Tetap Melangkah Meski Gemetar

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Aku Belum Tahu Apa Itu Grant, Tapi Aku Memutuskan Mencoba

Setelah beberapa waktu terlewati untuk mempersiapkan final proposal, qadarullah, masih ada satu persyaratan yang bahkan sampai H-2 deadline belum berhasil aku dapatkan. Jujur, saat itu sempat terlintas di pikiran, “Apa sebaiknya menyerah saja?” Hampir semua persyaratan lainnya sudah ada di tangan, tetapi masih tersisa satu hal yang belum juga terselesaikan.

Dengan sedikit keberanian dan bermodal keyakinan bahwa Allah pasti memberikan jalan selama aku terus berusaha, akhirnya aku kembali mengirimkan email kepada beberapa pihak. Persyaratan yang belum aku dapatkan saat itu adalah surat kesepakatan antara tim kami dan partner project dari Australia. Mencari partner tentu bukan perkara sederhana. Tidak sembarang organisasi dapat kami jadikan partner karena harus ada kesesuaian dengan project yang kami bawa.

Waktu semakin berjalan dan deadline semakin dekat. Sampai akhirnya, tepat H-1 deadline, dari puluhan email yang telah aku kirimkan, ada satu balasan yang benar-benar membuatku menangis haru.

Salah satu organisasi mahasiswa Indonesia yang berada di Australia bersedia menjadi partner project kami.

Sulit rasanya menjelaskan perasaan saat itu. Ada lega, haru, syukur, sekaligus rasa tidak percaya bahwa di tengah waktu yang begitu sempit, Allah justru membuka jalan. Tidak membutuhkan waktu lama, surat kesepakatan itu akhirnya berhasil aku dapatkan.

Aku menangis saat itu. Bukan semata-mata karena satu persyaratan akhirnya terpenuhi, tetapi karena rasanya seperti baru saja melewati satu pintu yang beberapa hari sebelumnya hampir membuatku menyerah.

Namun, kalau dipikir-pikir lagi, tantangan terbesar dalam mengerjakan proposal ini sebenarnya bukan hanya persoalan deadline atau persyaratan administratif.

Sebagai seorang perempuan yang pernah mengalami bagaimana suaranya dibungkam, bagaimana pendapat dan sudut pandangnya diobrak-abrik hingga dicuci oleh lingkungan yang membawa paham radikalisme, membawa tema yang bersinggungan dengan persoalan tersebut tentu bukan sesuatu yang ringan.

Beberapa kali ketika mengerjakan proposal ini, aku sempat gemetar dan merasakan sesak di dada. Ada bagian-bagian tertentu yang membuatku merasa seperti sedang berhadapan kembali dengan sesuatu yang pernah begitu dekat dengan hidupku. Rasanya seperti melawan dan menantang trauma itu secara langsung, tepat di depan mata.

Di satu sisi, aku harus berhadapan dengan pengalaman yang tidak selalu mudah untuk diingat. Di sisi lain, aku harus tetap duduk, membaca, berpikir, menulis, menyusun argumen, dan mengubah kegelisahan tersebut menjadi sebuah proposal yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Mungkin itulah yang membuat proposal ini terasa begitu personal bagiku. Ada bagian dari diriku yang sedang belajar memahami kembali sesuatu yang pernah membentuk luka, tetapi kali ini dari posisi yang berbeda. Aku tidak lagi berada pada posisi seseorang yang hanya menerima dan dibungkam. Aku sedang berusaha menggunakan suara yang dulu pernah hilang itu untuk membicarakan persoalan tersebut melalui jalur akademik dan sebuah project yang semoga dapat memberikan manfaat.

Aku sadar betul bahwa tema yang kami bawa cukup berat, bahkan sensitif. Aku juga menyadari bahwa peluang untuk lolos pada tahap awal mungkin hanya beberapa persen. Ada begitu banyak proposal lain yang memiliki gagasan dan kualitas yang tidak kalah baik. Ada pula orang-orang dengan pengalaman dan kapasitas yang mungkin jauh lebih besar.

Karena itu, keberanian untuk mengajukan proposal ini saja sebenarnya sudah menjadi pencapaian tersendiri bagiku.

Aku masih ingat, proposal ini mulai aku kerjakan tepat di awal tahun. Kurang lebih dua pekan aku gunakan untuk menyusun semuanya, mulai dari merumuskan gagasan, membaca referensi, menyusun konsep project, mencari partner, melengkapi persyaratan, hingga melakukan berbagai revisi. Semuanya harus selesai tepat pada H-1 deadline.

Pada saat yang sama, aku juga masih harus mengejar target modul perkuliahan karena pada awal Februari sudah ada jadwal UAS. Jadi, hari-hari itu benar-benar terasa padat. Ada lelah, khawatir, bersemangat, bahkan beberapa kali ingin menyerah. Tetapi di tengah semuanya, aku terus berusaha meyakinkan diri bahwa selama sudah dimulai, maka harus diupayakan sampai selesai.

Dan Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.

Aku tidak tahu apakah proposal ini nantinya akan lolos atau tidak. Aku juga tidak tahu sejauh apa project ini nantinya dapat berjalan. Tetapi setidaknya, dari proses ini aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Terkadang, keberanian justru berarti tetap melangkah meskipun sedang gemetar.

Pada akhirnya, aku hanya ingin bersyukur. Di tengah keterbatasan waktu, berbagai keraguan, dan bahkan pergulatan dengan trauma yang masih tersisa, Allah mengizinkanku menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.

Apa yang aku mulai, akhirnya bisa aku selesaikan.

Alhamdulillah.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar