Sabtu (19/9/2026) selepas Magrib, saya sebenarnya sudah cukup lelah dan rencananya ingin merebah. Aktivitas 2 minggu bolak-balik Semarang – Jakarta untuk urusan pekerjaan, cukup menguras energi.
Tapi lelah itu sontak hilang saat rebahan sembari melihat perpesanan WA. Berapa teman memberi informasi duka. “Innalillahi wa innailahi rojiun Bang Asron”. Informasi mengagetkan itu saya coba konfirmasi ulang ke beberapa teman lain.
“Awal Agustus lalu sudah sempat operasi, Mas,” kata salah satu perwira polisi menyambung pesan.
“Iya Pak (disusul emoticon menangis),” tulis salah satu mantan Kepala Satuan Intelijen Keamanan juga menyambung konfirmasi saya.
Tak lama, rentetan informasi yang sama juga datang. Tak hanya itu, salah satu personel Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror yang saat ini bertugas di Nusa Tenggara Timur (NTT) juga menelpon saya. Nadanya tergesa-gesa.
“Bener kabar itu Kang Mas? Sampaikan salam saya ke keluarga ya Kang Mas,” kata dia.
Dari aplikasi WA, pesan begitu cepat tersebar. Fotonya terpasang tersenyum dengan narasi duka cita. Tak hanya sejawat -yang saya tahu- sesama personel intelijen, kabar duka itu juga dibagikan beberapa mantan narapidana terorisme. Mereka langitkan doa-doa.
Istri saya begitu tahu, tak kalah kaget. Dia langsung bersiap, meluncurlah kami ke rumah duka. Di Kota Semarang.
Sepanjang jalan menuju rumah duka, malam itu, kami tak hentinya membicarakan kepergiannya yang begitu cepat. Kurang lebih sudah 8 tahun berjalan, kami – saya, istri dan Mas Asron – cukup intens berkolaborasi kerja. Mulai dari masih bintara hingga menjadi perwira pertama Polri.
Pribadi yang Ringan Tangan
Sependek kenangan saya mengenal, di antara sesamanya, Mas Asron adalah pribadi yang ringan tangan. Supel. Tak melulu serius. Sehingga, kerja-kerja di isu keamanan negara yang diembannya, ketika kami obrolkan, menjadi “ringan” saja.
Bidang pekerjaan ini, terutama berkaitan dengan konteks isu terorisme, seringkali cukup menyita waktu dan energi. Tak bermaksud mengesampingkan bidang lain, namun di bidang ini persoalan yang dihadapi kerap “membuat sakit kepala”.
Maklum, wilayah tugas Jawa Tengah cukup tinggi dinamikanya untuk konteks isu ini. Apalagi, yang “diurus” bukan hanya individu saja, tetapi keluarga mereka, relasi sosial mereka, hingga “printilan-printilan” kecil yang sebenarnya (mungkin) “tidak berkaitan” dengan aspek keamanan.
“Prinsipnya, bekerja di bidang ini harus ikhlas, humanis dan menyenangi pekerjaan ini,” kata Mas Asron pada sebuah obrolan dengan saya di sebuah warung kopi di Semarang, sebelumnya.
Ketika itu dia sempat berkisah, jelang Pemilu 2024, tengah malam, ponselnya berdering. Orang di balik ponsel yang menghubungi adalah Abdurrahim Baasyir alias Ustaz Iim, putra Abu Bakar Baasyir.
Intinya mengabarkan dia bersama keluarga dan sang ayah – Abu Bakar Baasyir – akan ikut Pilpres, “nyoblosnya” di sekitar Ngruki, Kabupaten Sukoharjo.
“Subuh-subuh saya langsung meluncur ke sana, mendampingi beliau dan keluarganya,” sambungnya.
Tak jarang, dia juga kerap mendapat “perlakuan tidak mengenakan” dari beberapa mantan napiter, terutama yang masih keras ideologinya, masih diliputi kebencian. Seperti disebut “thogut”. Namun, itu tak menyurutkan langkahnya tetap berusaha melayani mereka dengan baik.
Saat mengobrol dengan saya ketika itu, dia juga tampak melakukan panggilan video dengan Yudi Zulfahri, mantan IPDN yang sempat tergelincir kasus terorisme. Yudi yang asal Aceh, sedang melakukan penelitian ilmiah, salah satunya di wilayah Jateng. Mas Asron, mendampinginya.
Sejumlah tokoh senior – sekali lagi, sependek informasi saya – juga tak luput dari perhatiannya yang intens. Di antaranya; Imron Byhaqi alias Abu Tholut hingga Thoruquddin alias Abu Rusydan – pendiri Jamaah Islamiyah. Termasuk Zarkasih alias Mbah, mantan amir JI.
Nama-nama lain, termasuk dari eks Jamaah Anshorut Daulah (JAD), yang saya tahu, juga tak luput dari perhatiannya. Kami, saya, istri dan Mas Asron, suatu waktu pernah cukup tergesa meluncur dari Semarang ke Yogyakarta, setelah mendapat kabar istri mantan napiter di Klaten, jatuh di kamar mandi dan dilarikan ke salah satu RS di Yogyakarta.
Mereka butuh bantuan, itu yang menggerakkannya “gercep” meluncur. Ketika itu kami juga tentu bekerjasama dengan tim Densus 88 dari Jateng dan DIY.
Nama-nama lain, yang sepertinya terlalu banyak untuk diceritakan, tak luput dari perhatiannya. Tak hanya bekerja sendiri, Mas Asron juga melibatkan istrinya untuk “kerja-kerja” seperti itu. Salah satu alasannya; ada beberapa “case” yang akan lebih tepat jika melibatkan perempuan untuk proses pendampingan.
Pendampingan tak hanya dilakukan di luar, tetapi juga dilakukan ketika masih di dalam penjara.
Dari asam garam pengalamannya di lapangan, Mas Asron punya salah satu kesimpulan. para mantan napiter maupun keluarganya yang dia dampingi, rata-rata mengalami kesulitan ekonomi. Paska-bebas penjara, mereka tentu sulit memperoleh pekerjaan dengan stigma yang masih melekat kuat.
Mau tak mau, wirausaha jadi salah satu solusi. Tapi, ini juga punya dinamika sendiri, salah satunya mengingat mentalitas yang belum sepenuhnya siap wirausaha.
Tak jarang, melalui berbagai koordinasi, Asron akhirnya bisa mengupayakan usaha yang dilakukan. Namun, tetap saja ada dinamika tersendiri.
Salah satunya ada di Solo Raya. Dia menyebutnya “ikhwan” yang dulu diupayakan untuk usaha jualan rica-rica. “Ternyata beberapa waktu saya ke sana lagi, sudah tidak jualan. Saya tanya ‘kok ora dodol’ (kok tidak jualan). Dia jawab ‘ora payu’ (tidak laku), nunggu bantuan wae (tunggu bantuan saja”. Hal ini sering terjadi,” ceritanya ketika itu.
Di sisi lain, banyak pula kisah “sukses” pendampingannya bersama tim. Ada yang membuka optik kacamata, usaha bekam dan pengobatan herbal, berdagang es teh krampul hingga dawet.
“Yang berjualan Dawet Bayat Klaten itu salah satu contoh sukses, sudah punya delapan kemitraan, jadi bisa merekrut karyawan untuk diberdayakan, kami berharap yang lain juga bisa seperti itu,” sambungnya ketika itu.
Tanpa “Perayaan"
Malam itu, sekira pukul 21.00 WIB, sebuah mobil ambulans datang membawa jenazahnya. Para pelayat tampak meneteskan air mata. Sejurus kemudian - setelah jenazahnya diturunkan, masuk rumah duka – mereka silih berganti melakukan salat jenazah.
Suasana di sana tetap hening di antara para pelayat terus saja berdatangan.
Beberapa sejawat, junior, senior hingga atasan, tampak di sana. Rata-rata lebih banyak berdiam, merenung, sembari saling timpal cerita tentang kiprahnya, termasuk pula tetiba sakitnya yang begitu cepat hingga akhirnya kembali ke Yang Maha Kuasa.
“Maafkan Ayah kalau banyak salah ya Mas, Mbak,” kata anak sulung almarhum sambil menyeka kesedihan.
*Foto utama:
Suasana di rumah duka almarhum Ipda Asron, Sabtu (19/9/2026).[Eka Setiawan]
Komentar