Transmedia Storytelling sebagai Arsitektur Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan

Analisa

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Sebuah kampanye video pencegahan ekstremisme tayang di kanal YouTube pemerintah, ditonton beberapa ribu kali, lalu tenggelam. Di saat yang sama, seorang remaja SMA berpindah dari grup game daring, ke kanal Telegram, ke forum diskusi anonim, ke unggahan meme di media sosial — masing-masing memperkuat satu sama lain, membentuk satu semesta makna yang koheren tentang siapa musuh, siapa pahlawan, dan apa yang harus dilakukan. Yang pertama adalah pesan, dan yang kedua adalah ekosistem. Dan pesan tidak pernah menang melawan ekosistem.

Pola ini berulang di banyak program pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan (P/CVE) di Indonesia. Satu medium video, satu poster, satu seminar, diproduksi terpisah-pisah, lalu diukur keberhasilannya dari jumlah tayang. Sementara itu, kelompok-kelompok ekstrem tidak pernah berpikir dalam satuan konten. Mereka berpikir dalam satuan dunia — sebuah semesta yang terus hidup, saling menyambung, dan mengundang audiens untuk ikut membangunnya.

Ekstremisme Sudah Lebih Dulu Menjadi Transmedia

Henry Jenkins menyebut transmedia storytelling sebagai cara sebuah narasi disebar lintas platform, di mana setiap kanal — film, gim, forum penggemar — tidak mengulang cerita yang sama, melainkan menyumbang satu keping unik pada satu semesta yang lebih besar, dengan setiap medium mengerjakan apa yang paling bisa ia kerjakan (Jenkins, 2006). Audiens tidak sekadar menonton, mereka berburu keping-keping itu, merangkainya, lalu ikut memproduksinya kembali. Ini yang membedakan transmedia dari sekadar kampanye multi-kanal. Bukan soal berapa banyak platform dipakai, melainkan koherensi dunia naratif dan keterlibatan aktif audiens di dalamnya.

Contoh paling gamblang dari logika ini adalah cara Marvel Studios membangun Marvel Cinematic Universe (MCU). Sejak Iron Man dirilis pada 2008, setiap film tidak berdiri sebagai kisah tertutup, melainkan sebagai satu keping dari semesta bersama. Adegan pascakredit menjadi penanda arah cerita berikutnya, karakter dari satu film muncul di film lain, dan peristiwa di satu seri televisi memengaruhi jalan cerita film layar lebar. Penonton yang hanya menonton satu judul tetap mendapat cerita yang utuh, tetapi penonton yang mengikuti seluruh semesta mendapat lapisan makna tambahan — persis prinsip yang oleh para pengkaji media disebut sebagai keseimbangan antara kedalaman/drillability bagi penggemar dan kemudahan sebar/spreadability bagi penonton umum (Jenkins, 2006; Yockey, 2017). Yang membuat strategi ini bertahan bukan sekadar banyaknya produk, melainkan kedisiplinan menjaga agar setiap keping tetap terasa sebagai bagian dari satu dunia yang sama, bukan iklan berulang untuk produk yang sama.

Radikalisasi digital sudah lama mempraktikkan logika serupa secara intuitif, meski untuk tujuan yang berlawanan. Ia menyebar lewat gim yang mengubah kekerasan menjadi permainan berpoin, meme yang menormalkan musuh sebagai objek dehumanisasi, grup percakapan tertutup yang memberi rasa persaudaraan, dan forum yang memvalidasi kemarahan personal menjadi proyek kolektif. Setiap pintu masuk ringan dan menghibur; setiap pintu berikutnya menuntut komitmen sedikit lebih dalam, sampai audiens tanpa sadar sudah berada jauh di dalam sebuah semesta makna yang koheren. Inilah ashabiyyah digital — solidaritas kelompok yang, ketika ikatan sosial nyata di dunia luar terasa gagal mengakui eksistensi seseorang, dibangun ulang secara algoritmik, lengkap dengan musuh bersama dan mitos asal-usul, meminjam istilah Ibn Khaldun tentang solidaritas kelompok (Ibn Khaldun, 2015).

