Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Antara Gamis dan Almamater: Kisah Gadis 17 Tahun yang Terseret Radikalisme
Hari-hariku di Rumah Qur’an berjalan dengan pola yang nyaris sama: menghafal, mendengar ceramah, dan memastikan tak ada satu pun dari kami keluar terlalu jauh. Keluar rumah berarti berisiko, bukan hanya karena dunia luar dianggap “penuh fitnah”, tapi karena mereka tahu, kami sedang dicari.
Suatu sore, Ummu Hana memanggilku ke ruang tamunya yang kecil.
“Untuk sementara, jangan keluar jauh-jauh ya, Nak,” katanya lembut tapi tegas. “Kami dengar keluargamu sudah menyebar informasi ke mana-mana. Bahkan ke kantor polisi.”
Aku hanya mengangguk.
Dalam hati, aku ingin marah, tapi bukan karena keluargaku mencariku. Aku justru marah karena kata-kata Ummu Hana membuatku percaya bahwa dicari orangtua sendiri adalah ancaman. Bahwa cinta mereka adalah bentuk jebakan.
Waktu itu, aku bahkan ditawari menikah.
“Kalau ada ikhwan yang siap membimbingmu, tak usah menunggu lama. Lebih baik segera menikah agar terjaga,” ucapnya.
Aku menolak halus. Tapi dari obrolan mereka, aku mulai memahami satu hal: dalam kelompok ini, ayah kandung dianggap tak layak menjadi wali nikah jika tidak sejalan paham.
Mereka percaya bahwa pernikahan tanpa wali nasab adalah bentuk ketaatan, karena “hukum Allah lebih tinggi dari hukum manusia.”
Dan ternyata praktik itu bukan wacana.
Ada yang benar-benar menikah tanpa wali. Bahkan ada lelaki yang sedang dipenjara karena kasus terorisme, lalu menikah secara online dengan gadis di kelompok ini. Aku pernah mendengar satu kisah: seorang suami yang masih mendekam di penjara, tapi tetap melakukan akad nikah lagi (menikah kedua kalinya) dari balik jeruji, juga tanpa wali nasab. Semua dibungkus dengan narasi “jihad cinta”, seolah mereka sedang memperjuangkan sesuatu yang mulia.
Hari-hari berlalu seperti kabut.
Sampai suatu pagi, kira-kira 2 minggu setelah meninggalkan rumah, aku izin ke pasar membeli kebutuhan harian. Di sana, tanpa pikir panjang, aku memberanikan diri mengaktifkan nomor lamaku yang sudah lama mati.
Begitu sinyal kembali, ponselku bergetar berkali-kali. Ratusan pesan masuk dari teman, guru, bahkan nomor-nomor tak kukenal.
Tapi satu pesan membuatku berhenti bernapas sejenak:
“Vania, Ibumu sakit parah. Tolong pulang.”
Aku membaca pesan itu berulang kali, berusaha menyangkal rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak.
Malamnya, aku menangis diam-diam. Untuk pertama kalinya sejak aku “hijrah”, aku merasa benar-benar rindu rumah. Rindu suara ibu, aroma masakan, bahkan tegurannya yang dulu kuanggap duniawi.
Dan mungkin untuk pertama kalinya juga, aku merasa bahwa mereka yang kucurigai sebagai “orang kafir” justru yang paling tulus mencintaiku.
Keesokan harinya, aku memutuskan pulang.
Prosesnya tidak mudah. Aku menghubungi salah satu kerabat yang tinggal di kota lain tapi masih satu provinsi dengan kota tempat Rumah Qur’an berada. Singkat cerita, aku lalu didampingi pihak kepolisian untuk memastikan keselamatanku. Dalam perjalanan, aku tidak berhenti menatap langit, berpikir: bagaimana wajah Ibu ketika aku pulang nanti? Apakah ia akan memelukku sambil menangis? Ataukah hanya diam dan memandangku dengan kecewa?
Tapi kenyataan tidak seperti yang kubayangkan.
Aku pulang dengan hati luluh, tapi dunia menyambutku dengan tatapan curiga.
Keluarga besarku, tetangga, bahkan teman-teman sekolahku, semuanya punya cara sendiri untuk menghakimi.
Ada yang berbisik, “Kasihan, anak pintar tapi tersesat.”
Ada yang terang-terangan berkata, “Pintar tapi keblinger.”
Bahkan beberapa guru yang dulu membanggakanku mulai menjaga jarak.
Aku pikir rumah akan menjadi tempatku sembuh. Tapi ternyata, rumah juga bisa menjadi ruang paling sunyi.
Bukan karena tak ada cinta, tapi karena cinta itu telah berubah bentuk menjadi prasangka dan ketakutan.
Dan di titik itu, aku mulai ragu pada diriku sendiri.
Mungkin mereka di kelompok itu benar.
Mungkin memang hanya di sana aku diterima apa adanya.
Mungkin di luar sana, aku selamanya akan dilihat sebagai kesalahan yang berjalan.
Itulah saat di mana kebanyakan korban seperti aku, yang sudah sempat keluar - akhirnya kembali.
Bukan karena yakin dengan ajaran mereka, tapi karena dunia luar menolak untuk memahami.
***
Aku menulis ini bukan untuk membela masa laluku, tapi untuk mengingatkan: tidak ada yang lahir ingin tersesat.
Kami tersesat karena ada tangan-tangan yang dengan sabar menuntun ke arah yang salah.
Dan ketika akhirnya kami berbalik arah, dunia yang seharusnya menyambut, justru menutup pintu dengan tatapan yang sama tajamnya seperti para perekrut itu dulu.
Aku pulang. Tapi untuk waktu yang lama, aku tidak benar-benar kembali.[]
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar