SEMARANG - Kisah pembinaan narapidana terorisme (napiter) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang akan diangkat menjadi sebuah film. Salah satu tujuannya, memperkenalkan tugas dan peran pemasyarakatan melalui pendekatan kreatif dan komunikatif.
Short film bertema pemasyarakatan itu melibatkan aktor sekaligus komedian Erick Estrada. Dia mengunjungi Lapas Semarang, Kamis (10/9/2026).
Kepala Lapas Semarang Ahmad Tohari menerima kunjungannya dalam rangka meninjau persiapan produksi film pendek. Temanya tentang pembinaan dan perubahan pemikiran seorang napi terorisme.
“Filmnya yang akan digarap, membawa pesan tentang kesempatan untuk berubah dan kembali jadi bagian dari masyarakat serta Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Ahmad Tohari pada keterangannya kepada wartawan.
Secara umum, kisah yang diangkat menggambarkan seorang napiter yang dulunya terlibat “meracik bom”, kemudian menjalani proses pembinaan hingga mampu menemukan kembali potensi dirinya melalui keterampilan memasak dan berwirausaha.
Di balik cerita itu, ada sebuah perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat dalam hitungan hari. Perubahan pemikiran tidak datang seperti membalik telapak tangan. Ia tumbuh melalui proses, pendampingan, interaksi, dan kesempatan untuk melihat kembali kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Seseorang yang pernah berada dalam pusaran kekerasan pada akhirnya tetap memiliki sisi lain dalam dirinya. Ada keterampilan yang bisa dikembangkan, ada keluarga yang menunggu, ada kehidupan yang ingin dibangun kembali. Karena itu, pembinaan bukan semata-mata tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang menyiapkan seseorang ketika pintu penjara kelak kembali terbuka.
Dulunya meracik bom untuk kasus era-2000an, pada perjalanannya juga tetap meracik “bom”. Tapi kali ini artinya adalah Bakso or Mie Ayam (“BOM”).
Permainan kata tersebut menjadi bagian ringan dari cerita yang sebenarnya menyimpan pesan cukup dalam. Dulu, keterampilan yang dimiliki digunakan untuk sesuatu yang membawa kehancuran. Kini, tangan yang sama diarahkan untuk membuat sesuatu yang bisa dinikmati, dijual, dan menjadi sumber penghidupan.
Di titik inilah proses pembinaan menemukan maknanya: mengubah potensi yang pernah berada di jalan yang keliru menjadi kemampuan yang memberi manfaat. Bukan sekadar menghapus masa lalu, melainkan membantu seseorang membangun masa depan dengan pilihan-pilihan yang berbeda.
Pendekatan ringan dan humanis tanpa menghilangkan pesan utama mengenai pentingnya pembinaan, perubahan perilaku serta reintegrasi sosial.
“Kami sangat mendukung rencana pembuatan film ini, pemasyarakatan adalah proses panjang membentuk seseorang lebih baik. Di dalamnya ada pembinaan, pendampingan, pengembangan keterampilan, hingga persiapan untuk kembali ke tengah masyarakat,” lanjutnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Lapas Kelas I Semarang berupaya menghadirkan gambaran Pemasyarakatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Bagi sebagian orang, penjara mungkin hanya terlihat sebagai tempat seseorang menjalani hukuman. Padahal di dalamnya juga berlangsung proses panjang untuk mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah bebas. Film ini menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan sisi tersebut kepada masyarakat,” ujar Ahmad Tohari.
“Kehadiran Erick Estrada diharapkan mampu menyampaikan pesan tentang pemasyarakatan terasa lebih ringan, menarik, dan mudah diterima generasi muda,” sambungnya.
Kisah perubahan tersebut juga menegaskan bahwa setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Bakat memasak dan kemampuan berwirausaha yang dikembangkan menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian sekaligus bekal ketika nantinya kembali ke lingkungan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari apa yang terjadi di balik tembok lapas. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah seseorang kembali ke tengah masyarakat: apakah ia mampu menjalani kehidupan secara mandiri, diterima lingkungannya, dan memilih untuk tidak kembali pada masa lalu.
Karena itu, cerita tentang seorang mantan peracik bom yang kemudian belajar meracik bakso atau mie ayam bukan sekadar kisah yang menarik untuk difilmkan. Ia adalah gambaran sederhana tentang kemungkinan kedua—bahwa seseorang yang pernah salah memilih jalan masih dapat menemukan jalan pulang, sepanjang ada kemauan untuk berubah dan ada ruang bagi masyarakat untuk menerima perubahan itu.
“Harapan kami, film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pemahaman bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Kami ingin masyarakat melihat bahwa proses pembinaan yang dilakukan di pemasyarakatan bertujuan mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali ke masyarakat dengan keterampilan, sikap, dan kehidupan yang lebih baik,” pungkas Ahmad Tohari. (eka setiawan)
Foto utama: Abdul Ghoni (dua dari kiri) sedang berdiskusi tentang rencana pembuatan film pendek dengan pejabat Lapas Kelas 1 Semarang dan Erick Estrada, Kamis(10/9/2026).[Dok. Lapas Kelas I Semarang]
Komentar