Ruang Publik yang Direbut Kembali, atau Direbut Ulang oleh Kekuasaan?

Jürgen Habermas menempatkan ruang publik yang deliberatif sebagai ruang di mana argumen, bukan kekuasaan, yang menentukan kebenaran (Habermas, 1989). Manuel Castells menambahkan bahwa kekuasaan hari ini bekerja lewat penguasaan jaringan komunikasi, sehingga perlawanan terhadapnya — counter-power — juga harus berbentuk jaringan, bukan siaran satu arah (Castells, 2007). Transmedia storytelling, jika dirancang dengan benar, punya potensi menjadi bentuk counter-power semacam itu. Audiens muda tidak hanya menerima narasi tandingan, tetapi ikut memproduksi dan menyebarkannya, membentuk ashabiyyah digital versi lain yang berbasis pengakuan, bukan dendam.

Namun di sinilah jebakannya. Begitu negara mengambil alih sebagai sutradara tunggal semesta cerita ini, ia berhenti menjadi counter-power dan kembali menjadi power biasa — persis seperti kekuatan yang dicurigai sebagai medium propaganda penguasa. Karena itu, konsep yang lebih realistis bukan negara memproduksi konten transmedia, melainkan memfasilitasi jaringan komunitas dan credible voices — termasuk mantan narapidana terorisme untuk memadukan pengalaman dan keilmuan yang dimilikinya— untuk berbicara secara organik lintas platform. Ruangobrol.id sudah mempraktikkan pola ini dalam skala kecil. Cerita personal, analisis, dan diskusi terbuka yang saling menyambung lintas format tanpa terasa sebagai kampanye satu arah. Yang belum banyak dilakukan adalah merancang pola ini secara sengaja sebagai arsitektur, bukan sekadar produksi konten yang kebetulan tersebar di banyak tempat.

Merancang Semesta, Bukan Menambah Konten

Agar gagasan ini bisa dieksekusi, ia perlu dipetakan sebagai tiga lapis platform yang koheren, bukan tiga kampanye terpisah: lapis pintu masuk berupa gim, meme, atau video pendek yang menjangkau khalayak yang belum tentu sedang mencari konten P/CVE; lapis pendalaman berupa podcast dan tulisan panjang bagi audiens yang sudah tertarik dan mencari konteks; serta lapis afiliasi berupa komunitas diskusi dan grup percakapan, tempat rasa memiliki dibangun untuk menandingi fungsi persaudaraan yang selama ini dimonopoli ekosistem ekstrem. Ketiganya harus terasa sebagai satu semesta yang sama, bukan tiga proyek dengan narasi berbeda, agar audiens yang berpindah platform tidak merasa berpindah pesan sponsor.

Selama pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan masih dipahami sebagai soal jumlah konten dan jumlah kanal, ia akan terus kalah oleh ekosistem yang dibangun ekstremisme secara lebih koheren dan partisipatif. Transmedia storytelling menawarkan cara berpikir ulang tentang bagaimana pengakuan, afiliasi, dan makna dibangun kembali di ruang digital — sebelum semuanya direbut lebih dulu oleh siapa pun yang menawarkan pengakuan itu paling cepat.

Ini bukan sekadar soal anggaran produksi konten yang lebih besar, melainkan soal perubahan cara berpikir, dari memproduksi pesan menjadi merancang ekosistem, dari mengejar jumlah tayang menjadi membangun engagement, dan dari menjadikan negara sebagai juru bicara tunggal menjadi menjadikannya fasilitator bagi suara-suara yang lebih dipercaya audiensnya sendiri. BNPT, Komdigi, Komunitas, NGO dan jejaring credible voices sipil perlu mulai merancang arsitektur ini bersama, bukan memproduksi video kampanye satu per satu dan berharap salah satunya viral.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar