.
Tetapi ada satu hal yang sebenarnya tidak banyak berubah: manusia tetap membutuhkan rasa memiliki.
Kita boleh membangun sistem keamanan secanggih apa pun. Kita boleh memperketat pengawasan, memperbaiki teknologi deteksi, dan memperkuat aparat penegak hukum. Semua itu penting.
Namun, selama masih ada manusia yang merasa tidak didengar, tidak dihargai, tidak memiliki masa depan, atau tidak menemukan tempat untuk pulang, selalu ada ruang bagi kelompok ekstremis untuk menawarkan identitas, persaudaraan, dan makna palsu.
Karena itu, pelajaran paling penting dari perjalanan panjang Perang Melawan Teror mungkin bukan hanya bagaimana kita mengejar ancaman, melainkan bagaimana kita membangun masyarakat yang membuat ancaman itu lebih sulit tumbuh.
Pertempuran melawan radikalisme pada akhirnya bukan semata-mata pertempuran antara aparat dan pelaku. Ia adalah pertempuran untuk merebut kembali ruang-ruang kemanusiaan yang kosong. Ruang keluarga. Ruang sekolah. Ruang komunitas. Dan kini, ruang digital.
Kita tidak akan menghentikan kebencian dengan menambah kebencian baru. Kita juga tidak akan memadamkan ekstremisme dengan memperluas stigma dan pengasingan.
Jalan menuju penyembuhan membutuhkan keberanian untuk merajut kembali tali-tali hubungan sosial yang terputus.
Memulihkan mereka yang pernah tersesat. Mendampingi keluarga yang rentan. Membuka ruang dialog bagi mereka yang sedang mencari jawaban. Dan memastikan anak-anak muda kita menemukan kehangatan, harapan, persahabatan, serta arti hidup di dunia nyata.
Sebab setelah dua puluh lima tahun mengejar mereka yang bersembunyi di balik organisasi dan wilayah konflik, mungkin sudah waktunya kita melihat lebih dekat ke layar di hadapan kita.
Pertanyaan terpenting hari ini bukan lagi hanya di mana teroris bersembunyi. Melainkan: mengapa begitu banyak orang merasa menemukan rumah di tempat yang salah?
Dan barangkali, pekerjaan terbesar kita setelah 25 tahun Perang Melawan Teror adalah memastikan bahwa mereka tidak perlu mencari rumah di dalam ilusi gema “Internetistan”.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar